Banghas

Kelewang di Tangan Ubit

950
×

Kelewang di Tangan Ubit

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Teuku Ubit dengan kelewang setelah menebas Tiggelman Controleur Belanda di Peukan Seulimeum (AI)

Seulimeum, 23 Februari 1942.
Angin malam menyapu pelan permukaan sawah yang lengang, membawa bisik-bisik perang yang belum benar-benar usai. Di sebuah rumah panggung tua, seorang pemuda berdiri memandangi kelewang di tangannya—tajam, berkilau diterpa cahaya bulan.

Namanya Teuku Ubit. Usianya baru enam belas. Tapi di matanya sudah tertanam nyala amarah yang tak bisa padam. Hari itu, ia menyaksikan rapat besar di meunasah, tempat Teungku A. Wahab Seulimeum berdiri dan menyampaikan titah: “Belanda telah menista martabat kita, saatnya bangkit, kita tak lagi bisa diam!”

Ubit mengangguk waktu itu. Diam-diam ia tahu bahwa bukan hanya para tokoh yang harus bertindak. Ia, yang hanya seorang remaja, juga punya bagian dalam sejarah.

Malam itu, ia menyusup ke rumah Controleur Belanda, Tiggelman. Langkahnya ringan, dadanya berdegup kencang. Tangannya menggenggam kelewang pemberian ayahnya—sebilah warisan dari ayahanda.

Di depan pintu, ia berdoa lirih, lalu mendorongnya pelan. Tiggelman terbangun, tapi terlambat. Dalam satu ayunan cepat, semuanya berakhir.

Esok harinya, berita itu menyebar cepat ke seluruh pelosok Aceh Besar. “Anak muda bersarung dari Seulimeum membunuh penjajah!” seru warga. Tidak ada nama disebut, hanya cerita tentang seorang pemuda berani.

Di balik heningnya, Ubit tersenyum kecil. Bukan pujian yang ia cari, tapi tanah yang bebas, tanpa penindasan.

Teuku Ubit tak pernah kembali ke rumah malam itu.
Usai menjatuhkan Tiggelman, ia lari ke arah timur, menyusuri kebun pala dan semak belukar. Suara lonceng darurat dari pos Belanda membelah malam, diikuti tembakan acak dan teriakan marsose.

Di kaki gunung Seulawah Agam, ia bersembunyi di sebuah gua kecil dekat mata air. Di sana, ia ditemani sunyi, dingin, dan mimpi-mimpi tentang negeri yang merdeka.

Hari keempat dalam pelarian, ia bertemu sekelompok pemuda yang telah lebih dulu menyingkir ke hutan yang juga dicari karena dianggap sebagai penggerak pemberontakan. Di antara mereka, Ubit bukan lagi sekadar remaja—ia disebut “Si Kelewang Senyap.”

“Berani itu bukan soal umur,” kata salah satu dari mereka. “Tapi soal hati yang tak sudi dijajah.”

Di Dayah Keunaloi tempat Ubit pernah belajar dan tak pernah lagi kembali. Teungku Syik hanya berkata pada para santri:

“Ubit bukan lagi santri. Dia telah naik derajat—menjadi syuhada sejarah.”

Akhirnya namanya sampai ke telinga penguasa Belanda di Kutaraja. Seorang anak dayah dari kampung kecil telah menodai kekuasaan mereka. Maka, sejak itu, nama Teuku Ubit dimasukkan dalam daftar buronan nomor satu. Tapi mereka tak pernah berhasil menangkapnya.

Ubit mulai jadi legenda di kalangan penduduk kampung. Namanya berbisik di mulut anak-anak yang bermain di pinggir sawah, dalam doa ibu-ibu di meunasah, dan di mimpi tentara Belanda yang tidur gelisah di barak.

Namun Ubit tahu, hidup dalam pelarian bukanlah akhir dari perlawanan. Suatu malam, ia berdiri menghadap Gunung Seulawah, lalu berkata pelan, “Suatu hari aku akan kembali ke Seulimeum. Tapi bukan sebagai buronan. Sebagai saksi, bahwa anak muda bisa mengubah sejarah.”

Dan malam itu, bintang bersinar lebih terang dari biasanya. (Hasnanda Putra)