Internasional

Kisah Gadis Kecil Irak Dipaksa Nikah Muda, Akhirnya Menjadi Pekerja Seks

991
×

Kisah Gadis Kecil Irak Dipaksa Nikah Muda, Akhirnya Menjadi Pekerja Seks

Sebarkan artikel ini
Seorang gadis kecil memegang spanduk ketika para aktivis berdemonstrasi menentang pernikahan anak perempuan di Lapangan Tahrir Bagdad, Irak. FOTO/AFP

posaceh.com, Baghdad – Seorang gadis kecil di Irak bernama Batta yang masih berusia 11 tahun dipaksa menikah oleh orang tuanya dengan pria berusia 36 tahun lebih tua darinya. Selama sembilan tahun menikah, dia menjadi korban pemukulan dan pemerkosaan, bahkan dijadikan budak seks sebelum diceraikan dan dikembalikan lagi ke keluarganya,

Saat ini, dia yang sudah berusia 20 tahun telah menjadi sebagai seorang pekerja seks komersial di Kota Erbil, Irak, seusai pindah ke sana dari Ibu Kota Bagdad. Batta mengatakan suaminya memperkosanya pada malam pernikahan mereka dan sering memukulinya sebelum mengembalikannya ke keluarganya tiga tahun setelah menikah.

Alih-alih memberikan simpati, mereka justru memperlakukannya sebagai paria, katanya. NBC News biasanya tidak mengidentifikasi korban pelecehan seksual, dan mereka sepakat untuk tidak menggunakan nama aslinya dan hanya menggunakan nama depan orang tuanya.

Sekarang dia khawatir gadis-gadis muda lainnya akan mengalami cobaan serupa jika anggota parlemen meloloskan usulan amandemen Undang-Undang Status Pribadi Irak yang memungkinkan pernikahan bagi anak perempuan berusia 9 tahun. Bahkan akan memberi wewenang penuh kepada otoritas agama untuk memutuskan urusan keluarga termasuk pernikahan, perceraian. dan perawatan anak-anak.

“Mengubah undang-undang akan memberikan hak kepada orang tua untuk menjual anak perempuan mereka,” kata Batta dalam sebuah wawancara telepon bulan lalu. “Saya tidak mau menyebutnya pernikahan, karena jika seorang anak perempuan menikah pada usia 9 atau 10 tahun, itu berarti keluarganya telah menjualnya,” ujarnya, seperti dikutip dari NBC News, Senin (16/12/2024).

Dia menambahkan hal itu juga memungkinkan laki-laki mapan untuk mengeksploitasi kemiskinan yang dialami banyak keluarga Irak. Batta mengungkapkan beberapa bulan setelah ayahnya, Hussein, mengataka kepadanya menariknya keluar dari kelas empat sekolah dasar karena tidak mampu menyekolahkannya sempat mendengar pertengkaran antara kedua orang tuanya.

Dia mengatakan ibunya, Hana’a (55) meneriakinya kata-kata dengan mengatakan: “Dia masih gadis kecil. Apakah kamu tidak takut Tuhan? Dia masih bermain dengan anak-anak; bagaimana dia bisa memikul tanggung jawab menjadi seorang istri? Dia bahkan tidak tahu cara memasak makanan apa pun; dia bahkan tidak tahu cara menggoreng telur.”

Ayahnya menjawab pria yang akan menikahinya seorang pria terhormat. “Ya, dia lebih tua darinya, tapi dia akan memperlakukannya dengan baik dan tidak akan memaksanya memasak. Laki-laki itu hanya ingin menikah,” kata Batta, sepertri dia mendengarnya berkata. “Dia akan menikah, terlepas kamu menerimanya atau tidak,” kata Batta meniru ucapan ayahnya kepada ibunya.

Batta berkata dia baru saja berusia 11 tahun ketika ayahnya meminta mandi dan mengenakan pakaian bagus. Setelah itu, katanya, dia membawanya ke pertemuan sekelompok pria, termasuk seorang ulama. “Saya kemudian mengetahui, salah satu dari mereka adalah pria yang akan menjadi suami saya, sedangkan dua lainnya menjadi saksi pernikahan tersebut,” ujarnya.

Belakangan, katanya, dia mengetahui ayahnya telah menerima 15 juta dinar Irak, atau sekitar $11.300, sekitar Rp 180,8 juta dari pria tersebut, yang sebagian digunakan untuk membeli taksi baru. “Saya juga mengetahui, suami saya berusia 47 tahun,” tambahnya.

“Pada malam pertama, malam saya kehilangan keperawanan, saya tidak tahu apa yang dilakukan pria ini. Saya merasakan sakit yang luar biasa, dan saya menangis saat dia berlutut di atas saya tanpa bisa menggerakkan tangan atau kaki saya,” ujarnya. “Aku ingin melupakan hari ini, meski aku tidak akan pernah melupakannya,” tambahnya.

Meskipun demikian, kata Batta, suaminya memperlakukan dirinya dengan baik pada tahun pertama pernikahan mereka, namun setelah satu tahun perilakunya terhadapnya berubah.

“Dia mulai memukuli saya atas apa pun yang saya lakukan, meskipun hanya menonton televisi; dia akan memukul saya dan mengatakan saya tidak punya hak untuk menonton TV,” katanya, seraya menambahkan bahkan para pelayan pun diperlakukan lebih baik daripada dirinya.

Ketika ayahnya meninggal karena sirosis dua tahun setelah pernikahan mereka, katanya, suaminya tidak mengizinkannya menghadiri pemakaman. Batta mengatakan pada Juli 2016, ketika baru berusia 14 tahun, dia membawanya ke ulama yang menikahkan mereka.

Setelah itu, katanya, dia membawanya kembali ke rumah keluarganya dan memberi tahu ibunya, “Ini putrimu, dan ini surat cerainya.”

“Ibu saya tidak pernah mengizinkan saya keluar rumah karena merasa malu dengan apa yang dipikirkan tetangga saya,” katanya. “Bahkan saudara-saudaraku tidak memperlakukanku dengan baik. Saya menjadi seperti pelayan di rumah, harus melayani semua orang,” ujarnya,

Pada usia 16 tahun, katanya, dia memutuskan melarikan diri dari rumah dan pergi ke Bagdad. Di sana, katanya, dia bertemu dengan seorang wanita di media sosial yang menawarinya tempat tinggal dan akhirnya mengetahui, dia mengelola sebuah rumah bordil. “Saya bekerja untuknya sekarang,” katanya.

“Saya pergi bersama gadis-gadis lain ke salah satu klub malam, menari di depan semua orang dan merayu laki-laki untuk mendapatkan uang sebanyak yang saya bisa dari mereka,” ujarnya lirih. Pada setiap akhir bulan, katanya, perempuan tersebut mendistribusikan seperempat dari jumlah total yang berhasil diperoleh selama sebulan penuh dan sisanya dianggap sebagai uang sewa dan makanan.”

Batta bukanlah satu-satunya anak di Irak yang menikah di usia muda. UNICEF melaporkan pada April 2023 bahwa 28% anak perempuan menikah sebelum usia resmi 18 tahun. Meskipun berdasarkan hukum Irak, anak perempuan berusia 15 tahun dapat menikah dengan persetujuan hakim dan orang tua mereka.(Muh/*)