Internasional

Muslim AS Pilih Donald Trump, Janjikan Pembantaian di Jalur Gaza Diakhiri

1009
×

Muslim AS Pilih Donald Trump, Janjikan Pembantaian di Jalur Gaza Diakhiri

Sebarkan artikel ini
Calon presiden AS Donald Trump dari Partai Repubik (kiri) dan calon presiden Kamala Harris dari Partai Demokrat. FOTO/AFP

posaceh,com, Jakarta – Puluhan juta Muslim di Amerika Serikat (AS) ternyata lebih memilih calon presiden Donald Trump dari Partai Repubik dibandingkan calon presiden Kamala Harris dari Partai Demokrat.

Kemenangan Trump, salah satu suara dari Muslim AS dalam pemilu AS 2024 pada 5 November 2024. Bahkan diakui sendiri oleh Trump dalam pidato deklarasi kemenangannya.
Dia menyebut kelompok Muslim merupakan salah satu pihak yang mendukungnya hingga kembali menang sebagai presiden ke-47 AS.

“Mereka datang dari seluruh penjuru, serikat, non-serikat, Afrika Amerika, Hispanik Amerika, Asia Amerika, Arab Amerika, Muslim Amerika,” ujarnya. “Kami memiliki semua orang dan dan itu indah,” katanya, seperti dilansir CNBC, Jumat (8/11/2024).

Sementara itu, merujuk laporan kantor berita Turki, Anadolu Agency, Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) bereaksi atas kemenangan Trump. Direktur Eksekutif Nasional kelompok itu, Nihad Awad mengatakan Trump berjanji mengakhiri pertumpahan darah dan pembantaian di Jalur Gaza, Palestina.

Dia bahkan mengutuk kebijakan mantan Presiden AS yang mendatangkan malapetaka di dunia Muslim, seperti George Bush dan Wakil Presidennya Dick Cheney.

“Penting bagi Presiden Terpilih Trump untuk sekarang mengakui, sebagian besar orang Amerika, termasuk Muslim Amerika yang mendukungnya, tidak ingin melihat lebih banyak kefanatikan di dalam negeri atau lebih banyak perang di luar negeri,” tegasnya.

Awad pun meminta agar Trump benar-benar mengakomodir kepentingan warga muslim ini. Dia mendesak Trump benar-benar mengedepankan perdamaian dunia dalam kebijakan luar negeri Washington nantinya.

“Ke depannya, kami berharap semua pejabat terpilih untuk benar-benar menanggapi masalah mendesak para pemilih Muslim. Ini termasuk Presiden Terpilih Trump,” tambahnya.

Awad kemudian mengalamatkan pernyataanya kepada Partai Demokrat yang menjadi kendaraan lawan Trump, Kamala Harris. Menurutnya, kekalahan Kamala terjadi karena sikap Gedung Putih, yang saat ini dikuasai Partai Demokrat, atas kekerasan di Jalur Gaza

“Presiden terpilih harus memenuhi janji kampanyenya untuk mengejar perdamaian di luar negeri, termasuk dengan mengakhiri perang di Gaza,” ujarnya lagi. “Namun, ini harus menjadi perdamaian sejati yang didasarkan pada keadilan, kebebasan, dan negara bagi rakyat Palestina,” jelasnya.

Sementara itu, mengutip Al-Jazeera yang merujuk Fox News, aktivis Arab di Dearborn, Michigan, Muslim Amerika menjelaskan Kamala mengabaikan seruan kelompok itu untuk mempertimbangkan kembali dukungan tanpa syarat terhadap Israel.

Merujuk Associated Press (AP), Michigan, satu satu negara bagian yang memiliki banyak warga Muslim, dan menjadi negara penentu kemenangan pemilu AS, swing states. “Genosida adalah politik yang buruk,” kata salah satu aktivis.

Kamala, menurutnya, terus menegaskan apa yang disebutnya sebagai “hak Israel untuk mempertahankan diri”. Padahal terjadi kekejaman brutal di Gaza dan Lebanon.

“Salah satu alasan Harris kalah, keputusannya memihak ke Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dengan mengorbankan basis Demokrat, Arab dan Muslim Amerika serta kaum muda dan kaum progresif,” tambah aktivis Adam Abusalah.

“Itu bukan salah kami. Mereka tidak bisa menjelek-jelekkan komunitas kami,” ujarnya lagi.

Seorang konsultan politik Amerika keturunan Lebanon di wilayah Detroit, Hussein mengaku sebenarnya tak mengetahui apa arti kepresidenan Trump bagi warga Arab dan Muslim Amerika serta negara secara keseluruhan. Namun dia berharap sesuatu yang baik.

“Saya harap itu sesuatu yang baik. Saya berharap negara ini bisa bersatu. Saya berharap Partai Demokrat sadar,” kata Dabajeh.

Sebelumnya, Trump secara resmi telah menyatakan dirinya unggul sebagai pemenang dalam kontestasi pilpres Amerika Serikat (AS). Calon Partai Republik itu menang setelah melewati ambang batas electoral college 270 suara mengalahkan pesaingnya dari Partai Demokrat, Kamala.

Hingga berita ini diturunkan Trump sudah mengantongi 295 suara elektoral. Sementara Kamala hanya 226. Trump juga menang di popular vote. Diirinya mengantongi 73.523.637 suara (50,92%). Sedangkan Kamala hanya 68.683.845 suara (47,57%).(Muh/*)