posaceh.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Mei 2026 sebesar 0,28% secara bulanan atau month to month (mtm).
Adapun, inflasi tahun kalender mencapai 1,35% (ytd) dan inflasi tahunannya mencapai 3,08% (yoy).
Laju inflasi secara tahunan ini meningkat dibandingkan 2,42% pada bulan sebelumnya dan jauh lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu, Mei 2025, yang mencapai 1,6%.
Peningkatan laju membuktikan adanya tekanan inflasi barang impor akibat pelemahan nilai tukar. Buktinya, Indeks Harga Impor (IHM) umum yang mengalami kenaikan sebesar 9,97%, dari 111,31 pada kuartal I-2025 menjadi 122,41.
Indeks Harga Impor kelompok migas pada kuartal I-2026 mengalami kenaikan sebesar 3,08%, dari 97,62 pada kuartal I-2025 menjadi 93,91. Kelompok nonmigas pada kuartal I-2026 juga mengalami kenaikan sebesar 12,61%, dari 114,40 menjadi 128,83.
Lima golongan barang yang mengalami kenaikan harga impor tertinggi atau inflasi tertinggi (yoy) a.l. logam mulai, emas dan perhiasan (80,72%); garam (56,10%); instrumen optik, fotografi, sinematografi, dan medis (29.73%); perabotan dan lampu (28,25%); dan daging hewan (27,45%).
Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman mengingatkan tekanan inflasi kemungkinan akan meningkat di tengah ketegangan geopolitik yang terus-menerus di Timur Tengah.
“Perkembangan tersebut dapat melemahkan stabilitas Rupiah, meningkatkan risiko inflasi impor,” ujarnya, dikutip Rabu (3/6/2026).
Pada saat yang sama, dia mengungkapkan harga minyak global yang lebih tinggi dapat meningkatkan beban subsidi energi pemerintah, yang berpotensi menekan keseimbangan fiskal dan akhirnya menyebabkan inflasi harga yang diatur pemerintah lebih tinggi.
Selain itu, inflasi sisi penawaran saat ini telah melebihi inflasi sisi permintaan, menunjukkan peningkatan risiko penerusan inflasi dari produsen ke konsumen karena biaya input, khususnya input impor, terus meningkat.
Di dalam negeri, Faisal menilai kebijakan fiskal ekspansif pemerintah dapat meningkatkan jumlah uang beredar (M2), yang berpotensi
“Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang berlangsung juga diperkirakan akan memperkuat permintaan pangan, menimbulkan risiko kenaikan inflasi yang bergejolak jika tidak disertai dengan peningkatan yang cukup dalam produksi pangan dan ketahanan rantai pasokan,” paparnya.
Selain itu, dia mengungkapkan potensi munculnya El Niño “Godzilla” perlu dipantau secara cermat, karena dapat mengganggu produksi pertanian, menaikkan harga pangan, dan memberikan tekanan lebih lanjut pada inflasi.
Meskipun demikian, Faisal melihat tekanan inflasi ini mungkin sebagian diimbangi oleh kesenjangan output negatif Indonesia, yang menunjukkan permintaan agregat yang relatif lemah dan kemungkinan inflasi tarikan permintaan yang signifikan lebih rendah.(Muh/*)











