Nasional

Waskita Percepat Sekolah Rakyat Aceh, 1.000 Pekerja Dikerahkan Kerja 24 Jam

23
FOTO/dok.Waskita Karya

posaceh.com, Jakarta – Progres pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di Kota Subulussalam, Aceh, telah mencapai 30,83 persen. Sebagai kontraktor, PT Waskita Karya (Persero) Tbk menegaskan komitmennya untuk mempercepat pengerjaan agar fasilitas pendidikan tersebut dapat segera dimanfaatkan.

Penyelesaian proyek ini sejalan dengan arahan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang menargetkan seluruh pembangunan Sekolah Rakyat Tahap II rampung dan siap digunakan pada tahun ajaran baru Juli mendatang.

Corporate Secretary Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita, menyampaikan bahwa pengerjaan proyek terus dikebut oleh ribuan pekerja. Proyek yang berdiri di atas lahan seluas 60.519 meter persegi itu mencakup pembangunan gedung SMA, SMP, SD, asrama, hingga fasilitas olahraga.

“Hampir 1.000 pekerja Waskita di lapangan bekerja 24 jam bergantian untuk menyelesaikan Sekolah Rakyat Aceh termasuk di Subulussalam. Kami akan terus meningkatkan jumlah pekerja menjadi 1.200 atau menembus 1.500 pada puncaknya,” kata Ermy, dalam keterangannya, Rabu (6/5/2026).

Di tengah upaya percepatan, Waskita tetap mengedepankan aspek keselamatan kerja. Hingga saat ini, total jam kerja aman atau tanpa kecelakaan tercatat mencapai 412.156 jam.

“Pekerjaan ini menjadi bagian dari kontribusi kami dalam menyukseskan Program Prioritas Pemerintah yang bertujuan memperluas akses pendidikan dan menghapus kemiskinan. Maka setiap detail tahapan sangat diperhatikan,” tutur Ermy.

Meski menghadapi sejumlah tantangan seperti cuaca hujan, keterbatasan material, serta akses menuju lokasi proyek, Waskita tetap optimistis pembangunan dapat rampung tepat waktu.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, perusahaan menerapkan berbagai strategi percepatan, antara lain perubahan sistem struktur pelat lantai, penambahan alat berat, penggunaan fondasi foot plate, hingga optimalisasi distribusi material dengan alat berukuran lebih kecil. Selain itu, penambahan batching plant juga dilakukan untuk mengatasi keterbatasan pasokan beton.

Dari sisi desain, Sekolah Rakyat Subulussalam dirancang dengan mengusung konsep green building yang mengedepankan efisiensi energi, kearifan lokal, keamanan terhadap bencana, serta kenyamanan dan fleksibilitas ruang.

“Pengerjaan Sekolah Rakyat Aceh mempertimbangkan faktor-faktor seperti keberlanjutan serta kemampuan beradaptasi untuk memastikan gedung nyaman dan aman digunakan. Dengan begitu dapat mendorong kegiatan belajar dan mengajar secara lebih maksimal,” tuturnya.

Waskita juga mengintegrasikan teknologi dalam pembangunan guna mendukung metode pembelajaran yang lebih inovatif.

“Kami akan terus mengawal pembangunan Sekolah Rakyat, utamanya yang ditugaskan kepada Waskita Karya. Koordinasi dan pengawasan di lapangan juga terus diperkuat guna menjaga kualitas pekerjaan,” katanya.

“Tetap utamakan kualitas dalam pembangunannya. Baik dari segi material maupun struktur bangunannya, karena sekolah ini harus bisa bertahan untuk dimanfaatkan minimal selama 20 tahun,” tegas Dody.

Sebagai informasi, pada awal 2026 Waskita Karya dipercaya mengerjakan proyek Sekolah Rakyat di Aceh yang tersebar di dua wilayah, yakni Kabupaten Nagan Raya dan Kota Subulussalam.(Muh/*)

Exit mobile version