Daerah

Warga Bener Meriah Aceh Begadang 4 Hari, Giring Gajah Keluar Permukiman

14
×

Warga Bener Meriah Aceh Begadang 4 Hari, Giring Gajah Keluar Permukiman

Sebarkan artikel ini
Sejumlah personel dari Tim Penanggulangan Gajah Liar (TPGL), WWF dan BKSDA melakukan mitigasi gajah sumatera di Desa Blang Rakal, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kamis (5/11/2026).FOTO/KOMPAS.Com/ Ketua TPGL Blang Rakal, Nurcholis

posaceh.com, Redelong – Warga Blang Rakal, Bener Meriah, harus rela begadang penggiringan gajah liar agar tidak masuk ke pemukiman maupun perkebunan warga.

Hal itu disampaikan Nurcholis, Ketua Tim Penanggulangan Gajah Liar (TPGL), Kampung Blang Rakal, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah, Jumat (6/11/2026) dini hari.

Ia mengaku masih sedang melakukan penggiringan gajah keluar pemukiman dan perkebunan warga di Kampung Blang Rakal selama empat malam berturut-turut.

“Kami sudah 4 malam melakukan penggiringan, dimulai dari sore hari,” kata Nurcholis, kepada Kompas.com, melalui telepon whatsApp.

Ia menjelaskan, gajah sudah berada di kawasan itu selama tiga bulan berturut-turut, peristiwa yang tidak pernah terjadi di desa tersebut.

“Di Dusun jalung itu ada sekitar 7 ekor, gak pernah pergi-pergi udah tiga bulan, sekarang tinggal 1 atau 2 ekor,” ucap Nurcholis.

Ia menyebut, hingga kamis malam, terdapat 3 ekor gajah yang sudah dekat dengan pemukiman warga, sehingga 8 personel TPPL Blang Dakal, 2 staf World Wide Fund for Nature (WWF) dan 5 personel Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), turun melakukan mitigasi. Pihaknya rela begadang untuk melakukan penggiringan.

“Ada 3 ekor malam ini disebelah rumah warga, juga masuk perkebunan kopi, alhamdulillah begitu dapat laporan dari warga, kami berhasil giring gajah menjauh dari pemukiman,” sebut dia.

Musim hujan yang masih melanda kawasan itu, ditambah minumnya dukungan pemerintah daerah saat proses penggiringan, menjadi kendala tersendiri bagi tim penggiring gajah.

“Tadi sore kami bergerak jam 3, sampai sekarang kami masih dilapangan. Kendala kami minimnya support pemerintah daerah seperti untuk konsumsi, seperti dapur umum maupun perlengkapan lainnya,” sebut Nurcholis.

Sementara ini lanjut dia, tenda dan konsumsi hanya disediakan bagi pengungsi di tenda darurat yang berada di depan Kantor Camat Blang Rakal, tetapi tidak untuk tim yang melakukan penggiringan.

“Ya seperti malam ini, makan kami persiapkan sendiri. Kalau mercun sudah ada, drone dari WWF untuk mengetahui posisi pergerakan gajah,” terang Nurcholis.

Selain itu, penggiringan dilakukan agar tidak menambah rumah maupun perkebunan warga yang rusak, termasuk menghindari korban jiwa.

Gajah ke Pemukiman Warga karena Sawit Nurcholis menduga, gajah mulai masuk perkebunan dan pemukiman warga Blang Rakal, karena terdapat kebun sawit milik perusahaan yang dipagari pagar kejut berarus listrik dan barier atau parit yang menyebabkan gajah tidak dapat masuk ke perkebunan sawit.

“Kami mau giring, tetapi sudah ada parit, sudah ada pagar kawat kejut, sehingga kawanan gajah ini tidak bisa lagi masuk, padahal itu kan jalurnya. Kami kawatir gajah itu balik lagi ke kebun dan pemukiman,” pungkas Nurcholis.(Muh/*)