posaceh.com, Banda Aceh — Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh melalui Dinas Pendidikan Dayah Kota Banda Aceh menggelar Pelatihan Pembinaan Majelis Taklim Perempuan di Hotel Kumala, Banda Aceh, Jumat (21/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat kapasitas pengurus majelis taklim sekaligus mendorong perempuan mengambil peran lebih besar dalam membangun keluarga dan masyarakat.
Pelatihan Pembinaan Majelis Taklim Perempuan secara resmi dibuka oleh Wali Kota Banda Aceh , Illiza Sa’aduddin Djamal, SE, dengan mengajak seluruh peserta membaca basmalah secara bersama.
Pada kesempatan itu, Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang diinisiasi Anggota DPRK Banda Aceh, Tuanku Muhammad, S.Pd.I., M.Ag., dan dilaksanakan berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Pendidikan Dayah.

Menurut Illiza, keberadaan majelis taklim tidak hanya menjadi tempat berkumpul dan mengikuti pengajian, tetapi harus mampu melahirkan perubahan nyata dalam kehidupan jamaah.
“Jangan sampai kita datang ke majelis taklim hanya karena seragam, karena berkumpul, atau karena hal-hal lainnya. Kita hadir karena Allah. Ketika keluar dari majelis, harus ada perubahan dalam diri kita,” kata Illiza.
Ia mengingat kembali perkembangan majelis taklim perempuan di Banda Aceh yang semakin tumbuh setelah masa pascatsunami. Menurutnya, semangat tersebut harus terus dijaga dan diarahkan menjadi gerakan dakwah yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Illiza menegaskan, perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun ketahanan keluarga dan masa depan generasi.
“Perempuan itu merupakan tiang negara. Kalau perempuan baik, maka baiklah negara. Kalau perempuan baik, maka baiklah kota,” ujarnya.
Ia menyebutkan, berdasarkan data terbaru, jumlah penduduk perempuan di Banda Aceh mencapai sekitar 50,12 persen atau 136.094 jiwa dari total 271.542 penduduk. Besarnya jumlah tersebut, kata Illiza, menunjukkan betapa pentingnya penguatan kapasitas perempuan melalui pendidikan agama dan majelis ilmu.
“Ketika perempuan berilmu dan menjadi seorang ibu, maka dari keluarga itu akan lahir generasi yang saleh dan salihah. Karena itu, kualitas perempuan harus terus diperkuat,” katanya.
Illiza juga mengingatkan bahwa pendidikan agama kepada anak bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu, tetapi juga ayah. Ia menilai peran orang tua dalam mengenalkan anak kepada Allah, membimbing ibadah, serta membentuk akhlak harus dilakukan secara bersama-sama.

“Untuk memperkenalkan Allah kepada anak bukan tugas ibunya saja, tetapi juga tugas ayahnya. Ayah dan ibu harus sama-sama mengambil peran dalam membentuk anak,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Illiza juga mendorong para pengurus majelis taklim mengikuti perkembangan zaman dalam berdakwah. Menurutnya, pola dakwah tidak bisa hanya mengandalkan pertemuan tatap muka, tetapi juga harus memanfaatkan media sosial sebagai sarana memperluas jangkauan pesan-pesan keislaman.
“Media dakwah sekarang sangat luas. Majelis taklim harus aktif mengelola media sosial. Penggalan-penggalan ceramah yang disampaikan di majelis bisa dibagikan kembali kepada masyarakat. Dengan begitu, meskipun seseorang tidak hadir secara langsung, dia tetap bisa mendapatkan pesan kebaikan,” jelasnya.
Ia menyebutkan, pengelolaan media sosial yang baik dapat menjadi bagian dari strategi memperbanyak jamaah sekaligus memperluas syiar Islam.
“Bayangkan kita bisa terus mengalirkan pahala ketika pesan-pesan kebaikan yang disampaikan itu terus dibagikan dan memberikan manfaat kepada orang lain,” katanya.
Selain penguatan dakwah, Illiza menekankan pentingnya majelis taklim menjadi ruang untuk memperkuat ketahanan keluarga. Menurutnya, keluarga yang kuat merupakan salah satu benteng utama menghadapi berbagai tantangan sosial di tengah perkembangan zaman.
“Kita jangan berpikir hanya keluarga kita yang harus saleh dan salihah. Hari ini kita juga dipengaruhi oleh lingkungan dan kelompok-kelompok yang aktif. Karena itu, yang harus kita perkuat adalah ketahanan keluarga,” ujarnya.

Ia mengajak para jamaah menjadikan ilmu yang diperoleh di majelis taklim sebagai bekal untuk memperbaiki hubungan dengan pasangan, mendidik anak, memperbaiki akhlak, serta membangun lingkungan yang lebih baik.
“Kalau kita pergi belajar dan mendapatkan ilmu, yang pertama merasakan manfaatnya adalah keluarga kita. Kalau setelah mengikuti majelis taklim kehidupan kita masih biasa-biasa saja, maka kita perlu kembali bermuhasabah,” katanya.
Illiza juga mengajak peserta untuk terus melakukan introspeksi diri dan mempersiapkan bekal akhirat. Menurutnya, majelis taklim harus menjadi tempat untuk meningkatkan kualitas diri, bukan sekadar rutinitas pertemuan.
“Majelis taklim ini adalah tempat kita bermuhasabah, memperbaiki kualitas diri terus-menerus. Kita tidak tahu kapan ajal menjemput. Karena itu, orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengingat kematian dan mempersiapkan dirinya,” tutur Illiza.

Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan utama dalam berdakwah maupun menjalankan aktivitas sosial.
“Yang kita cari adalah keberkahan dunia dan akhirat serta keridhaan Allah. Tidak perlu mengejar popularitas. Yang penting apa yang kita lakukan bermanfaat dan Allah ridha,” katanya.
Menurut Illiza, persahabatan yang terbangun melalui majelis ilmu juga memiliki nilai penting. Ia berharap para jamaah dapat saling mengingatkan dalam kebaikan dan menjadi lingkungan yang mendukung peningkatan iman.
“Datang ke sini karena Allah, bersahabat karena Allah, semua akan menjadi indah. Jadikan majelis ini tempat untuk saling menguatkan dan membawa kita kepada jalan Allah,” ujarnya.
Illiza berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pelatihan semata, tetapi benar-benar melahirkan perubahan dalam diri para peserta.
“Harapannya akan memberikan dampak dan manfaat. Perempuan-perempuan yang datang ke majelis taklim ini harus ada perubahan pada dirinya. Bukan hanya duduk berkumpul, tetapi mendapatkan hidayah dan mampu menerapkan ilmu itu secara istiqamah dalam kehidupan,” harapnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan Dayah Kota Banda Aceh, Said Fauzan, S.STP., MA, dalam laporannya menyampaikan kegiatan tersebut dilaksanakan berdasarkan Peraturan Wali Kota Banda Aceh Nomor 3 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Hayat serta Peraturan Wali Kota Banda Aceh Nomor 9 Tahun 2019 tentang Standarisasi Taman Pendidikan Al-Qur’an dan Balai Pengajian di Kota Banda Aceh.

Ia menjelaskan, pelatihan bertujuan memantapkan kompetensi ibu-ibu majelis taklim, khususnya dalam pembinaan pola asuh dan pendidikan anak guna mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
Selain itu, peserta diberikan wawasan mengenai pembinaan iman, penguatan akidah, akhlak dan pengamalan keislaman, serta penguatan kemampuan public speaking dan pemahaman terhadap keberadaan serta peran strategis majelis taklim.
“Peserta pelatihan berjumlah 70 orang yang berasal dari 20 majelis taklim dari sekitar 90 majelis taklim yang ada di Kota Banda Aceh. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari di Hotel Kumala,” ujar Said Fauzan.
Ia menyebutkan, kegiatan tersebut didukung melalui DPK Kota Banda Aceh serta dukungan Anggota DPRK Banda Aceh, Tuanku Muhammad, sehingga dapat terlaksana.
Anggota DPRK Banda Aceh, Tuanku Muhammad, S.Pd.I., M.Ag., sebagai penggagas kegiatan, turut menyampaikan pentingnya penguatan kapasitas pengurus majelis taklim agar keberadaannya semakin memberikan dampak bagi masyarakat.
Disamping itu, Anggota DPRK Banda Aceh, Tuanku Muhammad, S.Pd.I., M.Ag., mengatakan kegiatan tersebut digagas sebagai bentuk perhatian terhadap keberadaan majelis taklim perempuan yang dinilai memiliki peran penting dalam membangun keluarga dan masyarakat.
“Kita ingin majelis taklim tidak hanya menjadi tempat berkumpul dan belajar, tetapi juga menjadi ruang untuk meningkatkan kapasitas pengurus, memperkuat pola asuh, kemampuan berbicara di depan publik, serta memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah,” ujar Tuanku.
Ia berharap pembinaan tersebut dapat memperkuat sinergi antara majelis taklim dan Pemerintah Kota Banda Aceh sehingga gerakan dakwah dan pendidikan keislaman dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
“Kita berharap setelah mengikuti kegiatan ini, ibu-ibu pengurus majelis taklim bisa membawa ilmu yang didapat kembali ke majelis masing-masing dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi jamaah serta keluarga,” katanya.
Pelatihan tersebut diisi dengan berbagai materi, antara lain penguatan manajemen majelis taklim, pola asuh keluarga, pembinaan akidah dan akhlak, public speaking, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana dakwah.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua MPU Kota Banda Aceh Tgk. H. Syibral Malasyi, perwakilan DSI Kota Banda Aceh Wirzaini Usman, S.HI., M.I.Kom., serta sejumlah tamu undangan lainnya.(Rinaldi)











