posaceh, Wellington – Sekelompok anak muda Selandia Baru menjadi sukarelawan uji coba vaksin China generasi kedua buatan Jiangsu Rec-Biotechnology
Sekitar 25 anak muda Selandia Baru disuntik vaksin ReCov pekan ini sebagai bagian dari proses uji klinis bekerja sama dengan Penelitian Klinis Selandia Baru yang berbasis di Auckland dan Christchurch.
Uji coba ini menargetkan 100 orang akan diberi vaksin ReCov hingga September. Jika uji coba ini sukses maka uji klinis lebih banyak akan melibatkan ribuan sukarelawan di Selandia Baru.
Vaksin ini akan diuji kepada kalangan muda dan mereka yang berusia di atas 55 tahun.
“Kami sudah menyuntik sejumlah orang dan mencermati respons yang muncul dan sejauh ini tidak ada masalah dan kami tidak mengharapkan ada masalah, tapi kami sangat hati-hati menjalankan protokol ini,” kata dia, seperti dilansir laman South China Morning Post, Kamis (24/6/2021).
“Kami sudah menyuntik sejumlah orang dan mencermati respons yang muncul dan sejauh ini tidak ada masalah dan kami tidak mengharapkan ada masalah, tapi kami sangat hati-hati menjalankan protokol ini,” kata dia, seperti dilansir laman South China Morning Post, Kamis (24/6/2021).
Wynne menuturkan Selandia Baru dinilai sebagai tempat yang tepat untuk menjalankan uji coba ini karena negara ini memiliki sistem kesehatan yang cukup baik, masyarakat yang patuh dan bisa memberikan kualitas data penelitian yang tinggi bagi industri farmasi. Selandia Baru juga dinilai sebagai negara yang risikonya rendah karena tidak ada kasus Covid-19 di tengah masyarakat dan masih banyak warga yang belum divaksin.
“Saya cukup berharap setelah dari data hewan, vaksin ini tampaknya cukup berhasil. Jadi di sini kita akan ada 100 sukarelawan yang akan divaksin.”
Perusahaan China lain juga kini tengah menggelar uji coba di Australia tapi ini pertama kalinya vaksin China diuji di Selandia Baru.
Penelitian Klinis Selandia Baru kini masih membuka pendaftaran bagi sukarelawan untuk penelitian vaksin ReCov dan tiap orang akan diberi kompensasi sebasar USD 2.110 atau Rp 30 juta.
Sumber: merdeka.com











