News

TPA Yogyakarta Aceh Gelar Maulid Nabi di Perantauan

560
×

TPA Yogyakarta Aceh Gelar Maulid Nabi di Perantauan

Sebarkan artikel ini
Suasana peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar oleh Mahasiswa dan masyarakat Aceh yang tergabung dalam TPA Yogyakarta, di Bale Gadeng Yogyakarta, Sabtu (25/10/2025). FOTO/ DOK MEDIA POS ACEH

posaceh.com, Yogyakarta — Mahasiswa dan masyarakat Aceh yang tergabung dalam Taman Pelajar Aceh (TPA) Yogyakarta sukses menyelenggarakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan penuh khidmat dan kekeluargaan, di Bale Gadeng Yogyakarta, Sabtu (25/10/2025).

Ketua Panitia, Dani Pratama mengatakan, perayaan Maulid bukan hanya seremonial tahunan, melainkan ruang untuk meneguhkan persaudaraan antar sesama mahasiswa Aceh.
“Maulid ini adalah perekat silaturahmi. Di rantau, kita membutuhkan tempat untuk saling menguatkan, saling mengenal, dan saling menjaga. Semangat kita sederhana: bersatu, kompak, dan saling peduli satu sama lain,” ujarnya.

*Tradisi yang Tetap Hidup di Bale Gadeng

Bale Gadeng kembali menjadi lokasi inti perayaan karena dianggap sebagai simbol persatuan masyarakat Aceh di Yogyakarta. Selain strategis, tempat ini juga telah menjadi saksi perjalanan tradisi Maulid yang diyakini sudah berlangsung sejak era 1980-an.

Ketua Umum TPA Yogyakarta, Muhammad Mufariq Muchlis menegaskan, Maulid adalah tradisi yang harus terus dijaga oleh generasi Aceh di perantauan.
“Sejak dulu Bale Gadeng menjadi rumah kita di rantau. Maulid ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi identitas sosial yang mengikat kita sebagai satu keluarga di Yogyakarta,” tuturnya.

Mufariq juga menambahkan bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda organisasi.
“Tahun ini kepanitiaan banyak diisi angkatan 2024 dan 2025. Ini bagian dari regenerasi. Kita ingin anak-anak muda diberi panggung, diberi pengalaman, dan dibimbing agar siap memimpin,” katanya.

*Teladan Rasul dan Persatuan sebagai Fondasi

Perayaan Maulid turut diisi dengan tausiyah oleh Tgk. Abdullah Razali, M.A, yang menyampaikan pesan tentang pentingnya meneladani akhlak Nabi dalam kehidupan sosial, terutama bagi mahasiswa yang hidup di perantauan.

“Rasulullah SAW adalah teladan dalam kasih sayang, ukhuwah, dan persatuan. Di rantau, nilai-nilai ini menjadi penopang agar kita tidak terpecah dan tidak saling menjauh,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kebersamaan adalah kekuatan utama bagi mahasiswa Aceh di luar daerah.
“Siapa yang dekat dengan saudaranya, maka ringan hidupnya. Selama kita saling membutuhkan dan saling menopang, insyaAllah semua tantangan di rantau akan terasa lebih ringan,” imbuh Tgk. Abdullah.

Harapan untuk Terus Solid dan Meudiam Tetap

Mengakhiri rangkaian kegiatan, seluruh peserta turut bersantap bersama dengan kuah beulangong sebagai ciri khas perayaan Maulid Aceh. Tradisi makan bersama itu menjadi simbol penyatu rasa, mempertebal keakraban, dan menumbuhkan suasana kekeluargaan.

Lebih lanjut, Ketua Panitia Dani Pratama berharap agar kebersamaan yang terbangun melalui momentum Maulid dapat terus terjaga.

“Kita mungkin jauh dari Aceh, tapi dengan kebersamaan seperti ini kita tetap merasa pulang. Semoga Maulid menjadi penyejuk hati, memperkuat persaudaraan, dan mencegah siapa pun merasa sendiri di perantauan,” pungkasnya.(Why/*)