posaceh.com, Banda Aceh – Timnas Indonesia menelan kekalahan menyakitkan dalam laga perdana Grup B babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan tuan rumah Arab Saudi. Skor tipis 2-3 memang kelihatan ketat, tapi rasanya tetap menyesakkan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Yang menarik bukan cuma hasilnya, tapi suasana setelah pertandingan di jagat maya. Biasanya, kalau Timnas main buruk, lini masa langsung ramai oleh para “pengamat sepakbola” dadakan, mulai dari komentator di TV sampai yang nongkrong di kolom komentar.
Tapi kali ini? Sepi. Hening. Seperti stadion kosong. Hanya beberapa yang menyuarakan kekecewaan atas skuad yang diturunkan, termasuk Marselino Ferdinan yang sempat menjebol gawang Arab Saudi tidak dipanggil.
Bahkan, palang pintu tangguh Timnas, Rizky Ridho harus duduk di bangku cadangan sampai laga berakhir. Pola pergantian pemain juga disorot sejumlah media, tetapi tidak da komentar dari pengamat sepakbola nasional.
Syahrulnur M Syarif, salah seorang pengamat olahraga di Banda Aceh, Kamis (9/10/2025) menyatakan pada era Shin Tae-yong (STY), kritik datang bertubi-tubi. Seperti disebut strateginya parkir bus lah, pemainnya nggak cocok lah, dan segala macam teori keluar.
Tetapi, katanya, sekarang, ketika tim benar-benar butuh analisis objektif, banyak yang malah diam seribu bahasa. Bagusnya, di masa STY justru permainan Timnas lumayan rapi dan berkembang. Tapi kritiknya deras luar biasa.
Sekarang, ketika performa menurun, malah tidak ada yang mau bersuara dan kondisi ini, tentunya sangat ironis. Dia menyatakan kalau pengamat sepakbola betul-betul cinta dengan kemajuan Timnas, mestinya bukan hanya muncul saat ramai-ramai menyalahin pelatih.
Ditambahkan, justru sekaranglah waktunya bicara bukan menghujat, tapi memberi pandangan yang membangun, karena dengan diam juga tidak akan membuat sepakbola Indonesia maju.
Jadi, kemana para pengamat sepakbola itu sekarang? Jangan-jangan, mereka juga ikut “parkir bus”.(Muh)











