Ekbis

The King Off, Parfum Khas Aceh yang Memadukan Rempah dan Nilai Budaya

16
×

The King Off, Parfum Khas Aceh yang Memadukan Rempah dan Nilai Budaya

Sebarkan artikel ini
Pendiri Parfum Kerajaan Aceh, Rizki Ramadhan. FOTO/ DOK MPA

posaceh.com, Banda Aceh – Parfum Kerajaan Aceh, yang juga dikenal dengan nama The King Off, semakin menarik perhatian pecinta wewangian, baik di dalam maupun luar negeri. Parfum tradisional khas Aceh ini mengusung kearifan lokal dengan memanfaatkan bahan-bahan alami seperti bunga, rempah-rempah, dan kayu beraroma khas.

Aceh sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan rempah dunia. Pedagang dari Arab, Persia, India, hingga Tiongkok pernah singgah ke Tanah Rencong dengan membawa komoditas seperti gaharu, cendana, dan kapur barus. Berbagai bahan tersebut kemudian menjadi inspirasi sekaligus komponen penting dalam racikan parfum khas Aceh.

Pendiri Parfum Kerajaan Aceh, Rizki Ramadhan, mengatakan bahwa produk yang dirintis sejak 2020 itu tidak hanya menawarkan keharuman, tetapi juga menjadi media untuk melestarikan budaya Aceh. Promosi produk dilakukan melalui akun Instagram @kerajaanacehparfume.

“Melalui parfum, kami ingin mengangkat nilai dan sejarah Aceh. Logo produk pun terinspirasi dari ikon budaya, seperti pintu Aceh yang melambangkan Masjid Raya Baiturrahman, Gunongan Aceh sebagai simbol sejarah, hingga kupiah meukutop sebagai warisan tradisi,” ujar Rizki, kepada media ini, di Banda Aceh, Jumat (17/7/2026).

Parfum Kerajaan Aceh diracik menggunakan metode tradisional yang diwariskan secara turun-temurun melalui proses penyulingan, pencampuran, dan fermentasi. Bahan-bahan yang digunakan antara lain bunga cempaka, melati, kayu gaharu, kopi, cengkeh, dan kayu manis. Perpaduan bahan tersebut menghasilkan aroma yang khas, kuat, dan tahan lama.

Saat ini, Parfum Kerajaan Aceh tersedia dalam berbagai varian, di antaranya Seulanga, Jeumpa, Coffee, Sanger Espresso, dan Sultan Muda. Produk ini tidak hanya diminati masyarakat Aceh, tetapi juga menjadi salah satu oleh-oleh yang banyak dicari wisatawan.

Selain dipasarkan kepada masyarakat umum, Parfum Kerajaan Aceh juga telah diperkenalkan kepada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta sejumlah instansi terkait di Aceh sebagai bagian dari upaya memperkenalkan produk lokal berbasis budaya.

Rizki berharap Parfum Kerajaan Aceh dapat terus berkembang sebagai produk unggulan daerah yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.

“Visi kami adalah menyediakan produk parfum berkualitas dengan ciri khas daerah, membangun loyalitas konsumen, sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap produk lokal,” katanya.

Dengan mengusung kekayaan bahan alami dan nilai-nilai budaya Aceh, Parfum Kerajaan Aceh menjadi salah satu produk lokal yang tidak hanya menawarkan keharuman, tetapi juga memperkenalkan identitas dan warisan budaya Tanah Rencong kepada masyarakat yang lebih luas.(Hadi)