posaceh.com, Mekkah – Lempar jamrah atau jumrah menjadi salah satu rangkaian ibadah haji. Pada rangkaian ini, jamaah haji melemparkan batu kerikil ke arah jumrah.
Pertanyaannya, ke mana perginya batu kerikil setelah dilempar jemaah haji?
Tak hanya sebatas ritual, pelemparan jumrah menjadi simbol perlawanan terhadap bisikan jahat dari setan yang mengganggu manusia.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa melempar jamrah hukumnya wajib bagi jamaah haji, bukan termasuk rukun. Artinya, jamaah haji yang tidak melakukan lemparan jamrah harus membayar dam atau denda jika ingin hajinya tetap sah.
Setidaknya, ada tiga jenis jamrah yang dikenal. Diantaranya adalah jumrah ula, jumrah wustha, dan jumrah aqabah. Batu kerikil yang dilempar harus masuk ke dalam lubang jumrah.
Setiap tahunnya, ratusan batu kerikil digunakan dalam rangkaian haji ini. Namun setelahnya, apa yang terjadi pada kerikil bekas lempar jumrah tersebut?
Mengutip detikHikmah , batu kerikil yang dilempar akan jatuh ke ruang bawah tanah dengan kedalaman sekitar 15 meter.
Seorang karyawan Kidana Development Company Ahmed Al Subhi mengatakan, batu kerikil itu akan dikumpulkan, kemudian disaring dan disemprotkan udara untuk dibersihkan. Kidana sendiri merupakan pengembang utama kawasan tempat suci tersebut.
Setelah bersih, kerikil tersebut dipindahkan dan disimpan. Nantinya, kerikil akan digunakan kembali pada musim haji berikutnya.
Pengembang juga menyediakan banyak kantong kerikil untuk jamaah, yang bisa diambil di sekitar Jembatan Jamarat di Mina dan sekitar 300 titik kontak di Muzdalifah.(Muh/*)











