News

Tarmizi Age Usulkan Pembangunan Sumur Bor untuk Selamatkan Sawah dari Ancaman Gagal Panen

16
Inisiator Aceh Goet, Tarmizi Age (Mukarram).

posaceh.com, Banda Aceh – Inisiator Aceh Goet, Tarmizi Age, mengusulkan agar pemerintah segera membangun sumur bor di kawasan persawahan yang mengalami kekeringan akibat musim kemarau sebagai solusi darurat untuk menyelamatkan lahan pertanian yang terancam gagal panen karena minimnya pasokan air.

Ia menilai kondisi kekeringan yang terjadi saat ini semakin diperparah oleh belum optimalnya jaringan irigasi serta waduk yang tidak mampu menampung cadangan air untuk kebutuhan pertanian.

“Musim kemarau yang diperparah oleh ketiadaan irigasi yang baik serta waduk yang tidak bisa menampung air membuat petani berada dalam kondisi terancam gagal panen. Solusinya, pemerintah harus segera membangun sumur bor,” kata Tarmizi Age yang akrab disapa Mukarram di Banda Aceh, Kamis (23/7/2026).

Menurutnya, tanpa adanya pasokan air dari saluran irigasi, petani hanya bergantung pada curah hujan yang dalam beberapa pekan terakhir tidak kunjung turun. Kondisi tersebut membuat ribuan hektare sawah, terutama sawah tadah hujan, menghadapi ancaman kekeringan.

Ia mencontohkan kondisi yang terjadi di Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen. Berdasarkan pengamatannya, sejumlah areal persawahan di wilayah tersebut berada dalam kondisi kritis dan berpotensi mengalami gagal panen apabila tidak segera mendapatkan suplai air.

“Melihat beberapa lokasi di Kabupaten Bireuen, khususnya di Kecamatan Peudada, sawah berada dalam kondisi kritis dan terancam gagal panen. Pemerintah perlu mengambil inisiatif dengan cepat, tepat, dan terukur,” ujarnya.

Tarmizi Age menjelaskan, minimnya curah hujan, tidak tersedianya sumber air permukaan, debit air yang terus menyusut hingga mengering, serta jauhnya lokasi sumber air dari lahan pertanian menjadi kendala utama yang dihadapi petani. Karena itu, ia menilai pembangunan sumur bor merupakan langkah paling realistis untuk memenuhi kebutuhan air irigasi di daerah yang belum memiliki jaringan pengairan.

“Upaya darurat agar rakyat tidak lapar dan mata pencaharian petani tetap terjaga adalah pemerintah harus membangun sumur bor. Sangat disayangkan jika petani terus menjerit dan menangis akibat kekeringan,” ungkapnya.

Selain pembangunan sumur bor, Tarmizi juga mendorong Dinas Pertanian untuk menyiapkan langkah-langkah mitigasi jangka pendek maupun jangka panjang guna mengurangi risiko kerugian petani akibat perubahan iklim.

Ia menyarankan pemerintah memperluas penggunaan varietas padi yang tahan terhadap kekeringan, menyesuaikan pola tanam berdasarkan kalender iklim, menerapkan sistem tumpang sari, mengembangkan tanaman palawija di lahan kering, serta memanfaatkan sumur bor dalam di wilayah yang belum memiliki jaringan irigasi.

“Untuk mengurangi risiko kerugian petani, Dinas Pertanian harus menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, seperti penggunaan varietas padi tahan kekeringan, penyesuaian pola tanam berdasarkan kalender iklim, penerapan sistem tumpang sari, pengembangan tanaman palawija di lahan kering, hingga pemanfaatan sumur bor dalam di daerah yang belum memiliki jaringan irigasi,” sebutnya.

Lebih lanjut, Tarmizi Age menegaskan, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk melindungi sektor pertanian sebagai penyangga ketahanan pangan masyarakat. Menurutnya, tidak boleh ada petani yang harus mengalami gagal panen hanya karena keterbatasan infrastruktur pengairan.

“Tak ada alasan rakyat dan petani harus gagal panen dan lapar. Pemerintah harus bertanggung jawab sekaligus menyayangi rakyatnya,” pungkasnya.(Why)

 

Exit mobile version