Wisata

Tari Saman Warisan Budaya Takbenda yang Mendapat Pengakuan Dunia

481
Tari Saman dengan perpaduan gerakan ritmis dan syair dakwah Islam yang memperkuat identitas Aceh sebagai bumi Serambi Makkah. (Foto: Unesco.org)

posaceh.com, Banda Aceh – Tari Saman adalah tari rakyat dari masyarakat Suku Gayo di Provinsi Aceh, Indonesia. Tarian ini merupakan salah satu media untuk menyampaikan pesan atau dakwah. Tarian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan.

Sebelum tari Saman dimulai yaitu sebagai mukaddimah atau pembukaan, tampil seorang tua cerdik pandai atau pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat (keketar) atau nasihat-nasihat yang berguna kepada para pemain dan penonton.

Lagu dan syair pengungkapannya secara bersama dan berkesinambungan, pemainnya terdiri dari pria-pria yang masih muda-muda dengan memakai pakaian adat. Penyajian tarian tersebut dapat juga dipentaskan, dipertandingkan antara grup tamu dengan grup sepangkalan (dua grup). Penilaian dititikberatkan pada kemampuan masing-masing grup dalam mengikuti gerak, tari, dan lagu (syair) yang disajikan oleh pihak lawan.

Nyanyian para penari menambah kedinamisan dari tarian Saman. Cara menyanyikan lagu-lagu dalam tari saman dibagi dalam lima macam:

  1. Rengum, yaitu auman yang diawali oleh pengangkat.
  2. Dering, yaitu rengum yang segera diikuti oleh semua penari.
  3. Redet, yaitu lagu singkat dengan suara pendek yang dinyanyikan oleh seorang penari pada bagian tengah tari.
  4. Syekh, yaitu lagu yang dinyanyikan oleh seorang penari dengan suara panjang tinggi melengking, biasanya sebagai tanda perubahan gerak.
  5. Saur, yaitu lagu yang diulang bersama oleh seluruh penari setelah dinyanyikan oleh penari solo.

    Perpaduan gerakan yang kompak dan harmonis serta syair yang bernafaskan islami ciri khas Tari Saman. (Foto: lintasgayo.com)

Tarian Saman menggunakan dua unsur gerak yang menjadi unsur dasar dalam tarian Saman, yakni tepuk tangan dan tepuk dada. Diduga, ketika menyebarkan agama Islam, Syekh Saman mempelajari tarian Melayu kuno, kemudian menghadirkan kembali lewat gerak yang disertai dengan syair-syair dakwah islam demi memudahkan dakwahnya. Dalam konteks kekinian, tarian ritual yang bersifat religius ini masih digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui pertunjukan-pertunjukan.

Tari Saman termasuk salah satu tarian yang cukup unik, karena hanya menampilkan gerak tepuk tangan dan gerakan-gerakan lainnya, seperti gerak guncang, kirep, lingang, surang-saring (semua gerak ini menggunakan bahasa Bahasa Gayo).

Pada umumnya, tarian Saman dimainkan oleh belasan atau puluhan laki-laki, tetapi jumlahnya harus ganjil. Pendapat lain mengatakan tarian ini ditarikan kurang lebih dari 10 orang, dengan perincian 8 penari dan 2 orang sebagai pemberi aba-aba sambil bernyanyi. Namun, dalam perkembangan pada era modern yang menghendaki bahwa suatu tarian itu akan makin semarak apabila ditarikan oleh penari dengan jumlah yang lebih banyak. Untuk mengatur berbagai gerakannya ditunjuklah seorang pemimpin yang disebut syekh. Selain mengatur gerakan para penari, syekh juga bertugas menyanyikan syair-syair lagu saman, yaitu ganit.

Pengakuan UNESCO 

Tari Saman adalah tarian tradisional unik dari suku Gayo, Aceh, yang dikenal sebagai “tarian seribu tangan” karena gerakan cepat, kompak, dan harmonis, menggunakan tepuk tangan, dada, paha, dan lantai, serta syair dakwah Islam, dan telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Manusia pada 2011.

Tarian ini biasanya dilakukan oleh sekelompok laki-laki duduk berlutut, mengenakan kostum hitam dengan motif Gayo, dan melambangkan persatuan serta nilai luhur. Keunikan dan karakteristiknya antara lain terlihat pada:

  • Gerakan: Sangat ritmis, cepat, dan serempak, terdiri dari tepuk tangan, tepuk dada, tepuk paha, gerakan tubuh (guncang, kirep, lingang, surang saring), serta gerakan kepala yang diiringi syair Gayo.
  • Pola Lantai: Pola garis lurus horizontal, di mana para penari duduk berbanjar rapat dan menghadap penonton.
  • Kostum: Hitam dengan bordir warna-warni motif Gayo yang melambangkan alam dan nilai luhur.
  • Syair: Berisi pesan-pesan agama (dakwah), nasihat, atau humor, yang dilantunkan oleh pemimpin di tengah barisan.
  • Unsur Utama: Tepuk tangan dan tepuk dada.

Sejarah dan Makna

Tari Saman berasal dari Suku Gayo, Aceh, sejak abad ke-13, dikembangkan oleh Syekh Saman sebagai media dakwah Islam.

Tari ini awalnya berupa satu ritual religius, kini juga menjadi hiburan dan simbol persatuan, kekompakan, serta semangat gotong royong masyarakat Aceh.

Tari Saman mendapat pengakuan dunia yang ditetapkan sebagai Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia pada 24 November 2011 oleh UNESCO. (Adv)
Exit mobile version