posaceh.com, Jakarta – Guna mendukung program latihan yang lebih baik dalam pembinaan atlet, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) akan sosialisasikan sport genomics yaitu pengaturan program latihan yang tepat sesuai gen, sehingga dapat lebih baik lagi untuk mengidentifikasi talenta di tingkat dasar.
“Sport genomics ini yang kita perlu, untuk kita sosialisasikan,” tegas Ketum KONI Pusat Letjen TNI Purn Marciano Norman ketika menerima Tim dari Prodia tanggal 11 November 2024.
Rencananya akan disosialisasikan kepada seluruh anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, baik KONI Provinsi hingga kabupaten/kota, dan Induk Cabang Olahraga beserta anggotanya.
Ketum KONI Pusat berharap dengan adanya sport genomics, Indonesia dapat lebih baik lagi untuk identifikasi talenta di tingkat dasar.
Ke depan, sebutnya, sejak usia dini, seseorang dapat memahami apa saja keunggulan gen yang dimilikinya dan cabang olahraga apa yang paling sesuai.
Alhasil, katanya, atlet Indonesia di masa mendatang adalah yang terbaik mulai dari gen yang sesuai dengan cabang olahraganya hingga program pembinaan yang juga baik.
Membantu Program Latihan
AVP Marketing & Account Prodia Dr. Dwi Yuniati Daulay, M.Kes, Apt menerangkan pihaknya mulai mengembangkan laboratorium sport genomics setelah perusahaannya Initial Public Offering (IPO) sekitar 10 tahun terakhir.
“Atlet itu dilakukan pemeriksaan sport genomics untuk tahu risiko atlet saat olahraga, dengan mengetahui profilnya bisa diantisipasi,” ujar Dwi yang didampingi marketing dan account manager Mia Kamillah S.Si, marketing dan account assistant manager, Sukma Chaedir Umar S.Si dan product spesiacilst Ardian Susanto, M.Farm.
Dwi mengatakan, sport genomics dapat dilakukan di 321 cabang Prodia yang berada di 34 provinsi. Secara definisi, Prodia menjelaskan sport genomics sebagai pemeriksaan genomik yang membantu mengatur program latihan, memprediksi pemulihan dan respons setelah berolahraga, serta mengatur strategi untuk mencegah cedera.
Sebutnya, manfaat dari pemeriksaan tersebut antara lain, dapat lebih tepat membuat program latihan, prediksi respons serta pemulihan pasca olahraga, prediksi respons metabolisme setelah olahraga, sehingga dapat mengantisipasi cedera sesuai kerentanan gen.
Katanya, kerja sama KONI Pusat dengan Fakultas Keolahragaan juga sangat perlu untuk dilibatkan dalam program ini.
Sebutnya, akan menjadi ideal jika, terdapat satu katalog yang menjadi rujukan bagi peserta tes sport genomics untuk mengetahui potensinya pada cabang olahraga.
Setiap cabang olahraga, memiliki karakter tersendiri yang berdampak pada bentuk fisik seseorang yang sangat erat kaitannya dengan gen.
Waketum I KONI Pusat Mayjen TNI Purn Dr.Suwarno yang turut hadir pada pertemuan tersebut, menyinggung terkait fisik dan kaitannya dengan gen. Biasanya cabang olahraga atletik yang bersifat melakukan lemparan, seperti lempar lembing dan lempar cakram, fisik orang dari Papua yang unggul. Meski begitu, program pembinaan juga harus dilakukan dengan baik.
Terkait rencana sosialisasi dan edukasi, nantinya program akan dilaksanakan oleh Bidang Kesehatan Olahraga yang dipimpin oleh Marsma TNI Purn Rochmulyati.(*/koni org)











