Hari itu 3 Desember 1911 di Alue Bhot, seorang anak belia duduk di sebuah akar kayu besar pinggir sungai kecil di kaki bukit barisan, Tangse.
Tidak berapa lama kemudian, sebutir peluru menembus tubuhnya. Teungku Chik Ma’ad Muda pelanjut akhir perjuangan Teungku Chik Di Tiro akhirnya gugur dengan penuh kehormatan.
Syahidnya anak muda yang dikenang sepanjang sejarah Aceh ini menambah angka kematian di pihak Aceh kala itu, namun di sisi lain makin membuat ketakutan para kolonial Hindia Belanda.
Tidak mau menyerah walaupun pilihan hidup nyaman dengan pangkat dan jabatan yang ditawarkan Belanda, telah menempatkan keluarga Teungku Chik Di Tiro ini sebagai satu-satunya keluarga pejuang Aceh yang tidak berdamai dengan Belanda sampai akhir hayat.
Hal ini telah membuat pasukan penembak Ma’ad Muda sendiri memberi penghormatan tinggi.
Marsose dengan penuh kekuatan namun dirundung ketakutan terus mengejar keturunan terakhir Tiro ini sampai ke Tangse, Pidie.
Operasi penting ini dipimpin oleh Letnan H.J Schmidt. Pasukan pengejar Tiro terakhir ini terdiri dari seorang Letnan Satu, dua serdadu Belanda, dua serdadu pribumi, satu kopral Ambon dan satu kopral pribumi, 17 marsose Ambon, 17 marsose pribumi, satu kopral perawat, seorang mandor, dan 24 kuli kerja paksa.
Teungku Chik Ma’ad Muda adalah putra Teungku Chik di Tiro Muhammad Amin bin Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman.
Ma’ad melanjutkan kepemimpinan Trah Tiro setelah Teungku Chik Mayed atau Tgk Mahyeddin, pamannya sendiri yang juga putra Teungku Chik Di Tiro syahid dalam medan perang Gunung Halimon pada 5 September 1910.
*Sang Martir*
Haekal Afifa, peneliti Pemikiran Teungku Hasan di Tiro menulis khusus tentang anak muda Maad ini. Dalam tulisan Mengenang Teungku Chik Maat di Tiro: Sang Martir Aceh Merdeka, aceh.tribunnews (4/12/2018).
Sosok Teungku Chik Maat, tulis Haekal Afifa, memiliki kulit putih dengan wajah rupawan; mengenakan celana hitam bersulam sutera layaknya seorang bangsawan.
Baju hitam berkancing emas dengan tengkulôk (kain penutup kepala) merah bersutera.
Prinsip dan konsistensinya begitu kuat, keimanannya tak mudah tergoyahkan.
Umurnya yang masih muda tidak menghalangi dirinya untuk melihat kebenaran dan tetap teguh membela bangsa dan agamanya.
Tepat pada 3 Desember 1911, dalam pertempuran Alue Bhöt, Tangse, satu butir peluru Nussy (Pasukan Marsose yang bertugas mencari jejak) menembus jantungnya.
Matanya yang terbuka memandang langit-langit merdeka.
Dan, tulis Haeqal, ia telah membuktikan prinsipnya untuk lebih memilih syahid di usia yang belia seperti ayahnya dari pada harus tunduk dan memperbudak diri kepada Belanda.
Schmidt dan anak buahnya memberi penghormatan terakhir kepada Teungku Chik Maat; Pemuda terakhir dari keturunan ulama Tiro yang sangat dihormati dan dikagumi oleh Belanda.
Dalam upacara terakhir itu, Shcmidt berkata kepada pasukannya; “Dit is de Zoon van de Vader”. Inilah Aneuk Agam sang Ayah, tulis Haeqal.
*Nisan tanpa kepala*
Dari cerita orang tua, di antara makam yang jasadnya terkubur di Gampong Pulo Masjid Tangse adalah seorang pemuda 16 tahun, Tgk Chik Ma’ad Muda. Disebut-sebut nisannya tanpa kepala, karena Belanda membawa potongan tubuh cucu Tgk Chik Di Tiro ini ke Kutaradja untuk membuktikan bahwa “perang telah usai”, karena panglima terakhir yang juga pemegang stempel cap sikurueng ini telah mati.
Kuburan syuhada ini kerap dikunjungi banyak warga, termasuk Hasan Tiro sendiri pernah mengunjungi komplek makam ini sebelum mendeklarasikan Aceh Merdeka. Waktu dan tempat syahidnya Ma’ad Muda menjadi dasar dipilihnya tanggal 4 Desember oleh Hasan Tiro untuk proklamasinya.
Kebenaran kisah makam dengan jasad tanpa kepala juga masih perlu diteliti kembali, termasuk bagaimana jasad ketiga syuhada ini bisa dimakamkan di Gampong tua di Tangse ini. Apakah pemakamannya seizin Belanda ataukah dikuburkan secara diam-diam oleh pejuang dan warga setempat.
Letak gampong Pulo Masjid dengan Keude Tangse tempat markas besar Kolonial Belanda hanya berjarak 1 km, posisinya pun berada di tengah persawahan yang jauh dengan perbukitan atau hutan. Tentu kalau dilakukan diam-diam akan diketahui Belanda karena jarak jangkau yang sangat dekat, lagi pula di gampong ini memiliki masjid jamik dan menjadi satu-satunya di lembah Tangse saat itu. Sangat tidak mungkin pemakamannya tak diketahui Belanda.
Mungkinkan karena penghormatan atas sikap dan keteguhan Ma’ad muda, Belanda membiarkan warga Gampong Pulo Masjid mengurus jenazah Ma’ad Muda dan menguburkannya di samping pamannya sendiri Teungku Chik Mayet.
Pastinya, belia ini syahid dengan genggaman senjata di tangannya. Hanya soal siapa lebih cepat menembak, kebetulan saja Belanda jumlahnya lebih banyak dan dengan kekuatan penuh. Namun sebagai seorang pelanjut Tiro, Ma’ad Muda telah mengajarkan satu hal kepada kita bahwa kemerdekaan itu terlalu mahal. Tak ada hadiah dari penjajah untuk sebuah negara merdeka, semua diraih dengan berdarah-darah.
Dan, senjata terakhir di tangan Ma’ad Muda, ketika tubuhnya roboh ditembus peluru Marsose adalah kehormatan seorang pahlawan. Tiada takluk apalagi menyerah, memilih mati sebagai seorang anak lelaki. Seorang Tiro yang tak pernah mencari harta pangkat dan jabatan, kecuali gugur sebagai syuhada. (Hasnanda Putra).











