posaceh.com – Pejuang wanita Aceh Cut Nyak Dhien dan pengikutnya dibawa ke luar Aceh menggunakan kapal Paketvaart melalui Ulee Lheue pada 1907. Pengasingan merupakan strategi yang marak dilakukan pada masa Hindia Belanda sebagai hukuman untuk mereka yang dianggap pemberontak, tulis Ghina Alawiyyah Nurkholish, dalam penelitian tugas akhirnya di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga.
Jalur pelayaran mengambil arah barat Pulau Sumatera menuju Pulau Jawa. Kapal melewati Teluk Rigaih (Calang), kemudian singgah sehari di Teluk Bayur Sumatera Barat.
Pengasingan Cut Nyak Dhien sendiri, dari buku Aceh Sepanjang Abad, disebutkan dimuat dalam harian Belanda Nieuwe Courant tanggal 23 Januari 1907 M. Harian Belanda tersebut menulis bahwa penyebab pembuangan Cut Nyak Dhien adalah karena keberadaannya di Kutaraja mengakibatkan terjadinya persengketaan antar kepala-kepala anak negeri (pemimpin) di Aceh. Hal ini tentunya sebagai akal bulus Gubernur Hindia Belanda untuk melemahkan mental pejuang Aceh.

Sebelum ke Sumedang, Cut Nyak Dien sempat diasingkan ke Batavia (Jakarta). Pemerintah Hindia Belanda membawa Cut Nyak Dhien ke Batavia sebagai tempat transit sementara sebelum diasingkan. Disamping itu, pemindahan Cut Nyak Dhien ke Btavia dimaksudkan supaya gerak-gerik Cut Nyak Dhien bisa diawasi oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van Heutsz.
Sesampainya di Jakarta, Cut Nyak Dien disebutkan mendapat perlakuan tidak manusiawi dan itu tertulis dalam penelitian ini dan beberapa sumber sejarah lainnya. Cut Nyak Dhien sempat ditahan di penjara bawah tanah Stadhuis Batavia (sekarang Museum Sejarah Jakarta).
Penjara bawah tanah tersebut berukuran tinggi 1 m panjang 6 m dan lebar 9 m dan biasanya dihuni oleh 40-50 orang. Posisinya yang berada di bawah tanah menyebabkan suhu penjara
tersebut dingin dan lembab. Banyak tahanan perempuan yang meninggal di penjara tersebut sebelum diadakan proses persidangan karena kelaparan.
Penjara tersebut tepat berada di bawah bekas kamar Pangeran Diponegoro ketika menunggu keputusan pengasingan.
Untuk membahas khusus terkait Cut Nyak Dien sebelum diasingkan, Kemudian Gubernur Jendral Hindia Belanda memanggil bupati-bupati di Keresidenan Priangan untuk datang ke Batavia. Dari sembilan kabupaten di Priangan hanya empat bupati yang dipanggil oleh Gubernur Jenderal. Tiga diantaranya adalah Bupati Sumedang, Bupati Sukapura dan Bupati Limbangan.
Setelah tiba Batavia, Gubernur Jenderal Van Heutsz menjelaskan maskud dan tujuannya memanggil bupati-bupati di Priangan tersebut adalah untuk mencari tempat pengasingan bagi pejuang Aceh bernama Cut Nyak Dhien. Ia menjelaskan riwayat hidup serta kondisi Cut Nyak Dhien saat itu. Gubernur Jenderal Van Heutsz kemudian menanyakan kesediaan mereka untuk merawatnya. Bupati Sumedang Pangeran Aria Suria Atmadja merasa iba dengan kondisi Cut Nyak Dhien. Ia juga kagum terhadap perjuangan yang Cut Nyak Dhien lakukan. Mengingat saat itu Sumedang merupakan tempat yang “aman”, Pangeran Aria Soeria Atmadja kemudian meminta kepada Van Heutsz agar Cut Nyak Dhien bisa dipindahkan ke Sumedang. Setelah diadakan kesepakatan antara Van Heutsz dan Pangeran Aria Suria Atmadja, proses pemindahan Cut Nyak Dhien ke Sumedang mulai dipersiapkan.
Proses Pemindahan Cut Nyak Dhien ke Sumedang menurut keterangan Mukhtar Arif (keturunan Teuku Nana — anak kecil yang ikut bersama Cut Nyak Dien ketika diasingkan), sempat dibawa ke Buitenzorg (Bogor sekarang). Kehadiran Cut Nyak Dien ke Bogor yang juga tempat kedudukan Gubernur Jenderal Van Heutsz, masih menjadi tanda tanya. Apakah ini sengaja diminta oleh Van Heutsz untuk meminta maaf atas perlakuan tidak enak selama ditahan di Jakarta atau boleh jadi pelepasan resmi tahanan wanita pejuang Aceh ini sebelum ke tempat pengasingan.
Masih banyak cerita sejarah yang belum terungkap bagaimana bisa seorang Van Heutsz sempat mengkhianati janji bawahannya yang menangkap Cut Nyak Dien, agar wanita pejuang ini diperlakukan dengan baik. Kenapa pula Van Heutsz meminta Bupati Sumedang untuk menyembunyikan identitas pejuang ini kepada masyarakat. Mungkin, mereka sangat takut akan pengaruh kebesaran penuh kharisma seorang pejuang wanita Aceh, biarpun tubuhnya saat itu kurus dan hampir tidak berdaya. (Hasnanda Putra)











