Nasional

Rupiah Terlemah dalam Sejarah, Anggota DPR Minta Bos BI Mundur

25
×

Rupiah Terlemah dalam Sejarah, Anggota DPR Minta Bos BI Mundur

Sebarkan artikel ini
Komisi XI DPR RI Rapat Kerja Dengan Menteri Keuangan. FOTO/Channel YouTube Komisi XI DPR RI

posaceh.com, Jakarta – Anggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio meminta Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo untuk mundur dari jabatannya karena nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melanjutkan pelemahan hari ini hingga menembus Rp 17.600/US$.

Nilai mata uang Garuda saat ini merupakan yang terlemah sepanjang sejarah. Primus menyebut apa yang terjadi pada rupiah saat ini sudah menurunkan kepercayaan hingga menggerus kredibilitas terhadap bank sentral.

Menurut politikus Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut, Perry harus berani mundur dari Gubernur BI.

“Pak Perry yang saya hormati, kadang kalau kita mengambil tindakan gentlemen itu bukan penghinaan. Saya berikan contoh mungkin ini saatnya bapak mengecewakan diri. Tidak ada yang salah selanjutnya terserah bapak, tapi itu bukan sikap menghina, pak,” kata Primus dalam rapat Komisi XI DPR, Senin (18/5/2026).

“Anda akan dihormati seperti di Korea ataupun di Jepang. Kalau Anda tidak bisa menjalankan tugas Anda dengan baik seperti itu, tidak ada salahnya,” sebut Primus di hadapan Perry.

Selain Primus, sejumlah anggota dewan mengkritik kebijakan BI di dalam rapat karena rupiah yang terus melemah dalam beberapa bulan terakhir.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melanjutkan pelemahan hari ini, Senin (18/5/2026), dan tergerus 0,6% pada pembukaan perdagangan ke Rp 17.570/US$.

Tak lama berselang, rupiah melanjutkan pelemahannya 0,83% ke posisi Rp 17.610/US$ yang merupakan posisi terlemah sepanjang sejarah.

Sejumlah sentimen menekan rupiah pada perdagangan pagi ini setelah libur panjang pekan lalu. Pertama, dari sisi pergerakan eksternal harga minyak terus melambung ke US$111,24 per barel kembali menekan mata uang kawasan.

Kenaikan harga minyak terjadi karena Presiden AS Donald Trump kembali menekan Iran untuk mencapai kesepakatan.

Hampir semua mata uang kawasan di pasar yang sudah melemah dengan rupiah yang memimpin di zona merah.

Kedua, kondisi data perekonomian domestik yang dipaparkan otoritas menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar. Pertumbuhan capaian di level 5,61% belum diikuti dengan pergerakan positif sejumlah data referensi seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), dan data penjualan ritel (IPR).

Pasar juga mulai melihat adanya potensi tekanan ganda terhadap APBN dalam bentuk subsidi energi yang diproyeksikan membengkak, sementara penerimaan negara belum cukup kuat untuk menopang ekspansi belanja yang agresif.

Ketidakpastian tersebut pada akhirnya tercermin dalam pergerakan pasar keuangan domestik. Investor terlihat mulai meminta premi risiko yang lebih tinggi terhadap aset Indonesia, baik di pasar obligasi maupun nilai tukar, seiring dengan adanya kekhawatiran tersebut. (Muh/*)