NewsWisata

Rumoh Adat Aceh, Identitas Budaya Asli Aceh

182
Rumoh Aceh di komplek Museum Aceh, Banda Aceh. (Foto: Dok. Disbudpar Aceh)

posaceh.com, Banda Aceh – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh Dedy Yuswadi meminta para pemuda Aceh untuk mengenali kembali rumoh Aceh atau rumah Aceh yang mulai ditinggalkan generasi penerus saat ini.

Padahal, rumah ini yang ditempati orang terdahulu berupa rumah panggung tradisional dengan tiga bagian utama, seuramoe keue (serambi depan), seuramoë teungoh (serambi tengah), dan seuramoë likôt (serambi belakang). Rumoh Aceh yang tetap berdiri tegak dapat dilihat di Museum Aceh setiap hari.

Rumah ini biasanya terbuat dari kayu dengan filosofi kuat yang mencerminkan budaya dan keyakinan masyarakat Aceh yang dibingkai dari nilai-nilai syariat Islam dan Pameran Rumoh Aceh digelar di Museum Aceh, Banda Aceh seusai dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh Dedy Yuswadi pada 17 November 2025.

Pameran ini juga dirangkaikan dengan program sosialisasi, lomba foto, dan vlog kreatif dengan melibatkan pelajar, mahasiswa, serta komunitas budaya. Dedy Yuswadi menyatakan Rumoh Aceh bukan sekadar bangunan tradisional, melainkan rekam sejarah dan identitas budaya yang membentuk karakter masyarakat Aceh selama berabad-abad.

“Arsitektur Rumoh Aceh mencerminkan kecerdasan lokal, kearifan spiritual, serta nilai sosial yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat. Melalui pameran ini, kita diajak semua pihak memahami kembali bagaimana rumah tradisional Aceh menjadi simbol kedaulatan budaya sekaligus ruang diturunkannya nilai-nilai kehidupan dari masa ke masa,” ujar Dedy.

Dia memberi apresiasi kepada Museum Aceh atas inisiatif menghadirkan kegiatan pendukung seperti Sosialisasi Museum Aceh untuk Belajar, lomba foto, dan vlog tingkat SMA dan mahasiswa. Menurutnya, museum kini bukan hanya tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga ruang inspirasi, kolaborasi, dan inovasi bagi masyarakat.

Menutup sambutannya, Dedy mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum ini sebagai wujud cinta terhadap budaya Aceh serta memperkuat pemahaman bahwa tradisi luhur merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa.

Rumah Aceh yang masih tersisa di Aceh Besar. (Foto: Wikipedia)

Kepala UPTD Museum Aceh, Arif Arham, menegaskan bahwa pameran ini digelar sebagai upaya memperkuat literasi budaya sekaligus menandai perjalanan panjang Museum Aceh yang telah berdiri selama 110 tahun.

“Tema Rumoh Aceh dipilih karena kaya akan nilai sejarah, arsitektur, dan kearifan lokal. Kami berharap masyarakat dapat memahami secara lebih mendalam filosofi dan warisan identitas bangsa yang tercermin dalam rumah tradisional Aceh,” ungkap Arif.

Lebih lanjut, kata Arif, melalui pameran ini, masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai sejarah, filosofi, dan nilai budaya yang terkandung dalam rumah tradisional Aceh.

“Pameran ini juga menjadi sarana untuk mendorong partisipasi generasi muda melalui aktivitas kreatif dan edukatif, sekaligus memperkuat peran Museum Aceh sebagai pusat pembelajaran dan diplomasi budaya. Kami ingin menggugah ketertarikan publik terhadap arsitektur tradisional melalui media digital, serta menjadikan kegiatan ini sebagai wahana promosi budaya Aceh secara luas.” jelas Arif.

Salah satu peserta sosialisasi, Cut Zira Miranda, mengaku dengan adanya pameran ini dapat mengetahui Rumoh Aceh secara detail dan mudah dipahami. “Penjelasan tentang Rumoh Aceh sangat detail dan mudah dipahami. Semoga Museum Aceh terus berinovasi agar semakin banyak masyarakat mendapatkan edukasi budaya.”

Dengan hadirnya Pameran Rumoh Aceh, Museum Aceh berharap masyarakat semakin terinspirasi untuk menjaga, mempelajari, dan merawat warisan budaya sebagai fondasi peradaban Aceh bagi generasi mendatang, sekaligus akan meningkatkan kunjungan wisatawan. (Adv)

Exit mobile version