posaceh.com, Banda Aceh – PSSI terus menerapkan aturan keras terhadap sebuah pertandingan, mulai dari level terendah sampai tertinggi, khususnya Liga Indonesia.
Sanksi bukan hanya kepada pemain yang melakukan permainan keras terhadap pemain lawan, tetapi juga penyelenggara pertandingan yang abai menjaga keamanan dan ketertiban, termasuk wasit yang tidak berlaku adil.
Dari sejumlah sanksi yang diberikan, sebagian besar ditujukan kepada para pemain yang tidak menunjukkan sikap fair play atau bertindak kasar kepada pemain lawan. PSSI, sejak dipimpin Erick Thohir terus melakukan pembenahan seluruh lini sepakbola, seperti dikatakannya beberapa waktu lalu.
Dalam perkembangan terbaru, Komisi Disiplin PSSI menjatuhkan sejumlah sanksi kepada klub dan juga pemain serta penyelenggara. Berdasarkan hasil sidang Komite Disiplin PSSI dari 21 sampai 25 Oktober 2024 yang diumumkan pada Senin (28/10/2024), dari klub U18 sampai klub Liga Indonesia mendapatkan sanksi atau teguran keras.
Tidak ada nama tim Persiraja Banda Aceh dalam daftar sanksi, yang bermain sebagai tuan rumah dalam lanjutan Pegadaian Liga 2 Indonesia 2024/2025) dan menutup putaran pertama dengan manis, mengalahkan PSMS Medan 2-1, walau tanpa penonton.
Ini menjadi kemenangan pertama kandang Persiraja dari tiga laga yang telah dilakoni. Dua kali di Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya dengan satu pertandingan dihadiri penonton.
Disinilah petaka yang didapat Persiraja saat melawan PSPS Pekanbaru dengan hasil 1-1, baru pertama kali disaksikan pendukung, langsung terjadi kericuhan yang berujung sanksi kepada pemain dan penyelenggara pertandingan.
Bahkan, yang terbaru, sanksi diberikan kepada Persija Jakarta U18, akibat kelakuan seorang aggota ofisial, yang belum mendapat ID Card dari PT Liga Indonesia Baru, tetapi duduk di bangku cadangan pemain.
Komisi Disiplin PSSI langsung memberi teguran keras kepada pengawas pertandingan Endang Ismatullah dan PT Liga yang lamban memberi ID Card dalam laga Persija U18 vs PS Barito Putera U18 dalam kompetisi EPA Liga 1 2024/2025 pada 12 oktober 2024.
Seorang pemain PSBS Biak, Jaimerson Da Silva Xavier yang mendapat kartu merah saat bertanding melawan Semen Padang dalam lanjutan BRI Liga 1 2024/2025 dilarang bermain dua kali dan denda Rp 10 juta.
Pemain PSIS Semarang Muhammad Adi Satryo juga dilarang bermain dua kali, seusai menghalangi tim Persija mencetak gol, sehingga mendapat kartu merah dalam lanjutan BRI Liga 1 2024/2025 pada 17 Oktober 2024.
Pemain PSIS Semarang, Roger Bonet Badia yang mendapat kartu merah saat melawan Persija juga disanksi dilarang bermain dua kali dan denda Rp 10 juta. Suporter Persija Jakarta yang menjadi sebagai suporter klub tamu dijatuhkan denda Rp 25 juta yang ditujukan kepada klub.
Saat laga PSMS Medan vs PSPS Pekanbaru dalam lanjutan Pegadaian Liga 2 2024/2025 pada 19 Oktober 2024, lima pemain PSPS mendapat kartu kuning, sehingga dijatuhkan denda Rp 25 juta.
Masih dalam pertandingan yang sama, PSMS gagal menjalankan tanggung jawab menjaga ketertiban dan keamanan, sehingga terjadi pemukulan dan tendangan kepada perangkat pertandingan serta terjadi pelemparan botol minuman ke area lapangan
PSMS dijatuhkan sanksi, dilarang menyelenggarakan pertandingan dengan penonton sebanyak 2 pertandingan saat menjadi tuan rumah dan denda Rp. 10 juta.
Klub PSIM Yogyakarta juga dijatuhkan sanksi denda Rp 12,5 juta, seusai seorang supoternya menjadi pendukung tim tamu saat melawan Persiku Kudus dalam lanjuta Liga 2 Indonesia pada 20 Oktober 2024. PSIM Yogyakarta mendapat teguran keras, seusai suporter klub tamu memaksa masuk dalam stadion.
Itulah sanksi yang dijatuhkan Komisi Disiplin PSSI atas permainan keras atau kasar yang ditunjukkan pemain ke pemain lawan. Bahkan, suporter tuan rumah yang menjadi suporter tim tamu juga mendapat sanksi, termasuk tanpa menggunakan ID Card, walau sudah menjadi anggota tim ofisial.
Pada satu kesempatan, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir bertekad melakukan transformasi Liga sepakbola Indonesia. Salah satunya dengan memerangi pelaku pengaturan pertandingan atau match fixing agar sepak bola Indonesia lebih baik.
Sebelumnya ada dugaan match fixing (pengaturan pertandingan di Liga Sepakbola Indonesia di setiap tingkatan mulai Liga 1, Liga 2 dan seterusnya santer terdengar. Bahkan ada beberapa kasus yang sudah mendapatkan hukuman.
Erick Thohir ketika memaparkan transformasi Liga Sepakbola Indonesia kepada media Kamis (20/6/2024) mengatakan: “Match fixing harus dihukum keras dan untuk memastikan penegakan kepada isu match fixing ini harus diberantas habis.”(Muh/*)
