Produksi Nikel Indonesia Hanya Bertahan Untuk 30 Tahun ke Depan

  • Bagikan

posaceh.com, Jakarta – Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, salah satunya adalah nikel. Bahkan, cadangan nikel Indonesia merupakan yang terbesar di dunia.

Berdasarkan data Keputusan Menteri ESDM Nomor 132/2024 tentang Neraca Sumber Daya dan Cadangan Minerba Nasional Tahun 2023, total cadangan bijih nikel Indonesia tercatat mencapai 5,3 miliar ton, tepatnya 5.325.790.841 ton.

Sepanjang tahun 2023, produksi bijih nikel Indonesia mencapai 175 juta ton, tepatnya 175.617.183 ton. Dengan asumsi produksi bijih nikel tetap sebesar 175.617.183 ton per tahun, maka cadangan nikel Indonesia diperkirakan hanya akan bertahan selama 30 tahun. Namun, jika produksi bijih nikel meningkat, umur cadangan nikel akan semakin pendek.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli berharap agar kegiatan eksplorasi untuk menambah cadangan nikel di Indonesia terus dilakukan.

Rizal menyatakan bahwa dengan banyaknya jumlah smelter yang beroperasi, cadangan nikel Indonesia menjadi sangat terbatas.

Oleh karena itu, ia mendorong agar eksplorasi di area brownfield dan greenfield segera digencarkan.

Eksplorasi di area brownfield meliputi wilayah yang sudah memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP), sementara eksplorasi di area greenfield meliputi daerah baru yang belum dieksplorasi.

“Masih banyak daerah-daerah baru yang belum dieksplorasi, terutama di Indonesia Timur seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua. Baru sekitar 34% wilayah potensial yang memiliki sumber daya nikel telah dieksplorasi, sehingga perlu segera dikembangkan,” kata Rizal dalam acara Mining Zone CNBC Indonesia, Senin (1/7/2024).

Menurut Rizal, banyak wilayah di Indonesia yang belum dieksplorasi, sehingga ia berharap Kementerian ESDM dapat segera melakukan penunjukan langsung atau lelang wilayah.

Dengan demikian, kegiatan eksplorasi untuk menemukan sumber cadangan nikel baru dapat segera terealisasi.
“Kenapa? Karena kegiatan eksplorasi memakan waktu lama, bisa 6 hingga 8 tahun sebelum kita mengetahui besarnya cadangan,” tambahnya. (siberindo.co).

  • Bagikan