Nasional

Prabowo Mau Setop Impor Bawang Putih, Siapkan Rp 400 M Buat Swasembada

21
Prabowo ingin Indonesia setop impor bawang putih. Pemerintah menyiapkan anggaran Rp400 miliar untuk mencapai target swasembada bawang putih dalam 3 tahun. FOTO/ANTARA

posaceh.com, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto  menginginkan Indonesia setop impor  bawang putih . Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp400 miliar untuk mencapai target swasembada bawang putih dalam 3 hingga 4 tahun.

Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pembibitan bawang putih seluas 5.000 hektare (ha) pada tahun ini.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengatakan program itu menjadi langkah awal pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor bawang putih, yang saat ini masih mencapai lebih dari 90 persen kebutuhan nasional.

“Keinginan Presiden (Prabowo Subianto) adalah bagaimana bawang putih sebagai barang pokok penting ini bisa swasembada,” ujar Sudaryono dalam konferensi pers di Kementan, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026).

Menurutnya, target swasembada bawang putih dinilai lebih realistis dibandingkan swasembada beras. Sebab, kebutuhan lahan untuk budi daya bawang putih relatif lebih kecil.

Pemerintah mengira Indonesia membutuhkan sekitar 100 ribu ha lahan tanam bawang putih untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Kendati demikian, tantangan utama bukan terletak pada ketersediaan lahan maupun minat petani, melainkan penyediaan bibit dalam jumlah besar, serta sesuai dengan kondisi iklim Indonesia.

Sudaryono menjelaskan bawang putih tak bisa ditanam di sembarang wilayah. Komoditas tersebut menempati kawasan dataran tinggi seperti Sembalun di Nusa Tenggara Barat, Temanggung di Jawa Tengah, dan Humbang Hasundutan di Sumatera Utara yang selama ini menjadi sentra pengembangan bawang putih nasional.

“Tantangannya adalah bagaimana kita menyediakan bibit yang cukup. Jadi tiga tempat itu lebih diarahkan untuk pembibitan secara massal,” ujarnya.

Ia mengatakan Indonesia tidak mungkin mengandalkan impor bibit untuk memenuhi kebutuhan penanaman hingga 100 ribu ha. Selain jumlahnya yang terbatas, bibit impor juga perlu melalui proses adaptasi agar sesuai dengan kondisi agroklimat di dalam negeri.

Oleh karena itu, pemerintah memilih memperkuat sistem penangkaran bibit oleh petani dengan pendampingan Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan.

Dalam skema tersebut, petani akan menerima bantuan bibit dari pemerintah untuk dikembangkan menjadi bibit baru. Setelah panen, petani diwajibkan mengembalikan bibit sebanyak 1,5 kali dari jumlah yang diterima, sementara sisanya dapat dijual secara bebas.

“Pemerintah memberikan bridging bibitnya. Jadi petani dikasih bibit, kemudian setelah panen dikembalikan satu setengah kali dan sisanya boleh dijual,” kata Sudaryono.

Ia menjelaskan biaya pembibitan bawang putih tergolong tinggi. Untuk satu hektar lahan, kebutuhan biaya produksi mencapai sekitar Rp120 juta, dengan komponen bibit mencapai sekitar Rp75 juta.

Oleh karena itu, pemerintah akan menanggung kebutuhan bibit tersebut melalui dukungan APBN. Berdasarkan perhitungan Kementan, kebutuhan anggaran untuk program pembibitan 5.000 ha mencapai sekitar Rp375 miliar atau mendekati Rp400 miliar.

Sudaryono mengatakan program pembibitan itu mulai dijalankan tahun ini. Selain target 5.000 ha yang didukung APBN, pemerintah juga berharap BUMN dan sektor swasta ikut mengembangkan bitan hingga 20 ribu ha.

“Mulai dari tahun ini. APBN seluas 5.000 hektar. BUMN dan swasta diharapkan 20 ribu hektare karena kami menargetkan 100 ribu hektare,” ujar Sudaryono.

Pemerintah memperkirakan hal tersebut mulai menunjukkan hasil dalam 3-4 tahun ke depan. Pada periode itu, impor bawang putih diperkirakan mulai berkurang secara bertahap seiring meningkatnya produksi dalam negeri.

“Kita diharapkan dalam 3-4 tahun konsumsi yang selama ini terpenuhi impor akan terjadi-angsur berkurang. Syukur-syukur sudah nol dan kita bisa swasembada,” ujar Sudaryono.

Upaya mengejar swasembada bawang putih dilakukan di tengah tren penurunan impor dalam beberapa tahun terakhir. Namun, Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor bawang putih Indonesia selama lima tahun terakhir memang cenderung menurun. Pada tahun 2021, volume impor tercatat mencapai 602.745 ton, lalu turun menjadi 566.175 ton pada tahun 2022.

Penurunan berlanjut pada tahun 2023 menjadi 564.027 ton dan kembali menyusut menjadi 555.886 ton pada tahun 2024. Tren penurunan paling tajam terjadi pada tahun 2025 ketika impor bawang putih turun menjadi 450.339 ton atau penurunan sekitar 18,99 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski demikian, pasokan bawang putih Indonesia masih didominasi impor. BPS mencatat Tiongkok tetap menjadi negara asal utama impor bawang putih Indonesia sepanjang periode 2021-2025.(Muh/*)

Exit mobile version