Nasional

Potensi Awan Cumulonimbus 1-7 Juni 2026, BMKG Petakan Wilayah dengan Cakupan Tertinggi

23
×

Potensi Awan Cumulonimbus 1-7 Juni 2026, BMKG Petakan Wilayah dengan Cakupan Tertinggi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi awan cumulonimbus, petir. FOTO/Mint_Images

posaceh.com, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di wilayah Indonesia untuk periode 1 hingga 7 Juni 2026.

Informasi tersebut merupakan produk prakiraan cuaca penerbangan yang disusun berdasarkan model cuaca numerik guna memberikan gambaran sebaran potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus selama tujuh hari ke depan.

Awan Cumulonimbus dikenal sebagai jenis awan konvektif yang dapat berkaitan dengan fenomena cuaca signifikan seperti hujan lebat, petir, angin kencang, hingga penurunan jarak pandang.

Karena itu, keberadaan awan ini menjadi salah satu parameter yang diperhatikan dalam aktivitas penerbangan maupun pelayaran.

Tiga Wilayah dengan Cakupan Awan Cumulonimbus Tertinggi

Berdasarkan peta prakiraan BMKG, terdapat tiga wilayah yang masuk kategori Frequent (FRQ), yakni wilayah dengan persentase cakupan spasial awan Cumulonimbus lebih dari 75 persen selama periode 1-7 Juni 2026.
Wilayah tersebut meliputi:

• Kalimantan Selatan;
• Selat Makassar bagian selatan;
• Selat Makassar bagian tengah.

Kategori Frequent menunjukkan potensi keberadaan awan Cumulonimbus yang relatif lebih luas dibandingkan wilayah lain yang masuk kategori Occasional (OCNL) maupun Isolated (ISOL).

Sebaran Potensi Awan Cumulonimbus Kategori OCNL

Selain wilayah kategori FRQ, BMKG juga memprakirakan sejumlah daerah masuk kategori Occasional (OCNL), yakni wilayah dengan persentase cakupan spasial maksimum awan Cumulonimbus berkisar antara 50 hingga 75 persen.

Wilayah yang termasuk kategori ini antara lain:
Pulau Sumatera dan Sekitarnya:

Pulau Sumatera dan Sekitarnya:
• Aceh, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Bengkulu, Samudra Hindia barat Lampung, serta Samudra Hindia selatan Banten.

Pulau Jawa:
• Banten dan Jawa Barat.

Kalimantan:
• Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Selat Karimata bagian utara dan selatan, serta Laut Jawa bagian barat, tengah, dan timur.

Sulawesi:
• Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Selat Makassar bagian utara, Laut Sulawesi bagian barat, tengah, dan timur, serta Teluk Bone.

Maluku dan Papua:
• Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Papua Tengah, Laut Banda, Laut Maluku, Laut Seram, Samudra Pasifik utara Maluku, dan Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya.

Wilayah Perairan Lain:
• Laut Arafuru bagian utara, Laut Flores, Laut Natuna Utara, Selat Malaka bagian tengah dan utara.

Kategori dalam Prakiraan BMKG

BMKG menjelaskan informasi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus dibagi ke dalam tiga kategori berdasarkan persentase cakupan spasial maksimum.

Kategori Isolated (ISOL) menunjukkan cakupan area kurang dari 50 persen. Kategori Occasional (OCNL) menunjukkan cakupan antara 50 hingga 75 persen, sedangkan kategori Frequent (FRQ) menunjukkan cakupan area lebih dari 75 persen.

Persentase tersebut menggambarkan luas potensi cakupan awan Cumulonimbus di suatu wilayah berdasarkan hasil pemodelan cuaca, bukan probabilitas terjadinya hujan pada satu lokasi tertentu.

Masyarakat dapat memantau perkembangan cuaca harian dan peringatan dini terbaru melalui kanal resmi BMKG, termasuk aplikasi InfoBMKG, karena kondisi cuaca aktual dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer yang berkembang setiap hari.(Muh/*)