NewsOlahraga

Peunayong, Penang, Nagoya : Jalan Panjang Victor di Wushu

24
×

Peunayong, Penang, Nagoya : Jalan Panjang Victor di Wushu

Sebarkan artikel ini
Pelatih Tim Wushu Indonesia, Victor Wiranata.

posaceh.com – Udara Jakarta merengkuh dengan sisa pengap, di Jalan Sabang, arus kendaraan mengerang pelan, merayap ketika jarum jam menunjuk angka 09.20 WIB, Rabu (16/9/2026). Di sebuah sudut klasik bernama Oey Kopi, waktu seolah melambat.

Di sanalah ia duduk. Tegap, proporsional, tatapan matanya memantulkan ketenangan seorang petarung. Victor Wiranata pria kelahiran 32 tahun silam di Peunayong, Banda Aceh ini menyapa dengan senyum yang meneduhkan.

Hanya hitungan jam lagi, sayap pesawat akan membawanya menyeberangi langit menuju Nagoya, Jepang. Bukan sebagai turis, melainkan sebagai arsitek pertarungan.

Bertengger di Puncak

Komite Olimpiade Indonesia (KOI) merilis lima nahkoda untuk Wushu Indonesia di Asian Games XX Nagoya. Nama paling atas itu milik anak Aceh. Di bawahnya, mengapit, ada Laksamana Pandu Pratama dan Susyana Tjhan dari DKI Jakarta, serta dua maestro dari tanah leluhur wushu itu sendiri, Yuening Zhang dan Zhen Liu dari Tiongkok.

Ia kini berdiri sejajar dengan para penjaga hegemoni dunia. Wushu lahir dari rahim Tirai Bambu, dan kini Tiongkok adalah tembok besar yang belum runtuh di panggung dunia.

Minderkah ia karena hanya datang dari ujung barat Sumatera?. “Sangat tidak! Kami bekerja profesional. Saling menyapa, saling menghormati tugas,” ujar Victor sambil mengaduk cappuccino panasnya.

Di sampingnya, Ketua Pengprov Wushu Aceh yang juga Ketua Harian KONI Aceh, Kennedi Husen, SE, mengangguk pelan.

Bermula di Negeri Jiran

Kisah Victor bersama wushu justru tidak bermula di tanah kelahirannya. Benih itu disemai di seberang selat, di Pulau Penang. Saat menempuh kuliah Komunikasi di College Damansara Utama (CDU), matanya menangkap sebuah pemandangan: anak-anak muda begitu lincah menari di atas arena sanda, seni tarung wushu.

Wushu menyapanya bukan dengan kepalan, melainkan dengan filosofi. “Saya pelajari, ternyata ia tidak hanya soal tendangan dan bantingan. Di dalamnya ada napas budaya, ada jejak sejarah, ada kitab tentang kehidupan. Dari sanalah saya ingin memulangkannya ke Aceh, sebagai warisan leluhur,” tutur pria berpostur tinggi 170 cm ini.

Cinta itu ia bawa pulang. Ia tanam di tanah Aceh. Kini, taman itu telah berbunga. Ratusan atlet tumbuh di 14 kabupaten/kota.

Wushu Aceh tidak lagi menjadi milik satu etnis. Ia memeluk semua. Pribumi dan non-pribumi berlatih dalam satu napas, bahkan mayoritas adalah anak-anak pribumi dari penjuru Aceh.

Cabang olahraga ini memang tidak mengenal perguruan yang mengkotak-kotakkan. Ia hanya mengenal satu rumah besar bernama keluarga besar wushu.

Bukti bahwa rumah itu telah kokoh adalah hadirnya Wushu di PORA XIV dan Pra PORA XV 2026. Syarat mutlak sebuah cabang bisa bertarung di PORA adalah memiliki minimal 14 Pengcab, Wushu Aceh telah melampauinya.

Mengenal sabuk

Di keluarga besar wushu, hanya ada dua bahasa yaitu Sanda yang berbicara dengan pertarungan, dan Taolu yang berbisik lewat keindahan seni.

Tidak ada ikat pinggang warna-warni yang membedakan kasta. Tidak ada sebutan guru yang meninggikan jarak. Yang ada hanya kematangan jurus dan kedalaman teknik yang menjadi hakim.

Keseimbangan diciptakan oleh berat badan, bukan oleh sabuk. Sanda sendiri adalah puisi tubuh yang paling jujur. Ia adalah pertarungan komplit, full body contact. Di sana, pukulan menyalak, tendangan menghentak, dan bantingan merobohkan.

Jika kickboxing dan muaythai adalah tentang striking, maka sanda menambahkan satu bait lagi bantingan yang mematikan.

Jejak Aceh di panggung nasional pun mulai terukir. Sudah satu dekade wushu berdiam di Serambi Mekkah. Buah paling ranum dipetik di PON XXI Aceh-Sumut, tiga medali perak berhasil disematkan di dada Aceh.

Sebuah capaian murni. Bukan comotan. Semua ditempa dari nol, dengan keringat atlet lokal yang butuh empat tahun untuk menjadi permata PON.

Mimpi dari Toko Obat Mustajab
Victor adalah anak sulung dari tiga bersaudara, lahir di Peunayong, 28 April 1994, dari rahim keluarga pedagang. Orang tuanya adalah pemilik Toko Obat Tradisional Mustajab, toko legendaris yang kini telah ditinggalkan sang pendiri untuk selamanya.

Darah dagang itu mengalir dalam nadinya. Di sela kesibukannya sebagai pelatih, ia tetap merawat warisan toko obat itu, sekaligus merintis toko perlengkapan olahraga bela diri yang baru berusia enam bulan.

“Passion saya memang dagang. Toko tetap berjalan, ada staf yang menjaga, bahkan saat saya di Nagoya nanti,” ujarnya dengan balutan busana kasual yang menjadi ciri khasnya.

Perjalanan akademiknya membentang dari SD Methodist Banda Aceh, SMP di Medan, kembali ke SMA Methodist Banda Aceh, lalu menyeberang ke Penang untuk meraih gelar sarjana. Di kota pulau itulah, takdir mempertemukannya dengan wushu.

Keberhasilannya mengantarkan tiga anak didiknya ke partai puncak PON XXI menjadi tiket emasnya. KOI tidak memilihnya karena popularitas, melainkan karena ia adalah pencetak, bukan pemungut atlet.

Merobohkan Tembok Besar
Lalu, apa yang masih membara di dadanya?
“Sejujurnya, tantangan terbesar saya saat ini adalah melahirkan petarung Indonesia yang mampu meruntuhkan tembok dominasi Tiongkok, Korea, dan Jepang di Asian Games. Di SEA Games, Merah Putih sudah menjadi juara umum. Kini saatnya Asia,” kata Victor, matanya menatap jauh.

Di Nagoya nanti, Indonesia hanya akan mengirimkan enam gladiator terbaiknya di nomor sanda: kelas 56 kg putra, 60 kg putra, 65 kg putra, 68 kg putra, dan dua kelas ringan putri.

Jarum jam merangkak menuju angka 12.00. Perbincangan kami harus diakhiri. Di ujung pertemuan, Kennedi Husen dengan mata berkaca menitipkan amanah dari KONI Aceh, sebuah kado uang saku sebagai tanda terima kasih. Terima kasih karena seorang anak Peunayong telah membawa nama Aceh ke altar tertinggi Asia.

Selamat bertarung, Suhu Victor. Biarkan Nagoya mendengar gema langkahmu, dari Peunayong untuk Indonesia. (Sdm).