posaceh.com, Beijing – Pemerintah China yang telah menerapkan kebijakan satu anak puluhan tahun, kini menjadi petaka tak terhindarkan. Tak pelak, sebagian besar Taman Kanak-Kanak (TK) di Tiongkok menjadi panti jompo seiring dengan semakin parahnya krisis kelahiran.
Dilanda penurunan angka kelahiran dan populasi yang menua dengan cepat, puluhan ribu TK di Tiongkok telah mengurangi operasionalnya, menutup seluruhnya, atau mengubah menjadi industri untuk bertahan hidup.
Salah satu TK di provinsi timur Zhejiang masih berfungsi sebagai tempat penitipan anak, namun alih-alih melayani anak-anak, mereka kini melayani warga lanjut usia (lansia), seperti dikutip CNBC, Jumat (1/11/2024).
Tahun lalu, Zhuang Yanfang (56) mengubah TK miliknya di kota Jinhua, Zhejiang, menjadi pusat perawatan lansia.
Dia mengatakan kepada media lokal mendapatkan ide tersebut setelah berjuang untuk mendapatkan bayi dan balita untuk memenuhi ruang kelasnya tidak berhasil. Hampir tidak ada sisa-sisa TK yang terlihat di foto-foto bangunan berbentuk segi empat yang telah direnovasi. Dindingnya yang tadinya berwarna-warni dicat ulang menjadi putih susu.
Bahkan, papan tulisnya diganti dengan papan buletin, berisi informasi tentang layanan kesehatan dan makanan bergizi untuk para lansia. Angka kelahiran di Tiongkok mengalami tren penurunan drastis sejak pemerintah menerapkan “kebijakan satu anak” yang ketat secara nasional pada tahun 1980.
Meskipun negara tersebut melonggarkan kebijakan tersebut pada 2016, angka kelahiran tetap terus menurun. Seperti dari tahun 2021 sampai 2023, jumlah anak yang mengikuti pendidikan prasekolah turun hampir 15% menjadi hanya di bawah 41 juta anak.
Maka tidak mengherankan jika TK, termasuk negeri dan swasta juga ditutup selama dua tahun tersebut, turun sebanyak 20.000 anak di seluruh negeri, menurut analisis data CNBC dari Kementerian Pendidikan Tiongkok.
Hal ini bertepatan dengan upaya pemerintah untuk menutup TK milik swasta dan berupaya membuka lebih banyak taman kanak-kanak yang didukung negara untuk menurunkan biaya bagi keluarga.
Sebaliknya, ketika anak-anak prasekolah turun drastis, industri perawatan lansia justru berkembang pesat di tengah krisis populasi menua di Tiongkok.
Jumlah institusi dan fasilitas layanan perawatan lansia telah meningkat dua kali lipat dari 2019 menjadi lebih dari 410.000 sampai akhir Oktober 2024, menurut Partai Komunis Tiongkok.
Pemerintah Tiongkok telah mengintensifkan langkah-langkah kebijakan untuk mendukung “ekonomi perak”, yaitu sektor yang menyediakan barang dan jasa bagi masyarakat berusia di atas 50 tahun, dalam upaya mengatasi populasi lansia.
Dalam pedomannya, Kantor Umum Dewan Negara menyerukan percepatan pengembangan institusi perawatan lansia dan merangsang konsumsi warga lanjut usia.
“Penuaan di Tiongkok akan semakin meningkat,” kata Harry Murphy Cruise, ekonom di Moody’s Analytics. Dia memperkirakan bahwa pada 2040, sekitar 30% dari total populasi akan berusia di atas 65 tahun, dari 15% saat ini.
Bahkan, katanya, jumlah penduduk di bawah 15 tahun turun menjadi lebih dari 10%, dari 17% saat ini. “Penuaan ini akan meningkatkan potensi ukuran pasar barang dan jasa yang menyasar warga lanjut usia,” tandas Cruise.(Muh/*)











