Internasional

Perusahaan Roket Ruang Angkasa AS Khawatirkan Senjata Pembunuh Satelit Tiongkok

813
×

Perusahaan Roket Ruang Angkasa AS Khawatirkan Senjata Pembunuh Satelit Tiongkok

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi senjata pembunuh satelit Tiongkok di ruang angkasa. FOTO/PCMAG

posaceh,com, Washington – Sebuah perusahaan peluncuran roket ruang angkasa Amerika Serikat (AS) mengkhawatirkan senjata pembunuh satelit Tiongkok. Mendesak Pemerintah AS untuk mengembangkan senjata pesawat luar angkasa guna mempertahankan diri dari serangan Tiongkok.

Tory Bruno, CEO United Launch Alliance (ULA), menerbitkan postingan blog yang memperingatkan Tiongkok telah mempersenjatai ruang angkasa dengan menempatkan satelit pembunuh di orbit bumi. Senjata-senjata ini dapat melancarkan serangan pertama dengan mengganggu jaringan komunikasi AS jika terjadi perang.

“Dulu kami khawatir konflik terestrial akan meluas hingga ke luar angkasa. Kini kami tahu, konflik akan dimulai dari luar angkasa,” katanya, seperti dilansir PCMag, Jumat (6/12/2024). Bruno sangat prihatin dengan serangan Tiongkok terhadap satelit-satelit yang mengorbit rendah Bumi, termasuk hampir 7.000 satelit yang mencakup jaringan Starlink SpaceX, milik Elon Musk.

Karena orbitnya yang rendah, Bruno mengklaim rudal dari China bisa mencapainya dalam waktu 10 hingga 15 menit. “Satelit-satelit tersebut mengorbit dalam cangkang yang tipis dan padat, membuatnya rentan terhadap serangan berjenjang yang dengan sengaja menimbulkan puing-puing yang dapat dengan cepat menyebar melalui banyak satelit,” tambahnya.

Hal itu berarti, Tiongkok secara teoritis dapat melumpuhkan sebagian besar jaringan Starlink. Bruno mengatakan menempatkan satelit dalam gabungan beberapa orbit akan membantu jaringan satelit AS menahan beberapa pukulan dari serangan semacam itu.

Ilustrasi senjata ruang angkasa AS menghancurkan senjata pembunuh satelit Tiongkok. FOTO/PCMAG

Namun untuk sepenuhnya melawan ancaman tersebut, CEO ULA itu mendorong militer AS untuk mengembangkan satu skuadron pencegat yang sangat cepat, jarak jauh, dan mematikan. “Untuk menggunakan analogi angkatan laut, kita membutuhkan kapal perusak di orbit, Greyhounds of Space,” tambahnya.

Bruno menggambarkan mereka sebagai kendaraan besar dengan pasokan bahan bakar dan mesin yang cukup untuk bermanuver dengan cepat di orbit Bumi dan menghancurkan satelit pembunuh Tiongkok. “Beberapa kendaraan semacam itu bisa berpatroli di seluruh orbit bumi,” katanya.

Proposal tersebut mungkin tampak tidak masuk akal, tetapi hal ini muncul di tengah kekhawatiran nyata mengenai invasi Tiongkok ke Taiwan, yang dapat memicu perang dengan AS. Pada tahun 2019, laporan Pentagon juga menyebutkan Tiongkok dan Rusia kemungkinan besar sedang membangun laser berkekuatan tinggi yang dapat menembak jatuh satelit dan rudal AS.

Jelas sekali, perang antariksa dapat menimbulkan konsekuensi yang menghancurkan. Kekhawatiran utama adalah ancaman tumpukan puing-puing orbit akibat serangan satelit, sehingga menciptakan lebih banyak tabrakan dan puing-puing serta menyebabkan beberapa di antaranya tidak dapat digunakan.

Bruno mengakui hal ini tetapi mengatakan, “Ada sejumlah teknik untuk melumpuhkan penyerang dengan cara yang aman dan tidak menimbulkan polusi. Salah satunya dengan pendekatan yang tepat.”

Tidak jelas seberapa serius Bruno tentang ide Greyhound di luar angkasa. ULA tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Sementara itu, perusahaan tersebut sedang menyempurnakan roket Vulcan Centaur, yang dikontrak Amazon untuk meluncurkan satelit Project Kuiper ke luar angkasa. Vulcan Centaur juga dijadwalkan untuk menerbangkan lebih dari dua lusin misi Badan Luar Angkasa AS (NASA).(Muh/*)