posaceh.com, Kota Jantho – Dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup se-dunia, Solidaritas Perempuan (SP) Bungoeng Jempa Aceh, gelar aksi penanaman pohon dan pungut sampah sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Badan Eksekutif SP Aceh, Yeni Hartini selaku Koordinator Program SP Aceh mengatakan, kegiatan tersebut bagian dari kampanye untuk mendorong para pihak agar bersama-sama ikut mencegah segala bentuk tindakan yng merusak lingkungan, mengajak semua orang peduli terhadap kerusakan lingkungan, terutama kawasan yang rentan terjadinya pencemaran dari perusahaan pertambangan.
“Alasan utama kita menggelar aksi ini sebagai bentuk kepedulian terhadap kerusakan lingkungan, bagi SP kerusakan lingkungan dipandang rentan bagi keberlanjutan kehidupan perempuan, karena ketika alam rusak maka manusia yang paling rentan mendapatkan dampaknya merupakan perempuan, mereka yang mengalami penderitaan yang berlebih jika dibandingkan laki laki, contoh saja pada saat terjadinya kekeringan, ketiadaan air merupakan awal penderitaan perempuan,” ucapnya, di Pesisir Pantai Lhoknga Kabupaten Aceh Besar, Senin (5/6/2023) sore.

FOTO/ WAHYU DESMI
Menurutnya, untuk menciptakan lingkungan yang bersih serta terbebas dari berbagai bentuk eksploitasi, pencemaran, baik itu pencemaran karena lokasi yang berdekatan dengan perusahaan industri, maupun pencemaran berdasarkan penyebab lainnya, salah satu yang bisa kami lakukan saat ini adalah menanam pohon dan mengedukasi masyarakat untuk bersama sama melakukan pencegahannya,” ujar Yeni.
Sementara itu, Ketua Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) Ruwaida menuturkan, pelaksanaan kegiatan tersebut bagian dari kampaye ekologi, bagaimana mengintergrasikan nilai2 agama, norma norma adat dalam kapanye perawatan lingkungan sebagai bagian tanggung jawab kita bersama berdasarkan ajaran agama, sebagai khalifah bumi yang diberi tanggung jawab besar untuk menjaga keberlanjutan alam, hal ini sebenarnya sudah dilakukan oleh orang-orang terdahulu, mari kita lanjutankan, jikapun belum bisa merawat, minimal jangan melakuka kerusakan” katanya.
Ia menyebutkan, kondisi lingkungan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Cuaca panas yang melanda, tidak boleh hanya dianggap sebagai fenomena alam, perubahan iklim sudah semakin nyata. “Alam kita tidak baik baik saja, butuh kontribusi dan perhatian semua orang, kegiatan yang serupa harus selalu dilakukan bukan hanya sebatas memperingati hari lingkungan, agar kita bisa memulihkan kondisi ini,” tuturnya.
Kemudian, lanjut Ruwaida, bergerak dan memberikan konstribusi untuk alam, merupakan prinsip dasar dalam menjalani kehidupan. Dalam hal itu, dapat mewariskan kehidupan bagi generasi penerus yang lebih baik dan terhindar dari pencemaran lingkungan.
“Kita hidup dimuka bumi ini harus dapat mendudukan diri setara dengan alam, sama-sama sebagai makhluk Tuhan, mengambil sesuatu dari alam dengan arif dan berkontribusi untuk keberlanjutan alam,” pungkasnya.
Dalam aksi tersebut, turut dihadiri perwakilan dari Aceh Women’s for Peace Foundation (AWPF), Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI), World Wide Found for Nature (WWF), Balai Syura Ureung Inoeng Aceh (BSUIA), Anak Muda Demres, Maha, Kelompok Muda Gereja Katolik, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Jaringan Masyarakat Sipil, dan Perempuan Grassroot.(Wahyu Desmi)











