posaceh.com, Kairo – Israel sedang merencanakan untuk menyerang situs nuklir Iran untuk meredam tekanan publik di dalam negeri. Keberhasilan membombardir Lebanon tanpa perlawanan yang berarti, menjadi sinyal membombardir Iran, salah satu negara dengan militer kuat di Timur Tengah.
“Tidak akurat jika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menunda potensi serangan terhadap situs nuklir Iran,” kata pengamat militer Timur Tengah, Elijah Magnier kepada Al Jazeera, Jumat (4/10/2024).
Dia menjelaskan sebelum pembunuhan para pemimpin tertinggi Hizbullah, termasuk Hassan Nasrallah, Netanyahu sedang mencari jalan keluar dari warganya sendiri yang menentangnya.
Dikatakan, sebagian besr warga Israel minta Netanyahu menghentikan perang di Jalur Gaza dan menjamin pembebasan semua tahanan Palestina di penjara Israel. “Tetapi begitu dia mengarahkan senjatanya ke Lebanon, segalanya berubah,” katanya.
Dia menambahkan pemboman ke Yaman, pembunuhan ketua politbiro Hamas Ismail Haniyeh di Teheran, ledakan pager dan walkie-talkie, dan serangan terhadap Hizbullah meningkatkan reputasinya.
Dikatakan, kembalinya Gideon Saar ke dalam kabinetnya juga memberi Netanyahu lebih banyak dukungan di Knesset. “Untuk saat ini, Netanyahu berkepentingan terus melakukan eskalasi hingga November 2024,” ungkapnya.
Dia mengatakan Netanyahu perlu mengetahui siapa yang akan menjadi presiden di Amerika Serikat. “Kami melihat kemungkinan untuk menyerang Iran akan meningkat berkali-kali lipat jika Donald Trump menang,” pungkasnya.(Muh)
