posaceh.com, Kota Jantho – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Besar terus mempercepat penanganan bencana kekeringan yang berdampak pada kebutuhan air bersih masyarakat dan sektor pertanian. Sejak status darurat bencana kekeringan ditetapkan pada 30 Juli 2026, berbagai langkah dilakukan untuk menjaga pasokan air bagi masyarakat sekaligus menyelamatkan lahan pertanian.
Hal tersebut disampaikan dalam rapat penanganan bencana kekeringan yang dipimpin Bupati Aceh Besar H Muharram Idris (Syech Muharram) di Posko Penanganan Bencana, Pos Induk Damkar BPBD Aceh Besar, Sibreh, Kecamatan Sukamakmur, Senin (3/8/2026).
Pemkab Aceh Besar memfokuskan penanganan pada dua sektor utama, yakni penyediaan air bersih dan penyelamatan lahan pertanian. Untuk kebutuhan masyarakat, distribusi air dilakukan melalui pengaturan layanan PDAM Tirta Mountala, pengiriman mobil tangki, serta penempatan tandon air di sejumlah titik, di antaranya Gampong Lamsidaya, Kecamatan Darul Imarah, dan Lampanah Leungah, Kecamatan Seulimeum.
Sementara untuk sektor pertanian, distribusi air diprioritaskan ke kawasan sentra produksi padi, salah satunya yakni untuk kawasan Blang Raya Kecamatan Sukamakmur, Simpang Tiga, dan Kecamatan Ingin Jaya yang mencakup sekitar 200 hektare areal persawahan. Berdasarkan hasil peninjauan, sekitar 85 persen lahan telah berhasil dialiri air, sedangkan sisanya masih memerlukan dukungan pompa air.
Pada kesempatan itu, Bupati Syech Muharram mengatakan, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) bergerak bersama sejak status darurat ditetapkan.
“Permasalahan ini tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga terhadap kebutuhan air bersih masyarakat. Karena itu seluruh perangkat daerah harus bekerja secara terpadu agar penanganannya berjalan maksimal,” ujarnya.

Syech Muharram menjelaskan, menurunnya debit air baku di Krueng Aceh turut memengaruhi operasional PDAM Tirta Mountala sehingga distribusi air kepada pelanggan dilakukan secara bergiliran. Meski demikian, kondisi debit air mulai menunjukkan peningkatan, dari sekitar 55 sentimeter menjadi 80 sentimeter berdasarkan laporan Dinas PUPR Aceh Besar.
Untuk memperkuat penanganan, Pemkab Aceh Besar juga memperoleh dukungan lima unit pompa air pinjam pakai dari Balai Wilayah Sungai (BWS) sebagai bagian dari rencana penyediaan 20 unit pompa. Pemerintah juga mengatur distribusi air irigasi secara bergiliran antara wilayah hulu, tengah, dan hilir agar seluruh areal pertanian memperoleh pasokan air.
Di sisi lain, Dinas Pertanian Aceh Besar melakukan verifikasi di sejumlah kawasan terdampak untuk memastikan penyebab penurunan produktivitas sawah, apakah akibat kekeringan atau serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), sehingga penanganan dapat dilakukan secara tepat.
Sementara itu, Wakil Bupati Aceh Besar Drs H Syukri A Jalil menegaskan, penanganan bencana kekeringan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen, mulai dari pemerintah kabupaten, kecamatan hingga aparatur gampong. Menurutnya, koordinasi yang baik dan penyampaian informasi secara cepat menjadi kunci agar setiap persoalan di lapangan dapat segera ditangani.
“Penanganan kekeringan ini tidak bisa dilakukan sendiri. Harus ada keterlibatan semua pihak, mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan hingga gampong. Yang paling penting adalah koordinasi dan penyampaian informasi mengenai kondisi di lapangan agar setiap permasalahan dapat segera ditangani sesuai kebutuhan,” ucap Syukri.
Wabup Syukri juga menginstruksikan para camat di seluruh Aceh Besar agar terus memantau perkembangan kondisi di wilayah masing-masing dan segera melaporkannya kepada pemerintah kabupaten. Dengan demikian, penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran. Syukri memastikan pemerintah akan terus hadir bersama masyarakat dalam menghadapi dampak kekeringan.
“Kami berharap para camat aktif melaporkan setiap perkembangan di wilayahnya masing-masing. Pemerintah akan terus hadir bersama masyarakat, dan kami juga mengajak seluruh warga untuk saling membantu serta saling memahami agar dampak kekeringan ini dapat kita atasi bersama,” pungkasnya.
Rapat percepatan penanggulangan bencana kekeringan tersebut turut dihadiri oleh Asisten I Sekda Aceh Besar Farhan AP, Asisten III Abdullah SSos, Kalaksa BPBD Ridwan Jamil SSos MSi, Plt Kadis Pertanian Imam Munandar STP, Perwakilan BWS Aceh, Plt Direktur PDAM Tirta Mountala Ir Yusmadi MM, para camat se-Kabupaten Aceh Besar, serta para ketua forum keuchik kecamatan se-Aceh Besar.(Why)











