posaceh.com, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengaku, pihaknya telah mengirimkan tim ke lapangan untuk mengecek temuan beras bantuan Presiden yang dikubur di Depok, Jawa Barat. Pihaknya pun masih menunggu hasil penyelidikan tim di lapangan.
“Belum (ada hasil). Mereka masih ada di lapangan dan sudah ada dari Polri. Sekarang Irjen Kemensos, Deputi 1 Kemenko PMK, dan Kepolisian sudah turun ke lapangan,” kata Muhadjir di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (1/8).
Muhadjir mengatakan, sementara ini ia masih berpegang pada pernyataan PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir atau JNE yang menyebutkan bahwa beras tersebut sudah rusak sebelum dibagikan ke masyarakat. “Kalau itu benar, tidak dibuat-buat, berarti beras rusak dan beras rusak itu memang tidak boleh dibagikan kepada masyarakat. Karena Presiden pesan jangan berikan beras ke masyarakat yang kita sendiri nggak mau makan,” ujar dia.
Ia menyampaikan, bantuan beras yang diberikan kepada masyarakat harus dalam kondisi layak konsumsi. Muhadjir pun mengakui, memang sempat terjadi kerusakan beras yang cukup banyak saat proses pengangkutan menggunakan bak terbuka. Beras tersebut rusak karena terkena hujan. Saat itu pun diputuskan bahwa semua beras yang terkena hujan tidak boleh dibagikan kepada masyrakat.
“Kemudian hari itu juga harus diganti. Paling lambat dua hari setelah itu harus diganti. Siapa yang bertanggung jawab, adalah transporter dan Bulog. Jadi kalau ada beras rusak itu adalah tanggung jawab pihak transporter,” kata Muhadjir.
Sebelumnya, pihak perusahaan jasa pengiriman logistik, JNE mengakui telah mengubur sembako bantuan presiden (Banpres) di lahan kosong di Jalan Tugu Jaya Kampung Serab, Kelurahan Tirtajaya, Kota Depok. VP of Marketing JNE Express, Eri Palgunadi mengatakan, sembako berupa beras itu ditimbun karena sudah dalam kondisi rusak. Ia mengeklaim, tak ada pelanggaran prosedur dalam aksi penimbunan tersebut, karena sesuai dengan perjanjian antara pihaknya dan pemerintah.
