posaceh.com, Banda Aceh – Pelatihan Kepemimpinan Pemuda Tahun 2026 digelar di Hotel Al Hanifi, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan ini menjadi ruang pembinaan bagi generasi muda untuk memperkuat karakter, kapasitas kepemimpinan, serta kesiapan menghadapi berbagai tantangan zaman.
Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Dr. Musriadi Aswad, M.Pd, yang hadir dalam kegiatan tersebut, mengajak para pemuda untuk tidak hanya menjadi penonton terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat, tetapi tampil sebagai agen perubahan.
“Pemuda bukan sekadar kelompok usia. Pemuda adalah energi perubahan. Dalam sejarah bangsa, hampir setiap perubahan besar selalu memiliki jejak keberanian anak muda,” ujar Musriadi.
Menurutnya, Aceh saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pendidikan, lapangan kerja, kemiskinan, narkoba, lingkungan, perkembangan teknologi, literasi, ekonomi kreatif hingga persoalan moral generasi muda.
Karena itu, Musriadi meminta pemuda memiliki keberanian untuk menghadirkan gagasan dan solusi.
“Jangan menjadi generasi yang hanya mengeluh terhadap keadaan. Jadilah generasi petarung dalam segala medan,” tegasnya.
Kepemimpinan Dimulai dari Diri Sendiri
Musriadi mengatakan, kepemimpinan yang kuat harus dimulai dari kemampuan seseorang dalam memimpin dirinya sendiri. Pemuda harus mampu mengatur waktu, disiplin, mengendalikan emosi, tidak mudah menyerah serta memiliki visi hidup yang jelas.
“Bagaimana mungkin kita ingin memimpin masyarakat kalau kita mudah marah, mudah menyerah dan tidak disiplin?” katanya.
Ia mengajak pemuda mulai memikirkan kontribusi yang ingin diberikan untuk Aceh dalam lima, sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan.
Pemuda Harus Adaptif terhadap Teknologi
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, media sosial, ekonomi digital, big data dan teknologi komunikasi, Musriadi juga mengingatkan pemuda agar tidak gagap terhadap perubahan.
Menurutnya, pemuda tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus memiliki kemampuan literasi teknologi.
“Jangan sampai teknologi yang seharusnya kita kendalikan justru mengendalikan hidup kita,” ujarnya.
Selain adaptif, pemuda juga harus menjadi problem solver. Seorang pemimpin, kata Musriadi, bukan orang yang paling banyak mengeluh ketika menghadapi persoalan, tetapi orang yang hadir dan mencari solusi.
Organisasi sebagai Laboratorium Kepemimpinan
Musriadi turut mendorong pemuda untuk aktif dalam organisasi. Menurutnya, organisasi merupakan salah satu ruang terbaik untuk belajar kepemimpinan secara langsung. “Di organisasi, kita belajar memimpin rapat, menyampaikan pendapat, mendengar kritik, menyusun program, mengelola konflik, mengatur anggaran, membangun jaringan dan mempertanggungjawabkan keputusan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling kuat atau paling banyak berbicara, tetapi tentang kemampuan menyatukan perbedaan menjadi kekuatan bersama.
Jangan Tunggu Menjadi Pemimpin untuk Berbuat
Dalam kesempatan tersebut, Musriadi menitipkan pesan agar generasi muda tidak menunggu memiliki jabatan atau kekuasaan untuk mulai memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Jangan menunggu menjadi pemimpin untuk mulai berbuat. Berbuatlah mulai sekarang, maka kepemimpinan akan tumbuh dari proses itu,” katanya.
Ia berharap Pelatihan Kepemimpinan Pemuda Tahun 2026 dapat melahirkan generasi muda Banda Aceh dan Aceh yang beriman, berilmu, berkarakter, adaptif, kreatif, kolaboratif serta berani mengambil tanggung jawab.. Yang paling penting, jadilah manusia yang bermanfaat,” pungkas Musriadi.(Hadi)
