posaceh.com, Banda Aceh – Aceh yang dikenal dengan sejarah panjang, bahkan sempat mengalami masa jayanya di bawah Sultan Iskandar Muda bersama sejumlah ulama besar dapat dilihat kembali di Museum Aceh, Jalan STA Mahmudsyah, Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh.
Dalam kompleks ini yang berada di bawah naungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Aceh telah dibangun gedung khusus dengan ceritanya juga khusus.
Saat masuk dari jembatan, langsung disuguhkan dengan rumoh Aceh atau rumah tradisional Aceh yang mulai tergerus zaman, hanya tersisa beberapa lagi di wilayah pedesaan Aceh, khususnya timur Aceh.
Tidak ketinggalan, Lonceng Cakradonya, hadiah dari Kerajaan China kepada Kerajaan Aceh yang dipimpin Sultan Iskandar Muda, berdiri kokoh untuk menyambut para pengunjung yang datang, baik lokal, nusantara maupun mancanegara.
Di sampingnya, terdapat Gedung Perpustakaan yang menyimpan bukti sejarah Aceh melalui tulisan buku era Kesultanan Aceh sampai Hindia Belanda. Dari buku-buku yang tersimpan rapi di etalase kaca atau juga rak buku, dapat diketahui perjalanan panjang negeri ini.
Tulisan buku, bukan hanya Bahasa Indonesia ejaan lama, tetapi juga ejaan baru, selain berbahasa Belanda, Inggris serta juga Aceh. Edisi media cetak tempo dulu sampai saat ini juga dapat dibaca di museum ini.
Petugas Perpustakaan, seorang wanita paruh baya yang sempat ditemui pada Selasa (27/5/2025) siang dan tidak mau namanya disebutkan mengatakan pengunjung dapat membaca seluruh buku di tempat ini, tetapi tidak boleh dipinjam dibawa pulang.
Dia mengungkapkan sejumlah peneliti sejarah sering datang untuk membaca sejumlah literasi buku sejarah yang akan ditulis ulang dengan bahasa kekinian atau juga sebagai bahan referensi penelitiannya.
Ditambahkan, pelajar atau mahasiswa juga sering datang untuk melihat-lihat dan membaca buku yang disimpan di tempat ini, sebagian sudah usang dimakan zaman, mungkin sudah berusia di atas satu abad lebih.
Selain Perpustakaan, juga ada gedung Pameran Tetap yang dibuka setiap hari dan yang banyak dikunjungi pengunjung untuk melihat barang-barang Kesultanan Aceh dan lainnya, seperti koin emas, rencong dan siwaih.
Potret perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah Portugis dan Belanda juga dipampang di dalam gedung Pameran Tetap ini, termasuk pada awal era Kemerdekaan RI, seperti menyumbang pesawat, cikal-bakal Garuda Indonesia saat ini.
Kisah lain juga digambarkan di tempat ini yang membuat decak kagum pengunjung atas kepahlawanan wanita Aceh melawan penjajah. Berbagai artefak sejarah juga terdapat di tempat ini.
Juga ada tempat lainnya, gedung Pameran Kontemporer yang memajang kain hasil tenunan tradisional wanita Aceh, termasuk alat tenun yang ditemukan saat masuk dalam gedung.
Yang tak kalah serunya, saat naik ke rumoh Aceh yang memajang berbagai barang peninggalan lama, seperti guci yang digunakan untuk menyimpan air dan jika di bawah tangga, digunakan untuk mencuci kaki sebelum naik ke rumah.
Dalam etalase kaca dapat ditemukan berbagai porselen berupa cangkir atau teko kopi atau teh. Kemudian, juga ada dapur berbahan bakar kayu, ayunan bayi dan tempat tidur bayi, serta berbagai alat rumah tangga lainnya.
Tak ketinggalan, meriam yang digunakan pada masa perang Aceh melawan penjajah Belanda juga dipajang di depan museum, serta yang besar di depan Gedung Baperis, dekat kompleks makam Sultan Iskandar Muda.
Tetapi, untuk masuk ke kedua gedung dan rumoh Aceh, pengunjung hanya cukup membayar Rp 5.000 per orang.
Inilah gambaran sekilas tentang Museum Aceh yang berfungsi menjaga kelestarian budaya dan sejarah Aceh yang panjang dan unik dibandingkan daerah lainnya Indonesia, sehingga sempat dijuluki sebagai Daerah Istimewa Aceh, sama seperti Daerah Istimewa Yogyakarta.(Muh)
