posaceh.com, Banda Aceh – Banda Aceh memang dikenal sebagai kota sejarah dan pantainya nan-indah yang dikelilingi gugusan Bukit Barisan yang membelah lautan, tetapi ada juga keunikan khas dari aneka kuliner yang siap memanjakan lidah wisatawan nusantara dan mancanegara.
Provinsi paling barat Indonesia ini yang menyimpan sejarah panjang Kesultanan Aceh sampai dahsyatnya tsunami 26 Desember 2004, juga memiliki hidangan khas, perpaduan budaya India, Arab dan Melayu.
Seperti dikutip dari laman Dinas Pariwisata Banda Aceh, tentunya, yang paling populer dan terkenal seantero nusantara, Mie Aceh yang merupakan perpaduan dari India. Hasil olahannya, bisa dalam bentuk mie goreng atau mie kuah dengan topping telur, kepiting, daging sapi atau kambing dan seafood.
Mie Aceh dipastikan terasa lezat, karena menggunakan bahan perpaduan, seperti kapulaga, jintan, kunyit, cabai merah, lada, bawang putih, dan daun seledri. Dan pelengkapnya, ada acar mentimun dan emping atau kerupuk udang.
Bagi para wisatawan nusantara yang datang ke Banda Aceh, dapat mencoba mencicipi mie Aceh yang hampir tersedia di seluruh warung kopi, cafe bahkan hotel di seputaran Banda Aceh. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 10 ribu sampai puluhan ribu rupiah per satu porsi, tergantung topping yang diinginkan.
Yang tak kalah populernya, Kuah Beulangong, masakan khas Aceh menggunakan daging kambing atau lembu yang dimasak dengan bumbu kari. Untuk campuran isi kuah berupa nangka muda, pisang muda, atau hati pohon pisang.
Untuk warung kuah beulangong, juga tersebar di seputaran Banda Aceh yang biasanya beroperasi hanya pada siang hari. Wisatawan dapat menikmati kuah beulangong bersama daging goreng atau juga berbentuk sate.
Biasanya, didatangi pengunjung secara berkelompok, seperti membawa wisatawan atau juga pejabat yang kebetulan bertugas ke Banda Aceh. Jadi, untuk mendapatkan warung kuah beulangong cukup mudah dengan harga tidak sampai Rp 100 ribu per satu porsi.
Sedangkan makanan sie reuboh atau daging rebus, hanya dapat ditemukan saat meugang hari raya Idul Fitri atau juga Idul Adha di rumah-rumah warga. Ada juga yang menjual, tetapi terbatas.
Sebagai bagian makanan khas Aceh, sie reuboh disini berupa gumpalan daging beserta gapah (lemak)yang diberi bumbu garam, cabai kering, cabai merah, cabai, dan kunyit.
Gumpalan daging tersebut direbus tanpa disiram air hingga mengering dan dibiarkan selama satu malam di dalam belanga atau periuk terbuat dari tanah. Kemudian, belanga dipanaskan yang membuat gapah yang membalut daging meleleh.
Proses selanjutnya menyiramkan cuka enau dan air sampai daging mengering dan empuk. Daging ini dapat diolah menjadi menjadi beberapa kuliner, seperti kuah asam keueng atau dibuat abon dengan aroma khas sie reuboh.
Masih berbentuk olahan daging, ada yang disebut Sate Matang, masakan yang berupa tusukan daging sate asal Matang Geuleumpang Dua, Bireuen, sehingga disebut sate Matang, tetapi sebenarnya berasal Arab, di mana warga Arab senang dengan daging olahan.
Sate matang ini, awalnya menggunakan daging kambing tetapi sekarang banyak dengan daging sapi. Sate matang yang dibakar dengan bumbu ungkep, disajikan saus kacang bertekstur kasar, dan kuah sup yang berempah.
Untuk sate Matang, para wisatawan dapat menemukan dengan mudah, seperti di depan Hotel Medan, Peunayong, Banda Aceh dan sejumlah tempat lainnya. Harga yang ditawarkan cukup terjangkau, puluhan ribu rupiah per satu porsi.
Makanan olahan selain daging berupa kue apam, hidangan sederhana namun sarat makna, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi kuliner Aceh. Kue ini bukan sekadar camilan, melainkan simbol keramahtamahan dan kekayaan budaya Aceh.
Terbuat dari bahan-bahan sederhana seperti tepung beras, santan, air kelapa, dan sedikit garam, kue apam memiliki cita rasa gurih yang khas dengan tekstur lembut. Proses pembuatannya dengan tangan, bahan diaduk perlahan hingga rata.
Kemudian, adonan dituangkan ke dalam cetakan tanah liat kecil-kecil yang telah dipanaskan di atas tungku kayu. Proses memasak apam yang membutuhkan kesabaran ini menghasilkan aroma harum yang menggugah selera.
Apam Aceh tak hanya lezat, tetapi juga memiliki nilai historis dan sosial yang tinggi. Kue ini sering disajikan pada acara-acara khusus seperti kenduri, pernikahan, atau menyambut bulan suci Ramadhan.
Tradisi “teut apam” di bulan Rajab, misalnya, menjadi momen bagi masyarakat Aceh untuk berkumpul dan mempererat tali silaturahmi sambil menikmati kelezatan kue satu ini.
Dalam era modern, kue apam Aceh masih eksis, bahkan semakin populer. Banyak warung makan dan rumah makan yang menyajikan kue apam sebagai menu andalan.
Meskipun banyak inovasi dalam penyajian, namun cita rasa asli kue apam tetap dipertahankan yang menjadi bukti bahwa warisan kuliner Aceh mampu bertahan dan terus digemari oleh generasi muda dengan harga mulai Rp 1.000 tanpa kuah dan puluhan ribu rupiah dengan manisan gula merah plus topping nangka.
Para wisatawan yang ingin mencicipi kue khas Aceh ini yang juga berasal dari India dapat menemukan di warung-warung kopi dan pedagang gerobak yang khusus menjual kue apam, seperti di Jalan Panglima Nyak Makam dan juga seputaran Banda Aceh, seperti di Ulee Kareng.
Kue khas Aceh lainnya, terbuat dari tepung ketan dan pembungkusnya daun pisang, dengan isian serikaya atau kelapa parut. Dibungkus dengan daun pisang dan dikukus, rasanya manis dan legit, tersedia di toko kue, warung kopi dan pasar tradisional dengan harga mulai dari Rp 1.000 per satu timphan.
Aceh juga punya makanan khas yang hanya bisa ditemukan saat bulan suci Ramadhan yakkni Sambai Oen Peugaga, yang terbuat dari aneka rempah.
Meskipun disebut ‘sambal’, sambai oen peugaga lebih mirip dengan penganan urap.
Hidangan tradisional Aceh ini merupakan warisan leluhur yang unik, kaya akan cita rasa dan bermanfaat untuk kesehatan. Sambai oen peugaga terbuat dari daun pegagan (Centella Asiatica), sebuah tumbuhan merambat yang tumbuh di daerah Aceh.
Tumbuhan ini memiliki beragam khasiat, termasuk meningkatkan konsentrasi, meningkatkan daya ingat, bahkan membantu mengobati masuk angin. Biasanya, dedaunan untuk racikan yang terdiri dari 44 dedaunan ini diperoleh dari pematang sawah atau tempat-tempat yang teduh dan sejuk.
Di bulan suci Ramadhan, Sambai Oen Peugaga menjadi hidangan yang sangat dicari oleh masyarakat Aceh. Banyak yang menganggapnya sebagai hidangan yang wajib ada di meja berbuka puasa, karena selain lezat, juga dianggap memberikan kesehatan bagi yang memakannya.
Bagi wisatawan yang ingin mencicipi berbagai kuliner khas Aceh, maka dapat berkunjung saat Aceh Culinary Festival digelar. Salah satunya dalam Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang digelar lima tahun sekali di Taman Sulthanah Safiatuddin Banda Aceh.
PKA telah diadakan sejak tahun 1958, kemudian 1972, 1988, 2004, 2009, 2013, dan 2018. Pada tahun 2023, gelaran PKA ke-8 berlangsung dari 4 sampai 12 November 2023 di Taman Sulthanah Safiatuddin, Kota Banda Aceh.
PKA tersebut mengangkat isu jalur rempah dengan tema “Rempahkan Bumi, Pulihkan Dunia”. Sehingga, untuk PKA ke-9, harus menunggu tiga tahun lagi atau tahun 2028 mendatang.
Namun, bagi wisatawan yang ingin mencicipi aneka khas kuliner Aceh dapat mendatangi pedagang makanan yang tersebar di seluruh sudut Kota Banda Aceh, dari harga terendah sampai tertinggi, tetapi semuanya tetap dalam harga jangkauan. Selamat mencoba! (Adv)
