News

Ormas Islam di Aceh Pulihkan Aktivitas Sosial-Keagamaan Pascabanjir

31
×

Ormas Islam di Aceh Pulihkan Aktivitas Sosial-Keagamaan Pascabanjir

Sebarkan artikel ini
Penyauran bantuan pascabanjir di Aceh. FOTO/KEMENAG

posaceh.com, Bireuen – Organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Kabupaten Bireuen, Aceh, mulai memulihkan aktivitas sosial-keagamaan setelah terdampak banjir.

Bantuan pascabanjir dari Kementerian Agama menjadi salah satu dukungan untuk memperbaiki fasilitas organisasi dan melanjutkan kegiatan pembinaan masyarakat.

Pengurus Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) Pengurus Daerah Kabupaten Bireuen, Saifan Nur, mengatakan bantuan tersebut mendukung pemulihan sekretariat organisasi yang terdampak banjir.

Menurutnya, sekretariat berperan penting dalam menunjang koordinasi pengurus, perencanaan kegiatan, dan konsolidasi anggota.

“Pemulihan sekretariat karena itu berkaitan dengan keberlanjutan kerja organisasi. Perbaikan fasilitas perlu berjalan seiring dengan upaya mengaktifkan kembali kegiatan, sehingga dukungan yang diterima tidak berhenti pada pemulihan bangunan, tetapi juga membantu organisasi melanjutkan perannya di tengah masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, di sela dialog bersama lembaga sosial-keagamaan Islam penerima bantuan pascabencana di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bireuen, Kamis (22/10/2026).

Saifan menilai dukungan Kementerian Agama membantu organisasi mempertahankan kelembagaan dan melanjutkan aktivitas setelah bencana.

“Kemenag hari ini hadir untuk menjaga kelembagaan dan menjaga kesinambungan aktivitas antara lembaga sehingga pluralisme yang ada dalam agama ini akan dapat berjalan seiring,” ujarnya.

Selain perbaikan fasilitas, keberlanjutan kaderisasi juga menjadi perhatian KB PII Bireuen.

Kegiatan pembinaan membutuhkan tempat, koordinasi, dan dukungan operasional agar proses pengembangan anggota tetap berjalan dan organisasi dapat melanjutkan kontribusi sosialnya.

Saifan menjelaskan bahwa kebutuhan pemulihan setiap organisasi berbeda-beda.

Sebagian lembaga membutuhkan perbaikan bangunan, sedangkan yang lain memerlukan penggantian perlengkapan atau dukungan untuk mengaktifkan kembali kegiatan rutin.

“Pengalaman organisasi terdampak bencana memperlihatkan bahwa kebutuhan pemulihan tidak selalu sama. Ada lembaga yang perlu memperbaiki bangunan, mengganti perlengkapan yang rusak, atau mengaktifkan kembali kegiatan rutin. Karena itu, pemulihan perlu bertolak dari kondisi dan kebutuhan nyata masing-masing penerima bantuan,” jelasnya.

Bagi KB PII Bireuen, bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung pemulihan kegiatan secara bertahap.

Dengan fasilitas dan aktivitas organisasi yang kembali berjalan, proses pembinaan generasi muda serta pengabdian kepada masyarakat diharapkan dapat berlanjut.(Muh/*)