posaceh.com, Kota Jantho – Finalis Duta Wisata Aceh Besar 2026, Muhammad Hafiz, mengajak generasi muda berperan aktif mempromosikan potensi pariwisata daerah melalui pemanfaatan teknologi digital, sekaligus menjaga kelestarian budaya dan lingkungan.
Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh itu menilai, generasi muda memiliki kreativitas dan kemampuan komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan destinasi wisata Aceh Besar kepada masyarakat luas. Promosi tersebut perlu dilakukan dengan tetap memperhatikan identitas budaya dan nilai-nilai syariat Islam.
“Anak muda harus berani mengambil peran dalam mempromosikan pariwisata. Kita bisa memanfaatkan media digital untuk memperkenalkan potensi daerah, tetapi budaya, lingkungan, dan nilai-nilai syariat Islam juga harus tetap dijaga,” ujar Hafiz, di Lampuuk-Lhoknga, Aceh Besar, Kamis (15/10/2026).
Menurutnya, promosi pariwisata tidak cukup hanya menampilkan keindahan alam. Informasi mengenai budaya, tradisi, dan kehidupan masyarakat setempat juga perlu disampaikan agar wisatawan memahami karakter daerah yang dikunjungi.
Hafiz mengatakan, perkembangan media sosial memberikan peluang bagi generasi muda untuk memperkenalkan destinasi wisata melalui foto, video, dan konten edukatif. Namun, upaya tersebut harus diimbangi dengan kepedulian terhadap kebersihan destinasi, pelestarian budaya, dan keberlanjutan lingkungan.
“Promosi wisata jangan hanya mengejar popularitas di media sosial. Kita juga harus memastikan lingkungan tetap terjaga, budaya dihormati, dan masyarakat memperoleh manfaat dari perkembangan pariwisata,” katanya.
Ia memiliki visi mewujudkan pariwisata Aceh Besar yang berdaya saing dan berkelanjutan dengan tetap berlandaskan nilai-nilai budaya serta syariat Islam. Untuk mencapai tujuan tersebut, menurutnya, diperlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas, dan generasi muda.
Hafiz mengungkapkan, keterlibatan pemuda dapat dimulai dari lingkungan terdekat, seperti memperkenalkan potensi wisata gampong, mendokumentasikan tradisi masyarakat, menjaga kebersihan destinasi, dan membantu mempromosikan produk lokal.
“Kontribusi tidak harus dimulai dari program besar. Kita bisa memulai dari lingkungan sendiri dan melakukan hal-hal sederhana yang bermanfaat bagi pengembangan pariwisata daerah,” terangnya.
Selain menjadi finalis Duta Wisata Aceh Besar 2026, Hafiz aktif dalam Senat Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry. Ia juga dipercaya sebagai sekretaris pemuda Gampong Meunasah Mesjid.
Pengalaman berorganisasi tersebut menjadi bekalnya dalam membangun kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kerja sama. Ia menilai, keterlibatan dalam organisasi juga mengajarkan pentingnya tanggung jawab dalam menjalankan gagasan agar memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Organisasi mengajarkan saya pentingnya komunikasi, kerja sama, dan tanggung jawab. Hal yang sama dibutuhkan dalam pengembangan pariwisata karena keberhasilannya bergantung pada keterlibatan banyak pihak,” tuturnya.
Hafiz menempuh pendidikan dasar di MIN 37 Aceh Besar, kemudian melanjutkan pendidikan di MTsS Al-Manat dan MAS Al-Manar sebelum melanjutkan kuliah di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Di luar aktivitas akademik dan organisasi, ia memiliki hobi olahraga gym dan berenang.
Sebagai finalis Duta Wisata Aceh Besar 2026, Hafiz berharap semakin banyak generasi muda terlibat dalam promosi dan pelestarian pariwisata. Menurutnya, keberhasilan pengembangan sektor tersebut tidak hanya ditentukan oleh jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga oleh kelestarian lingkungan, terjaganya budaya lokal, dan manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.
“Pariwisata harus berkembang tanpa menghilangkan identitas daerah. Saya ingin generasi muda ikut memperkenalkan potensi Aceh Besar sekaligus menjaga kekayaan alam dan budaya yang kita miliki,” pungkas Hafiz.(Why)











