Opini

Mohon Keteguhan Hati

1883
×

Mohon Keteguhan Hati

Sebarkan artikel ini
Nazwar, S.Fil.I., M.Phil., Penulis lepas Lintas Jogja Sumatera.

Oleh Nazwar, S.Fil.I., M.Phil.*

Dinamika kehidupan sehari-hari tidak jarang terbawa sampai ke hati. Hati juga berdinamika dalam keimanan atau tingkat keyakinan; bertambah dan berkurang (yaziidu wa yanqush). Selain Allah sepenuhnya berkuasa dalam membolak-balikkan hati manusia, manusia juga diajarkan untuk meminta kepada-Nya untuk dimantapkan.

Kemantapan hati dibutuhkan setiap orang tidak hanya dalam kondisi beribadah yang bersifat total lahir dan batin. Hati atau jiwa yang tenang memiliki keutamaan sebagaimana disebutkan dalam al-Quran (QS. al-Fajr : 27) untuk kembali kepada-Nya dengan dengan keridhaan lagi diridhai-Nya.

Kemantapan hati dengan rahmat Allah dapat melihat secara jeli segala hal bahkan persoalan yang dihadapi dalam kehidupan. Maka penting untuk menjaganya dalam berkehidupan di dunia ini. Termasuk berkaitan dengan keraguan yang kadang tidak ditutupi sekadar hinggap. Ke semuanya penting untuk ditepis.

Rasulullah mengajarkan doa-doa terkait hati atau jiwa, juga permohonan kepada Allah Swt untuk diteguhkan dalam keimanan. Berikut di antaranya:

1. Memohon Ketaqwaan dan Kesucian Jiwa, “Robbi a’thi nafsi taqwaahaa wa zakkaahaa, anta Maliyyuhaa wa Maulaahaa” artinya: “ya Tuhanku berikanlah jiwaku ketaqwaan ya dan kesuciannya. Engkaulah Walinya dan Maulaanya.”

2. Memohon Ditetapkan Iman tatkala dihinggapi keraguan sebagaimana dikutip dari “Hishn Muslim” karya Sa’id al-Qahthani dapat melalui tiga cara:

Pertama, berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka akan berhenti keraguan (HR. Bukhori/Fathul Baari: 6/336 Muslim: 1/120); Kedua, “aamantu billaahi wa rusulihi.” (aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya). (HR. Muslim 1/119/120).

Ketiga, membaca firman Allah Swt (QS. al-Hadid : 3) “Huwal Awwalu wal Aakhiru Wazh-zhooru Wal-Baathinu. Wa huwa ‘alaa kulli syai’in Qodiir” (Dialah yang awal dan Dialah yang akhir, Dialah yang nyata dan Dialah yang tersembunyi, dan Dia mengetahui segala sesuatu).

3. Memohon ditetapkan hati dalam agama dan ketaatan kepada Allah. Berikut doa sesuai dengan teladan yang diberikan Nabi saw, terutama tatkala menghadapi suatu persoalan. “Ya Muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘alaa diinika wa ya mushorrifal quluub shorrif qalbi ilaa thoo’atika” (Wahai yang membolak-balikkan hati, mohon tetapkan hati hamba atas agama-Mu, dan wahai maha pembolak-balik hati mohon balikkanlah hati hamba kepada ketaatan kepada-Mu).

4. Memohon untuk diterangkan kebenaran dengan kebatilan secara sesungguhnya, sebuah doa yang cukup tersohor tatkala dibaca secarah berjamaah. “Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqnattibaa’ahu, wa arinal baathila baathila warzuqnajtinaabahuu” (Ya Allah nyatakanlah kepada kami kebenaran kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakanlah kepada kepada kami untuk mengikutinya, dan nyatakanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakanlah kepada kami untuk menjauhinya).

Demikian bimbingan dari Rasul berupa doa terkait menghadapi dinamika hati atau jiwa. Apa pun itu, segala kebaikan di sisi Allah, maka memohon dengan kerendahan dan kelembutan kepada-Nya adalah bagian yang tidak terpisahkan. Insya Allah membawa manfaat dan berkah!

* Penulis lepas Lintas Jogja Sumatera.