Banghas

Meurah Pupok: Putra Mahkota yang Digantung

743
Ilustrasi Meurah Pupok ketika menjalani hukuman gantung di alun-alun istana Kerajaan Aceh (Ai)

Di halaman istana Darud Donya, subuh pernah jatuh dengan sangat pelan. Embun menggantung di pucuk-pucuk rencong pohon, seolah menahan nafas menunggu sesuatu yang besar. Pada masa itu, seorang pemuda berjalan dengan langkah yang halus namun percaya diri—Meurah Pupok, putra kesayangan Sultan Iskandar Muda, dipersiapkan sebagai pewaris tahta Aceh Darussalam, kerajaan yang sedang megah-megahnya. Orang-orang memandangnya sebagai calon raja besar berikutnya, seorang pemimpin muda yang terlahir dari darah kebesaran dan keberanian.

Namun sejarah sering punya cara kejam untuk memutar takdir. Dan dalam kasus Meurah Pupok, takdir itu datang dalam wujud cinta, fitnah, dan tikaman yang tidak terlihat.

Putra Mahkota yang Dicetak dari Api Kejayaan

Meurah Pupok dibesarkan di jantung kekuasaan yang keras. Di bawah bimbingan Iskandar Muda—sultan teragung Aceh—ia belajar strategi perang, hukum, dan diplomasi. Qanun Meukuta Alam, undang-undang kerajaan yang tegas, menjadi nafas pendidikan politiknya.

Di mata rakyat, ia adalah simbol masa depan. Di mata ayahnya, ia adalah harapan yang meneduhkan. Sampai hari itu, ketika seorang perwira kerajaan kembali dari medan perang dengan kabar yang menggetarkan seisi istana.

Ia menuduh istrinya menjalin hubungan gelap dengan sang putra mahkota. Tuduhan itu menyebar seperti api yang menelan ilalang kering. Para hulubalang terkejut, ulama istana berkumpul, dan Iskandar Muda sendiri mendengar kabar itu dengan wajah yang tersaput kabut duka. Tidak ada peristiwa yang lebih berat bagi seorang raja daripada harus menjadi hakim atas darah dagingnya sendiri.

Cinta yang Terlarang, atau Fitnah yang Ditabur?

Dalam beberapa hikayat Aceh tua, disebutkan bahwa Meurah Pupok memang menyimpan simpati pada seorang perempuan istana—seorang istri perwira yang terkenal cantik dan anggun. Konon, hati sang pangeran pernah terpaut padanya, seperti angin yang jatuh ke jendela dan tak bisa dibendung.

Namun sejarawan juga mencatat kemungkinan lain: bahwa tuduhan itu adalah jebakan politik. Meurah Pupok muda dianggap akan menjadi raja yang kuat, dan kekuatan semacam itu selalu mengundang iri dan kecemasan. Beberapa pejabat dikatakan takut kehilangan posisi ketika ia naik takhta, sehingga fitnah menjadi senjata paling halus dan mematikan.

Sayangnya, sejarah tidak pernah memberi kita jawaban pasti. Yang tersisa hanya jejak-jejak cerita, seperti cahaya samar di antara lipatan naskah tua.

Pengadilan yang Menggetarkan Darud Donya

Sultan memerintahkan penyelidikan. Qadhi kerajaan memeriksa laporan dan saksi. Ulama membahas aspek syariat. Para bangsawan membujuk agar putra mahkota dibuang saja, tidak perlu dihukum mati.

Tetapi Iskandar Muda tetap tak tergoyahkan.

Ia tahu kerajaan lebih besar daripada seorang anak, bahkan anaknya sendiri. Dan hukum, dalam pandangannya, tidak boleh tunduk pada air mata atau garis keturunan.

Ungkapan yang lahir kemudian dari bibir Sultan menjadi legenda Aceh sampai hari ini:

“Matee aneuk meupat jeurat, gadoh adat ho tamita.”
Anak mati masih ada kuburnya; jika adat hilang, ke mana kita mencarinya?

Itu bukan kalimat seorang raja yang kejam. Itu adalah jeritan seorang ayah yang memilih negeri di atas naluri terdalamnya.

Hari Eksekusi Pangeran

Ketika hari itu datang, suasana Banda Aceh dilaporkan seperti berhenti bernapas. Meurah Pupok berjalan dengan tenang menuju tempat eksekusi. Ia mengenakan putih—warna pasrah, atau mungkin warna suci keyakinannya sendiri.

Sebelum algojo menutup matanya, ia meminta satu hal:
Ingin melihat wajah ayahnya untuk terakhir kali.

Ketika pedang itu turun, darah pangeran memercik dan mengenai jubah Sultan. Adegan itu kemudian ditulis ulang dalam hikayat dan kenangan lisan sebagai simbol bahwa keputusan besar selalu meninggalkan luka pada siapa pun yang menjalaninya.

Jenazah Meurah Pupok dimakamkan di tempat yang hari ini dikenal sebagai Kerkhof Peucut, situs bersejarah yang tetap menjadi saksi bisu tragedi keluarga kerajaan terbesar Aceh.

Warisan dari Tragedi

Meurah Pupok tidak pernah menjadi raja. Tetapi namanya tetap hidup—sebagai peringatan bahwa kekuasaan bisa runtuh oleh fitnah, cinta bisa membawa petaka, dan seorang ayah bisa menjadi algojo bagi putra mahkotanya demi hukum dan kehormatan negeri.

Sejarah Aceh menaruhnya dalam bingkai yang tidak sempurna, tetapi justru karena itulah ia menjadi manusiawi: seorang pemuda yang terjebak dalam pusaran cinta, politik, dan takdir yang lebih besar daripada dirinya. (Hasnanda Putra)

Exit mobile version