posaceh.com, Banda Aceh – Hutan Kota yang terletak di Gampong Tibang, Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh telah menjadi miniatur hutan Aceh dan juga mangrove yang biasanya didapat di tepi pantai.
Tempatnya berada di sudut kota dengan jarak sekitar 8 km dari pusat Kota Banda Aceh, sehingga dapat dijadikan sebagai agenda kunjungan setiap akhir pekan untuk melihat kembali alam nan-hijau.
Hijaunya pepohonan yang mulai menjulang tinggi seusai diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 29 November 2010 lalu tetap menarik untuk dikunjungi setiap akhir pekan sebagai wisata alam.
Sebagian kawasan hutan yang mulai tergerus akibat perluasan perkebunan atau penebangan liar di Aceh, Hutan Kota akan tetap terjaga dengan baik yang telah menjadi penyangga udara untuk mengurangi polusi udara kendaraan bermotor.
Berbagai jenis pohon dapat ditemukan di Hutan Kota ini, termasuk burung yang terus berkicau setiap hari dari satu dahan ke dahan pohon lainnya, sebelum terbang kembali ke udara bebas. Keheningan dan kesejukan dapat ditemukan di tempat ini melalui jalan setapak yang diapit pepohonan dan juga bunga yang mulai mekar.
Untuk masuk ke objek wisata alam ini, melalui jalan sebelum jembatan ke Kajhu, Aceh Besar, dengan satu cafe berada di depannya tidak ada biaya alias gratis, cukup membayar uang parkir Rp 2.000 per satu kendaraan.
Petugas parkir telah siaga di lokasi pintu masuk sejak pukul 08.00 sampai 18.00 WIB untuk menjaga kendaraan pengunjung selama berkeliling di dalam area Hutan Kota Banda Aceh itu.
Seusai parkir kendaraan, berjalan ke atas jembatan gantung untuk masuk ke area Hutan Kota, karena roda dua dilarang masuk. Begitu masuk, dapat melihat tugu Hutan Kota dengan logo bank BNI sebagai pendukung pembangunan Hutan Kota. Bank BNI sudah tidak ada lagi di Aceh, sejak sistim bank syariah diberlakukan beberapa tahun lalu.
Kemudian, ada peta Hutan Kota, sebagai petunjuk bagi pengunjung untuk berkeliling, agar pengunjung tidak tersesat, karena jalan setapak terus menyambung dengan jembatan gantung, tempat pemuda-pemudi biasanya berswa foto.
Di dekat pintu masuk, sudah ada pohon menjulang tinggi yang biasanya dihinggapi berbagai jenis burung dan saat terus berjalan ada tempat bermain anak-anak, berupa ayunan dan tempat luncuran yang disediakan secara gratis. Saat berjalan, ada sepasang muda-mudi sedang bercengkerama di atas ayunan yang seharusnya untuk anak-anak.
Di dekat area bermain anak-anak juga terdapat berbagai jenis bunga yang mulai mekar, walau dalam beberapa hari ini, suhu di Banda Aceh mencapai 36 derajat Celcius atau sudah masuk tahap panas menyengat.
Begitu terus berjalan di jalan setapak, dapat ditemukan jembatan gantung yang tidak terlalu tinggi dan kembali ditemukan sepasang muda-mudi sedang bercengkerama di atas jembatan yang tertutup pepohonan.
Seusai terus mengikuti jembatan kayu, jalan menunjukkan ke area hutan mangrove yang juga mulai tumbuh besar. Di tempat ini, pohon bakau belum begitu tinggi, seperti di kawasan hutan mangrove Kota Langsa.
Kolam buatan yang dibangun bersama jembatan kayu juga dibangun untuk memudahkan pengunjung menyusuri area ini. Sepanjang jalan setapak, dapat dilihat berbagai jenis pohon untuk memulihkan mata menjadi segar kembali, karena semuanya tampak hijau.
Jalan setapak melingkar yang dibangun Pemko Banda Aceh tidaklah terlalu jauh, sehingga perjalanan mengelilingi Hutan Kota ini tidaklah sampai melelahkan, bahkan badan menjadi segar kembali.
Anak-anak juga bisa bermain-main di tempat ini, seperti berlari kecil sambil melihat indahnya pepohonan, potret dari hutan belantara yang masih bisa didapat di daerah pegunungan atau nun-jauh di pedalaman Aceh.
Tetapi, warga Kota Banda Aceh dan sekitarnya tidak perlu jauh-jauh ke hutan belantara, cukup di Hutan Kota, sudah mewakili seperti berpetualang ke hutan yang belum dijamah manusia.
Hutan Kota ini juga sebagai edukasi bagi generasi muda untuk menjaga kelestarian hutan yang masih banyak terdapat di Aceh, dengan tidak menebang pohon sembarangan, karena pohon juga berfungsi sebagai penampung air hujan.
Sementara itu, di kejauhan tampak dua wanita paruh baya terus membersihkan dedaunan yang jatuh dari pohon, sehingga area tersebut tampak tetap bersih dan tidak terlihat sampah berserakan, kecuali daun-daun pohon.
Saat ditemui, kedua wanita itu mengaku mendapat honor bulanan dengan besaran tidak disebutkan setiap bulan secara rutin dari dinas terkait. “Kami bertugas membersihkan sampah setiap hari, khususnya daun yang jatuh dari pohon di seluruh area Hutan Kota,” ujar salah seorang wanita paruh baya tersebut pada Selasa (3/6/2025) pagi jelang siang.
Sedangkan salah seorang petugas parkir mengatakan pengunjung biasanya ramai pada setiap akhir pekan, hari Sabtu dan Minggu, termasuk saat hari libur sekolah. Disebutkan, biaya parkir yang ditetapkan hanya Rp 2.000 per satu kendaraan.
Itulah gambaran dari Hutan Kota Band Aceh yang akan terus dibenahi dari berbagai sisi, sehingga pengunjung semakin nyaman dan betah berlama-lama menikmati indahnya pepohonan dalam Hutan Kota ini. (Adv)
