Pemerintah Aceh

MenkoPMK Buka Pekan Kebudayaan Aceh 8

1634
×

MenkoPMK Buka Pekan Kebudayaan Aceh 8

Sebarkan artikel ini
Didik Suhardi PhD Deputi Bidang Koordinasi revolusi mental, kemajuan kebudayaan dan prestasi olahraga membukan secara resmi Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 dengan tema “Rempahkan Bumi, Pulihkan Dunia” yang berlangsung di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, Sabtu (04/11/2023) Malam. FOT9/ DJ88

posaceh.com, Banda Aceh – Menteri koordinator bidang pembangunan kemanusiaan dan kebudayaan (MenkoPMk) diwakili oleh Deputi Bidang Koordinasi revolusi mental, kemajuan kebudayaan dan prestasi olahraga Didik Suhardi PhD membukan secara resmi Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 dengan tema “Rempahkan Bumi, Pulihkan Dunia” yang berlangsung di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, Sabtu (04/11/2023) Malam.

Pembukaan PKA-8 ditandai dengan penumbukan rempah di leusoeng kayee oleh Deputi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan, dan Prestasi Olahraga Kemenko PMK, Didik Suhardi, Pj Gubernur Aceh, Achmad Marzuki, Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haytar, dan Forkopimda Aceh.

Pj Gubernur Aceh Achmad Marzuki sedang menjelaskan tujun pelaksanaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 dengan tema “Rempahkan Bumi, Pulihkan Dunia” yang berlangsung di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, Sabtu (04/11/2023) Malam. FOTO/ DJ88

Pada kesempatan tersebut, Deputi Bidang Koordinasi revolusi mental, kemajuan kebudayaan dan prestasi olahraga Didik Suhardi Ph D menyampaikan, PKA yang ke 8 dengan tema “jalur rempah” dengan textline rempahkan bumi putihkan dunia, kembali mengingatkan yang bahwa Aceh salah satu pintu gerbang jalur rempah di nusantara.

“Sebab rempah di Aceh mengalami puncak kejayaan pada abad 16 sampai dengan 18, dimana Aceh pada saat itu menjadi penghasil rempah terbaik didunia dan Insyaalah, hari ini menjadi tema besar pekan Kebudayaan Aceh,” katanya.

Achmad Marzuki bersama MenkoPMk Didik Suhardi serta Malik Mahmud Al-Haytar melakukan penumbukan rempah di leusong kayee ditandai pembukaan PKA ke 8 secara resmi dibuka, bertempat di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, Sabtu (04/11/2023) Malam. FOTO DJ88

Lebih lanjut, tentunya dari Pemerintah Pusat sangat mendukung dan mengapresiasi pelaksanaan PKA ke 8 ini. Semoga, dengan mengusung tema rempah ini, akan membawa kembali masa kejayaan Aceh pada industri rempah seperti dulu kala.

“Dengan harapan, dapat mensejahterakan dan memakmurkan masyarakat Aceh,” tuturnya.
Selain itu, Didik Suhardi menuturkan, sekarang seluruh dunia berada diera globalisasi yang membawa pengaruh besar kebudayaan Indonesia khususnya Aceh.

“Pengaruh budaya asing melalui media masa, Internet dan juga melalui rumah-rumah kita, yang mana sekarang mulai dihinggapi dengan budaya asing seperti drakor, drama korea yang saar ini digemari oleh semua generasi kita,” tuturnya.

Maka untuk itu, dengan penyelenggaraan PKA ini, kembali kembangkan dan melestarikan kebudayaan Aceh, sehingga budaya Aceh bukan hanya sekedar tontonan yang bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia.

“Tetapi bisa menjadi tuntunan, kenapa jadi tuntunan, karena banyak nilai-nilai yang ada didalam budaya Aceh yang diwariskan dari leluhur dan budaya dapat memcerminkan tata kehidupan adat istiadat yang telah dibangun sejak dulu,” ungkap Didik Suhardi.

Ditampat yang sama, Pj Gubernur Aceh Achmad Marzuki mengatakan, Pekan Kebudayaan Aceh merupakan sebuah festival yang tidak hanya merayakan kebudayaan, tapi juga mengabdikan jejak sejarah dan menghidupkan semangat persatuan Aceh.

“PKA adalah panggung yang menampilkan dinamika perpolitikan, sosial budaya dan pemerintah aceh yang terekam sejak pelaksanaan PKA perdana pada tahun 1958,” katanya.

Achmad Marzuki menyambut, PKA salah satu buah pemikiran dan perjuangan orang tua terdahulu yang memberikan teladan merawat, merajut dan menjaga perdamaian melalui pelestarian serta kemajuan kebudayaan khususnya peradaban islam dibumi serambi mekkah.

Pj Bupati Aceh Selatan menyerahkan piala bergilir kepada Pj Gubernur Aceh pada malam pembukaan PKA-8, di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, Sabtu (04/11/2023) Malam. FOTO/DJ88

“Sejak 1958 PKA menjadi tolak ukur keberhasilan Pemerintah dalam melindungi,membina dan mengembangkan sisi baik kebudayaan,” ujarnya.
Maka, seiring 55 tahun perjalanan Pekan Kebudayaan Aceh, dalam hal ini Pemerintah Aceh memilih tema “Jalur rempah Aceh” pada PKA ke 8 tahun 2023 ini.
P
“Dengan texline, rempahkan bumi pulihkan dunia, tema ini dipilih dengan mempertimbangkan maksud dan tujuan PKA itu sendiri, relevansinya dengan isu terkini secara global serta terkoneksi visi misi pembangunan daerah hingga nasional,” tutur Achmad Marzuki.

Ia mengharapkan, dengan terlaksananya PKA ke 8 mampu meningkatkan kunjungan wisatawan ke Aceh. “Karena, selain keindahan malam, kebudayaan Aceh pun tak kalah menariknya untuk dinikmati dan di apresiasi,” harapnya.

Diakhiri sambutannya, Achmad Marzuki mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi.

“Sehingga menjadikan PKA ke 8 sebagai momentum bersatu dalam membangun dan memajukan bumi Aceh lebih maju untuk kedepan,” pungkasnya.

Sementara itu, Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haytar menyampaikan, PKA merupakan event yang paling ditunggu oleh masyarakat Aceh dan sesuai dengan semangat sejak pertama kali PKA digelar pada bulan Agustus tahun 1958 di Aceh.

“Dilaksanakan, event kebudayaan paling akbar di Aceh bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai kebudayaan, sejarah dan adat istiadat,” pintanya.
Jadi, Pemerintah dan masyarakat Aceh harus berterima kasih kepada inisiator yang pertama kali menyelenggarakan Pekan Kebudayaan Aceh pada tahun 1958.

“Pada masa itu, PKA dilaksanakan oleh lembaga kebudayaan Aceh yang dipimpin Mayor Teuku Hamzah,” ungkap Malik Mahmud.

Disamping itu, ia meminta penyelenggaraan PKA ke 8 tahun 2023 harus lebih berkualitas dari pelaksanaan pada masa-masa sebelumnya.
“Selain menjadi ajang untuk pelestarian nilai kebudayaan, kegiatan ini juga dapat menjadi ajang edukasi masyarakat khsususnya bagi generasi muda Aceh, karena nanti mereka yang akan menerima waris budaya ini,” pungkasnya.

Ia berharap event tersebut juga menjadi pekan edukasi bagi masyarakat Aceh, khususnya untuk kalangan generasi muda. Malik menyarankan segala hal yang ditampilkan pada PKA harus tetap terfokus pada tiga hal yakni kebudayaan, sejarah, dan adat istiadat Aceh.

“Meskipun tidak dapat kita pungkiri, di era sekarang telah muncul beragam inovasi yang memengaruhi segala aspek kehidupan, termasuk dalam bidang kebudayaan dan adat istiadat. Sehingga, banyak muncul kesenian-kreasi baru, perpaduan antara kesenian khas Aceh dan kesenian kekinian hal itu lumrah terjadi dalam perkembangan peradaban sebuah bangsa,” pungkas Malik Mahmud Al-Haytar. (DJ88)