News

Menikmati Udara Pagi di Kota Juang Bireuen

944
Menikmati secangkir kopi di depan situs bersejarah, Pendopo Bupati Bireuen, Rabu (2/7/2025) pagi. FOTO/MUHAMMAD NUR

posaceh.com, Banda Aceh – Perjalanan ke Kota Juang Bireuen untuk meliput pertandingan terakhir Grup C, tuan rumah Bireuen melawan Aceh Besar menjadi kenangan tersendiri.

Sebuah kota dengan penduduknya ramah-ramah, apalagi dikenal sebagai penghasil keripik ubi dan pisang yang dijadikan sebagai oleh-oleh ke kampung halaman atau juga saat kembali ke Ibu Kota Provinsi Aceh, Banda Aceh telah ditetapkan sebagai tuan rumah sepak bola Pra PORA.

Sarapan pagi bersama Ketua Tim Manajemen Sepak Bola Pra PORA Aceh Besar, Mariadi ST MM dan Sekretaris Syahrizal atau Yahpi di cafe samping Hotel Graha Buana, Bireuen, Rabu (2/7/2025) pagi. FOTO/MUHAMMAD NUR

Setelah perjalanan malam hari dari Banda Aceh dari pukul 22.00 WIB menuju Bireuen dengan mobil pribadi, milik Manajer Wahyu ‘Al-Yunirun’ kembali mengingat betapa amannya negeri Serambi Mekkah ini.

Tidak ada halangan atau rintangan, bahkan sejumlah warung kopi tetap hidup di sepanjang jalan, menjadi tempat pelancong singgah untuk istirahat sejenak melepas kepenatan mengemudi mobil.

Bahkan, jalan tol yang masih sepi dari kendaraan, tetap bisa melaju kencang, tetapi belum sampai ke Sigli, karena ruas ke Padang Tiji masih dalam tahap pekerjaan konstruksi.

Jalanan di pegunungan Seulawah yang juga mulus, bahkan lebih baik dari jalan tol tetap aman dilalui dengan Saree sebagai tempat persinggahan sebagian pengendara pribadi dan juga mobil atau bus penumpang.

Perjalanan terus berlanjut sampai ke Ulee Glee, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya untuk singgah di salah satu warung kopi untuk istirahat sejenak. Seusai kelelahan berkurang, perjalanan dilanjutkan kembali sampai Bireuen, pada Rabu (2/7/2025), sekitar pukul 03.00 WIB.

Tanpa menunggu lama, langsung menuju kamar Hotel Graha Buana yang berada di tengah-tengah Kota Bireuen untuk beristirahat. Sekitar pukul 06.15 WIB terbangun dari tidur untuk shalat Subuh dengan cahaya matahari mulai menyinari bumi.

Kondisi jalanan masih sepi dari kendaraan dengan pedagang kue camilan dan sarapan pagi berdagang di pinggir jalan Kota Bireuen, Rabu (2/7/2025) pagi. FOTO/MUHAMMAD NUR

Seusai keluar dari hotel, dengan pemain, pelatih dan lainnya masih tidur, mulai berjalan ke tugu persimpangan Kota Bireuen, salah satunya menuju ke wilayah tengah Aceh.

Sepanjang jalan masih sepi dari kendaraan, hanya satu atau dua yang melaju. Sejumlah warga juga tampak sedang membeli kue camilan yang dijual di pinggir jalan atau juga sarapan pagi dengan harga terjangkau.

Sambil menyusuri jalanan, melihat-lihat kalau ada warung kopi yang buka, tetapi tidak ada satu pun yang mulai buka. Sejumlah sekolah yang berada di jalan ini juga tutup, karena masih hari libur.

Dengan berjalan kaki, kembali lagi ke hotel dan di sebuah persimpangan jalan, sebuah cafe tampak mulai buka. Tetapi, saat akan memesan kopi saring, belum siap, sehingga disajikan kopi olahan dari mesin kopi.

Sambil duduk minum kopi dengan jam masih menunjukkan pukul 06.50 WIB, ternyata berhadapan dengan Pendopo Bupati Bireuen, peninggalan era tempo dulu. Dari sini, bisa dilihat, kota ini tetap melestarikan bangunan sejarah, sehingga dapat dilihat kembali oleh generasi berikutnya.

Tetapi, terlihat, belum ada aktivitas di dalamnya, dengan pintu gerbang masih tertutup rapat. Hanya beberapa pengendara yang lalu lalang di depannya, termasuk pejalan kaki.

Saat memperhatikan pendopo, seorang ibu membawa nasi bungkus dan kue ke cafe tersebut. Pengunjung cafe juga belum banyak, tetapi saat malam hari dipenuhi pengunjung, khususnya kawula muda.

Seusai membayar, kembali berjalan kaki ke hotel, menyusuri jalan yang sama dengan kondisi masih sepi dari aktivitas kendaraan. Namun, sebagian besar penghuni hotel belum juga bangun dari tidur.

Jalan dua jalur di Bireuen menuju wilayah tengah Aceh, khususnya Takengon masih sepi dari aktivitas kendaraan pada Rabu (2/7/2025) pagi. FOTO/MUHAMMAD NUR

Kembali lagi ke Bireuen yang dijuluki sebagai Kota Juang, ternyata pernah menjadi Ibu Kota RI yang ketiga selama seminggu, setelah Yogyakarta jatuh ke tangan penjajah dalam agresi Belanda.

Bahkan, meuligoe atau Pendopo Bupati Bireuen sekarang sempat menjadi tempat pengasingan Presiden Soekarno. Itulah alasan Bireuen sebagai Kota Juang yang kini menjadi nama sebuah kecamatan.(Muh)

Exit mobile version