posaceh.com, Banda Aceh – Musyawarah Daerah (Musda) V Partai Demokrat Aceh usai sudah. Hiruk-pikuk dan yel-yel atau teriakan dukungan dari masing-masing kubu kedua kandidat, kini tak terdengar lagi. Baik tim sukses (timses) Muslim maupun pendukung kandidat incumbent Nova Iriansyah, kini sama-sama menunggu keputusan Jakarta.
Dalam tradisi Partai Demokrat, keputusan akhir dari sebuah Musda, termasuk Musda V DPD Partai Demokrat Aceh yang berlangsung di Hotel Kriyad Muraya, Banda Aceh, Kamis (23/09/2021) lalu, ditentukan oleh DPP Partai Demokrat di Jakarta.
Terlepas dari plus-minus perhelatan akbar yang berlangsung di tengah pandemi Covid-19 itu, ada beberapa catatan yang mungkin tak sepantasnya dipertontonkan. Di antaranya, menurut pantauan Pos Aceh, yang paling menonjol adalah semangat euforia berlebihan yang diperlihatkan oleh para pendukung Muslim.
Hal itu setidaknya terkesan, seolah calon yang mereka dukung, anggota DPR RI tiga periode itu sudah dapat dukungan DPP dan dipastikan akan memimpin Partai Demokrat Aceh, menggantikan Nova Iriansyah yang masih menyisakan satu tahun lagi kepemimpinannya mengabdi untuk 5 juta lebih rakyat Aceh.
Sebetulnya, antara Muslim dengan Nova Iriansyah terlihat fair-fair saja. Mereka adalah orang-orang yang sudah teruji dalam blantika politik Aceh, bahkan Nasional. Memang Muslim masih sedikit lebih yunior dari Nova.
Di beberapa momentum yang sering bertemu keduanya, Nova terlihat sangat kentara ketokohannya. Sifat leadership-nya begitu menonjol. Namun, terkadang ia tampak sedikit kaku dan agak sulit diajak bicara. Padahal kenyataannya, ketika punya kesempatan, justru sang gubernur yang kebanyakan bicara, sampai lawan bicara kehabisan bahan.
Di sisi lain, Muslim dikenal sangat ramah dan akrab dengan semua orang dan semua partai. Pernah satu kali ada kader partai lain datang ke Jakarta ingin bertemu Muslim, ia menyambut temannya dari Aceh seperti saudara. Begitu cerita beberapa orang yang sudah memahami karakter mereka berdua.
Apa yang dapat dipetik dari Musda partai yang pernah begitu melekat di hati rakyat Aceh tersebu? Pertama, sang ka deuh taeu lahe (seolah sudah tampak lahirnya – red), Muslim bakal memimpin Partai Demokrat Aceh. Semangat euforia timsesnya, seolah Muslim sudah terpilih, satu hal yang menjadi catatan karena keputusan ada di tangan DPP.
Di DPP masih ada tokoh sentral utama, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat, yang punya karakter santun dan terpuji. SBY seorang jenderal yang bisa dikatakan paling lembut dan berwibawa; presiden yang nyaris tidak ada masalah dalam memimpin bangsa ini, tentu ketokohannya sangat teruji.
Bagi SBY, memutuskan satu hasil Musda seperti kemarin adalah problem amat kecil. Ia tentu akan memutuskan sebuah persoalan dengan tenang, matang dan brilian. Keputusan SBY, tentunya tidak akan mengecewakan banyak orang dan kedua kandidat ketua.
Jadi, kita tunggu saja dalam dua pekan ini, sambil menanti mujurnya seorang kandidat incumbent, Nova Iriansyah. Akankah ia kembali menjadi Ketua DPD Partai Demokrat Aceh periode lima tahun ke depan? Sekali lagi, kita tunggu saja! (T Azhari)
