News

Memposisikan Akal pada Tempatnya

5036
×

Memposisikan Akal pada Tempatnya

Sebarkan artikel ini
Foto: Cut Endang Puspa Sari

Ketika seseorang diminta untuk berfikir, secara motorik iaakan berfikir menggunakan otak, karena secara anatomi tubuhakal manusia terletak di otak. Yang mana di dalam otak ini terdiri dari jutaaan saraf, yang apabila rusak salah satubahagiannya maka dia akan mempengaruhi fungsi fikir seseorang. Namun fikiran yang berada di otak ini ketika berjalan secara motorik dalam menggerakkan anatomi tubuh, ia tetap akan menjadi fikiran yang masih bercokol di kepala. Belum sampai pada taraf yang wajar ketika tidak dibarengi hati dalam menjalankannya. Karena tempat sesungguhnya akal ada padahati.

Pergerakan tubuh manusia yang berasal dari perbuatan atas perintah otak yang dinah kodai hati. Inilah akal hakiki. Kalau malam seperti kelam, hati adalah pelitanya, menyinari arah tujuan. Menghidupi hidupnya ruh dalam jiwa.

Imam Syafi’I menempatkan akal di hati, berdasarkan QS Al A’raf: 179,
Artinya: “Mereka memiliki hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah)”.

ketika kita menilik makna paham harus turut serta melakukan perbuatan di dalamnya?kenapa Allah tidak menggunakan kata berfikir, tetapi kalimat qulub yang berartihati, bukan hati yang berarti secara fisik. Tetapi hati kecil ataunurani yang menjadi unsur inti, saripati kehidupan. Yang manafikiran otak apabila berjalan sendiri tanpa dibenarkan dana di papa hati akan menjadi pembohong tanpa terkendali. Yang tanpa tujuan hati, otak kan berjalan tapi tanpa tujuan. Hanya mampu mengetahui tanpa memahami, melihat tanpa menyaksikannya lekat.

Ketika kalimat – kalimat alquran berpikir manusia untuk berfikir dengan uslub ; Apakah kamu tidak befikir? Menjadi sebuah penekanan bahwa begitu banyak manusia hanya mengunakan otak untuk berpikir, tetapi tak menghadirkan hati yang merupakan tempat hakiki akal. Sehingga begitu banyak manusia lalai, memdandani kesombongannya dengan akal. Ponggah ketika berlakon sebagai khalifah di muka bumi, padahal sejatinya hanya mengontrak kehidupan singkat di bumiIlahi.

Hati merupakan sumber utama kehidupan. Baik secara metafisik maupun kedokteran. Dalam anatomi tubuh manusia hati merupakan organ terpenting yang membuat peredaran darah lancar, apabila dibarengi dengan hati yang sehat.

Demikian pula kehidupan, akan mudah dan lancar apabila memiliki hati kecil yang sehat dan bersih, yang menyulam kehidupan dengan harapan dan tujuan hanya pada Allah. Karena sejatinya otak adalah sumber terdekat untuk berfikir, lain halnya dengan hati berada pada sumber yang jauh. Sehingga kebanyakkan manusia ingin serbaringkas, gunakan yang sumber terdekat. Bermalas-malas mencari sumber jauh yang lebih baik. Hanya segelintir yang mampu menjangkau jaraknya.

Karena letaknya yang jauh tentu perlu perjuangan yang tidak mudah; banyak tantangan dan ujian mengahadang. Butuh waktu, usaha dan pengorbanan. Karena sejatinya hidup adalah saringan Allah, untuk menguji mana manusia yang terbaik di antara kita? Ketika makna hati Allah gambarkan dengan qalbu, yang terbolak-balik. Karena begitu ringkih dan tidak stabil, mudah praktis terbalik. Harus selalu dijaga, di pupuk, di siram, dan dibersihkan dari rumput parasit yang menganggur. Secara terus menerus sampai urat nadi tak lagi mampu berdenyut.

Dalam Kitab Al Mu’in A’la tafahhumi Arba’in karya IbnuMulaqin As Syafi’i disebutkan bahwa selamat hati terdapatdalam lima perkara; yaitu membaca Al Quran serta mentadaburinya, perut yang kosong, shalat malam, berdoa ketika sahur dan bergaul dengan orang-orang sholeh.

Mengapa baca harus diiringi tadabur?Karena baca tanpa memahami tanpa makna. Ibarat tumbuhan tanpa akar, mudah tercabut. untuk itu perlu tadabur agar tak hanya sampai di otak, namun menyelam jauh ke dasar hati. Mengakar dalam sanubari. Kenapa perut kosong? Karena kejernihan hati dan hati pada perut yang kosong dengan basa-basi, ketika kenyang maka malas dan malam akan menghampiri, sedangkan shalat dan beristighfar ketika sahur membutuhkan usaha keras dan keinginan kuat, di dalam keheningan malam. fikiran jaringan manusia berada pada sinyal terbaik, jernih dari embel-embel dunia, bulat teruntuk Rabb.

Sehinggado seluruhannya langsung menembus arsy dengan mengingat Allah bersama shalat, zikir dan membaca (QS Al Muzammil 1-4).Begitu pula dengan orang sholeh, yang diamnya zikir dan fikir, kalamnya penuh hikmah. Sehingga siapa pun yang di dekatnyakan terpercik air kebaikan hidup yang menempelkannya dengan pencipta.

Hati yang bersih merupakan benih dari perbuatan yang baik, menjaga makanan baik dan halal menjadi bahan dasar utama resep hati bersih. Ibarat tumbuhan hati adalah benihnya, apabila benih unggul disemai maka kan tumbuh tanaman yang sehat dengan kualitas tinggi. Demikian pula hati, jika asupan makanan halal nan baik yang terserap maka sejatinya akan memurnikan hati akan melahirkan perbuatan yang mulia.

Demikian pula sebaliknya perbuatannya, ketika makanan haram menjadi pupuknya maka akan lahir pula fahsy dan munkar dikarena telah mengotori hati. Hal yang sama pula berlaku apabila makanan syubhat yang diasup, terserap, mengalir dalam darah, mengumpal jadi adukan yang membalut tulang. Ia pun kan melahirkan perbuatan syubhat karena kabut syubhat yang bersemayam dalam hati.

QS As Syuara 88-89: 88. (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna 89. Televisi orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,
Allah swt menceritakan keadaan manusia ketika nantipulang dari pengembaraannya di bumi, dimana semua yang dikasihi dan di elu-elukan; harta, tahta dan anak kan tidak lagi berguna.

televisi kembali dengan diri berjinjing hati yang bersih, yang menyerahkan hanya milikNya seorang, cinta murni pada Ilahi Rabbi. Meletakkan dunia hanya di ujung jari tanpa membenamnya ke dalam hati, melepasnya denganridha kapan dimintai kembali oleh Sang Pencipta.

Hati yang bersih, menurut Imam An Nawawi dapat menjauhkan manusia dari penyakit batin; dendam, dengki, iri, bakhil, sombong, bangga diri, riya’, mencari pujian, tipu daya, tamak, serakah dan tidak rela dengan takdir Allah.

Hati bersih senantiasa sepenuh hati dengan cinta dan ketakutan akanAllah dan segala sesuatu yang tidak ada kecuali dengan Allah. Sehingga mampu mempertanggung jawabkan ketika Allah nantinya bertanya, Apa yang Anda lakukan di muka bumi? Wallhu A’alam bishawab. (Penulis : Cut Endang Puspa Sari)