posaceh.com, Linge– Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Aceh bersama United Nations Population Fund (UNFPA) menghadirkan layanan kesehatan reproduksi, pencegahan kekerasan berbasis gender (KBG).
Serta dukungan psikososial bagi masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi di Kemukiman Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.
Pelayanan tersebut dilaksanakan di tiga kampung, yakni Delung Sekinel, Kute Reje, dan Reje Payung, Senin (3/8/2026). Ketiga wilayah tersebut merupakan daerah yang terdampak cukup parah akibat banjir dan longsor pada 2025.
Hingga kini, masyarakat di wilayah tersebut masih menghadapi berbagai persoalan pascabencana, mulai dari kerusakan infrastruktur, terbatasnya akses layanan dasar, hingga krisis air bersih akibat tercemarnya sejumlah sumber mata air.
Program tersebut merupakan kolaborasi MDMC dengan UNFPA yang telah berlangsung selama tiga bulan di Kabupaten Aceh Tengah dan Aceh Tamiang. Kedua wilayah tersebut menjadi daerah prioritas karena mengalami dampak cukup besar akibat bencana hidrometeorologi.
Selama pelaksanaan program, relawan MDMC telah menjangkau berbagai wilayah terdampak, termasuk daerah yang sulit diakses. Kemukiman Jamat di Kecamatan Linge menjadi salah satu lokasi pelayanan dengan jarak terjauh yang dijangkau tim.
Wilayah tersebut berjarak sekitar 57 kilometer dari Kota Takengon dengan waktu tempuh sekitar tiga setengah jam melalui jalur pegunungan. Masyarakat setempat hingga kini masih menghadapi tantangan pemulihan infrastruktur dan keterbatasan akses terhadap layanan dasar.
Sekretaris MDMC Aceh, Syukri Karim, M.Psi., mengatakan meskipun masa transisi darurat bencana telah berakhir, masyarakat masih membutuhkan pendampingan berkelanjutan, khususnya kelompok rentan seperti perempuan, ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, penyandang disabilitas, dan lanjut usia.
“Pemulihan pascabencana tidak berhenti ketika status tanggap darurat dicabut. Masyarakat masih membutuhkan layanan kesehatan, pendampingan psikososial, serta edukasi agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berjalan lebih baik,” sebut Syukri kepada wartawan di Takengon, Selasa (4/8/2026).
Pelayanan medis dipimpin Hardianis selaku dokter dalam tim medis program. Kegiatan tersebut juga melibatkan dua dokter dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Aceh Tengah, enam bidan, tiga relawan, satu koordinator Ruang Ramah Perempuan dan Anak, serta satu koordinator wilayah.
Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan umum dan kesehatan reproduksi, penyuluhan, pemeriksaan kehamilan menggunakan ultrasonografi (USG), edukasi kesehatan, serta dukungan psikososial bagi anak-anak dan keluarga penyintas.
Kegiatan tersebut turut didampingi fasilitator Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah, Aslinar, yang memantau pelaksanaan pelayanan sekaligus memberikan pengobatan kepada pasien anak.
Dalam pelaksanaan kegiatan, tim juga menerima kunjungan monitoring dari mitra program. Rahmi Dian Agustino dan Itsnain Bagus dari UNFPA hadir sebagai tim komunikasi untuk melakukan dokumentasi dan pemantauan pelaksanaan program di lapangan.
Sementara itu, Nur Asiah dari MDMC Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Yuniar Wardani dan Fatihah Nur dari Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat Muhammadiyah turut melakukan monitoring.
Monitoring tersebut dilakukan untuk memastikan layanan kesehatan reproduksi, pencegahan kekerasan berbasis gender, dan dukungan psikososial berjalan sesuai standar serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat terdampak bencana.
Aslinar menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan, penyakit kulit masih menjadi salah satu keluhan yang banyak dialami anak-anak penyintas bencana.
Tim medis juga memberikan penanganan sesuai dengan kondisi kesehatan masyarakat yang datang untuk mendapatkan pelayanan.
Melalui program tersebut, MDMC dan UNFPA berharap masyarakat terdampak bencana di Aceh Tengah, khususnya kelompok rentan, tetap mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan dan pendampingan psikososial selama proses pemulihan pascabencana berlangsung.(Muh/*)
