NewsOlahraga

Master Nasional dan Prestasi Pecatur Aceh di Kejurnas

3293
Pecatur Aceh MN Sarmadoli saat bertanding di lingkaran meja utama Kejurnas 49/2023 Jakarta. Foto : Ist

Catatan : Sudirman Mansyur
Wartawan Olahraga Media Pos Aceh/posaceh.com

Kejuaraan nasional (Kejurnas) ke 49 baru saja berakhir, Minggu (19/3/2023) di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Kontingen DKI Jakarta tampil sebagai juara umum meraih 21 medali emas, 11 perak dan 5 perunggu.

Kejurnas yang mempertandingkan nomor catur standar, cepat, kilat kategori terbuka, wanita, veteran dan yunior putra – putri A, B, C, D, E, F, G atau tujuh kelompok usia , juga luar biasa banyak pecatur yang mendapatkan gelar Master Percasi (MP) dan Master Nasional (MN).

Data daftar perolehan gelar dari panitia pertandingan, tercatat 48 pecatur putra meraih gelar MN dan 6 putri mendapat Master Nasional Wanita (MNW) dan 30 pecatur meraih gelar Master Percasi.

Perolehan gelar yang berjumlah puluhan pecatur tersebut sepertinya tidak pernah terjadi pada Kejurnas sebelumnya, sejak yang pertama 1953 di Solo, Jawa Tengah.

Kejurnas 49 yang pertandingan utamanya catur standar, sistim Swiss 9 babak diikuti 379 pecatur, telah membuka peluang atau kesempatan yang sangat besar bagi para pecatur non gelar dari seluruh provinsi di Indonesia untuk mendapatkan gelar Master Nasional.

Sesuai regulasi Kejurnas 49, peringkat 1, 2, 3 dan victory 6 atau yang memperoleh poin 6 di catur standar klasik mendapatkan gelar MN. Poin 5,5 mendapat gelar MP.

Dua Master Nasional

Sementara Kontingen Aceh meski belum beruntung membawa pulang medali, akan tetapi berhasil mendapatkan dua gelar MN yaitu Dika Ibrahim di kategori terbuka, Klarisa Sabila di kategori wanita dan Jalaluddin Al Mubarak memperoleh gelar MP di kategori terbuka.

Bahkan nyaris menyabet tiga gelar master nasional, namun Teuku Ardiansyah yang juga Sekretaris Umum Pengprov Percasi Aceh yang turut turun bertanding, terpeleset di babak ke 9 atau babak terakhir di catur standar klasik.

Official Tim Aceh tersebut sudah mencetak 5 poin, di babak terakhir bertarung sengit dengan pecatur yang juga memiliki poin 5 berstatus non gelar yakni Wadi S dari DKI Jakarta.

Akhirnya pertarungan hidup mati kedua pecatur ini memperebutkan satu poin lagi di meja 44 untuk mendapatkan gelar master nasional dimenangkan Wadi dan berhak menyandang gelar MN.

Andaikan Teuku dapat gelar MN, cukup keren dan berkelas karena perjalanannya di  pertandingan catur standar ini sempat menghadapi MN Budiman HS dari Sulawesi Barat, Fide Master (FM) Zulkhairi –  pecatur se Tim Aceh –  dan dua International Master (IM) yaitu IM Ivan Situru (Banten), IM Anjas Novita (Jawa Barat). Bahkan  menang dengan Ivan Situru.

Peluang MN

Peluang mendapatkan MN juga dimiliki Hunter Chalid yang juga atlet pemusatan latihan daerah (Pelatda) sebagai persiapan menghadapi PON XXI/2024 Aceh – Sumatera Utara, karena telah mengoleksi 4,5 match poin usai babak ke tujuh, namun tidak dapat menambah point di babak ke delapan.

Pecatur yang sudah beberapa kali ikut Kejurnas ini kalah atas rivalnya David Setiawan dari DKI Jakarta di babak ke -8. Pupuslah peluang Hunter meraih MN.

Menambah 0,5 poin di babak 9, setelah bermain remis dengan Wiwin Sudianto dari Sumatera Selatan, akhirnya Hunter bercokol pada ranking 107 dari hampir 400 peserta yang ambil bagian pada nomor standar ini.

Baru Empat MN di Kejurnas

Dalam sejarah pelaksanaan Kejurnas Catur, sejak yang pertama 70 tahun silam hingga ke-49/2023 di Jakarta, pecatur Aceh pertama kali mendapat gelar Master Nasional yaitu Ali Bahar di Kejurnas ke-33/1999 di Bekasi, Jawa Barat.

12 tahun kemudian atau 2011 Kejurnas ke-42 di Palembang, Sumatera Selatan, Zulkhairi menjadi pecatur Aceh kedua yang meraih gelar MN.

Lalu 12 tahun kemudian lagi atau pada 2023 ini Kejurnas ke-49 di Jakarta, Dika Ibrahim dan Klarisa Sabila menjadi pecatur Aceh ketiga dan keempat yang meraih gelar MN.

Pada Kejurnas ke-35/2002 di Palembang, Sumatera Selatan, M Hendrik Friasayani meraih gelar Master Nasional catur cepat (MNc). Namun setelah itu, MNc tidak diperebutkan lagi dan kabarnya yang telah mendapatkan gelar tersebut dikonversikan ke MN.

Jadi ada empat pecatur Aceh yang berhasil meraih gelar Master Nasional di catur standar pada Kejurnas yaitu Ali Bahar, Zulkhairi, Dika Ibrahim dan Klarisa Sabila.

Raihan dua gelar MN dan satu gelar MP menjadi suatu catatan sukses kepengurusan Pengurus Provinsi Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Pengprov Percasi) Aceh masa bakti 2021 – 2024 di bawah kepemimpinan Ketua Umum, H Ihsanuddin MZ, SE, MM.

Memimpin dan Meja Utama

Pada Kejurnas 49 ini, Percasi Aceh menurunkan empat pecatur Pelatda yaitu FM Zulkhairi, MN Sarmadoli Siringo-Ringo, MN Irwandi dan Hunter Chalid yang semua bertanding di kategori terbuka catur standar, cepat dan kilat.

Tujuh pecatur non Pelatda yaitu Teuku Ardiansyah, Dika Ibrahim (selama ini domisili di Medan, Sumatera Utara), Jalaluddin Al Mubarak (domisili di Jakarta) dan Mirsal Muhardy kategori terbuka. Klarisa Sabila, Intan Nurhidayah (kategori wanita), Galih Syuhada Nur (ketegori yunior putra C (U-15).

Menilik prestasi prestasi di antara para pecatur tersebut yang mengikuti semua nomor pertandingan  catur standar, cepat, kilat di kategori yang berbeda, Sarmadoli berada di peringkat ke-lima catur cepat, Klarisa Sabila peringkat 11 catur standar dan Zulkhairi ranking 15 catur standar. MN Irwandi urutan 127 (catur standar), Pecatur non Pelatda berada di sekitar ranking barisan pertengahan ke bawah.

Bahkan Sarmadoli sempat duduk di meja dua babak ke enam nomor standar dengan poin 4,5 menantang IM Yoseph Teopilus Taher (Kalimantan Tengah). Partai ini dimenang Yoseph.

Sarmadoli naik ke meja dua yang merupakan lingkaran meja utama setelah di babak ke empat mengalahkan pecatur andalan Jawa Timur, FM Catur Adi Sagita, ditahan remis babak ke lima oleh MN Sugeng Prasetyo dari Banten.

Setelah menang di babak ke tujuh di meja 20 atas Rio Herwindo dari NTB, Pecatur Aceh ini naik lagi ke meja enam di babak ke 8 dengan poin 5,5 menghadapi IM Anjas Novita. Pertarungan ini dimenangkan Anjas.

Sarmadoli pun tergusur ke meja 23 di babak 9 dan bermain remis dengan M Yazid Pratama Al Banjari dari Kalimantan Selatan. Sarmadoli akhirnya tersandar di urutan 49 dengan 6 poin.

Catur standar ini, medali emas diraih GM Susanto Megaranto dari Jawa Barat, Yoseph Teopilus Taher medali perak dan Anjas Novita mendapat medali perunggu.

Di catur cepat, Sarmadoli yang unggul tiebreak sempat berada di peringkat teratas usai babak ke lima dengan membukukan poin 5 bersama WFM Norasa Verdiana dari Kalimantan Selatan, Dziththauly Ramadhan (DKI Jakarta) dan Sugeng Prasetyo.

Ia pun duduk di meja dua di babak ke 6 berhadapan dengan Dziththauly Ramadhan. Hasilnya kalah. Terakhir, babak 7 menang atas Rori Muldianto dari Jambi, sehingga mengoleksi 6 poin berada di urutan ke lima mendapat hadiah 1,5 juta rupiah.

Di nomor catur cepat juara 1, 2 dan 3 FM Muhammad Agus Kurniawan dari Jawa Timur, Norasa Verdiana, Dziththauly Ramadhan. Ketiganya memiliki match poin sama 6,5 hanya beda unggul di tiebreak.

Di nomor catur kilat para catur Aceh masih belum maksimal sehingga berada pada peringkat sekitar barisan pertengahan.

Peraih Medali di Kejurnas

Meski menunjukkan geliat persaingan di catur standar, cepat dan kilat,  Tim Catur Aceh mendapatkan dua gelar master nasional, satu gelar MP dan belum mendapatkan lagi medali di Kejurnas.

Dalam sejarah pelaksanaan Kejurnas Catur, sejak yang pertama 70 tahun silam hingga yang ke-49/2023 di Jakarta, Aceh mendapat medali pertama kali di Kejurnas ke-33/1999 di Bekasi, Jawa Barat, yaitu medali perunggu yang dipersembahkan MN Ali Bahar di kategori senior terbuka.

19 tahun kemudian atau 2018 Kejurnas ke-47 di Banda Aceh, Klarisa Sabila memecahkan rekor meraih medali perak meski di kategori yunior putri kelompok C usia 15 tahun.

Baru dua pecatur Aceh yang berhasil meraih medali di Kejurnas yaitu Ali Bahar dan Klarisa Sabila.

Perjuangan pecatur Aceh, terutama atlet Pelatda di Kejurnas 49 sudah maksimal dan hasil yang dicapai itulah yang terbaik. Cukup menjadi acuan untuk segera dievaluasi.

Penulis : Sudirman Mansyur.                    Wartawan Olahraga di posaceh.com.    Aktivis Olahraga Catur di Aceh

Exit mobile version