posaceh.com, Banda Aceh – Ada yang berbeda di Lapangan Putra IMKA, Gampong Ie Masen Kayee Adang, Banda Aceh, Senin (12/10/2026). Jika biasanya riuh turnamen kelompok umur hanya diisi teriakan pelatih, orang tua dan komentator seadanya, tapi kali ini atmosfernya sungguh elegan.
Dari balik sound system, suara berat, lantang, dan penuh energi milik Maimun Fikri mengalun memandu jalannya pertandingan.
Kejuaraan Sepakbola U-12 Pos Aceh Cup dalam rangka HUT ke-14 Media Pos Aceh pun terasa seperti final kompetisi profesional.
Kehadiran komentator kawakan yang identik dengan dunia otomotif Aceh ini menjadi kejutan manis.
Maimun, yang selama ini dikenal sebagai langganan pemandu event balap motor dan mobil, baik roda dua maupun roda empat di Aceh hingga luar daerah, kini turun gunung ke lapangan sepakbola usia dini di Pos Aceh Cup.
Anak-anak yang berlaga di markas SSB Putra IMKA itu pun bermain lebih bersemangat. Setiap umpan terobosan, tekel bersih, hingga gol yang tercipta, dihidupkan dengan narasi yang atraktif.
“Kadang saya selipkan istilah Spanyol dan Italia, biar anak-anak juga familiar dengan atmosfer sepakbola Eropa,” ujar Maimun sambil tersenyum.
Sontak, istilah El Pase, GOOOOOL, Catenaccio, atau Tiki-Taka yang meluncur dari mulutnya membuat perhelatan U-12 ini semakin semarak dan berkelas.
Bagi Maimun, sepakbola bukan dunia baru.
“Sepakbola adalah hobi saya sejak kecil,” katanya kepada posaceh.com di sela jeda pertandingan.
Wawasan luas tentang aturan, regulasi, hingga istilah teknis sudah tidak asing baginya.
Tak heran, ia tak hanya fasih di lintasan balap, tapi juga di lapangan hijau. Jam terbangnya sebagai komentator sepakbola di berbagai turnamen lokal Aceh sudah tak terhitung.
Ia pun memberikan apresiasi tinggi kepada Media Pos Aceh. “Media Pos Aceh luar biasa. Tidak hanya menghadirkan turnamen yang meriah dan menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi panggung pembuktian prestasi bagi pesepakbola masa depan Aceh,” tuturnya.
“Salut, media ini eksis dan konsisten mendukung pembinaan generasi muda. Event seperti ini yang rutin digelar setiap tahun adalah investasi jangka panjang,” tambah Maimun.
Menurutnya, menjadi komentator olahraga tidak sekadar bermodal suara keras. Ada pakem yang harus dijaga.
“Yang utama harus kuasai aturan main dan regulasi, punya wawasan luas. Baru kemudian public speaking, perbendaharaan kosakata, dan olah vokal yang memadai,” jelas pria yang usia tak lagi muda namun energinya tak pernah padam itu.
Bagi Maimun, usia hanyalah angka. Semangat untuk terus menghidupkan atmosfer pertandingan, baik di sirkuit balap maupun di lapangan sepakbola, adalah pengabdian.
Di Lapangan Putra IMKA sore itu, ia bukan sekadar komentator. Ia adalah penyulut semangat, guru kecil bagi pemain U-12 yang bermimpi menjadi bintang masa depan Aceh. (Sdm).











