Nasional

Mahasiswa FTUI Buat Panel Surya Gulung dari Limbah Plastik

1748
×

Mahasiswa FTUI Buat Panel Surya Gulung dari Limbah Plastik

Sebarkan artikel ini

posaceh.com, JAKARTA — Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyatakan Indonesia memang negara dengan mayoritas muslim terbesar. Namun, hal itu tidak membuat Indonesia masuk ke dalam 10 besar industri halal di dunia.

Erick mengatakan negara-negara yang masuk dalam 10 besar industri halal dainataranta yakni Amerika Serikat, China, Taiwan dan Brazil. Menurutnya mereka negara dengan mayoritas non-muslim.

Ia menegaskan bahwa ada yang salah selama ini. Padahal menurutnya, data konsumtif industri halal masuk ke dalam 10 besar di dunia.

DEPOK — Tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) menggagas panel surya gulung dengan memanfaatkan limbah plastik sebagai salah satu komponennya. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Afra Moedya Abadi, Tiffany Liuvinia dan Yosep Dhimas Sinaga dari Departemen Teknik Kimia FTUI angkatan 2020.

Panel gulung ini mereka beri nama Printable Alternative Solar Roll (Parasol). Yosep mengatakan pembuatan Parasol dilatarbelakangi beberapa hal.

“Pertama karena Indonesia menjadi penyumbang limbah plastik terbesar di dunia. Kedua, berkaitan dengan krisis energi terutama dengan panel surya silikon yang beredar di Indonesia masih ada kekurangan,” kata Yosep Dhimas Sinaga dalam keterangannya, Sabtu (19/11/2022).

Dari kedua latar belakang tersebut, mereka tergerak untuk membuat Parasol. Inovasi panel surya alternatif ini dirancang dalam bentuk plastik gulung yang praktis, fleksibel dan semi transparan.Parasol memanfaatkan prinsip perovskite solar cell dengan nilai efisiensi yang mampu bersaing dengan panel surya konvensional

Pemilihan sampah plastik PET (polyethylene terephthalate) dilakukan sebab plastik jenis ini yang paling mudah ditemukan serta didaur ulang dengan biaya yang tidak terlalu tinggi. Hal ini juga selaras dengan prinsip PARASOL yang fleksibel.

Parasol memiliki cara kerja yang mirip seperti panel surya silikon pada umumnya. Perangkat ini bekerja dengan memanfaatkan sinar matahari. Parasol memiliki bentuk yang praktis dan dapat bekerja pada kondisi minim cahaya matahari.

Manufakturnya yang lebih sederhana membuat Parasol memiliki harga jauh lebih terjangkau dibandingkan panel surya konvensional. Selain itu, Parasol merupakan panel surya yang lebih ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah plastik PET sebagai salah satu komponennya.

Selain itu, sampah PET pun merupakan sumber pencemaran tertinggi dari semua jenis sampah plastik. Maka, potensi untuk dimanfaatkan kembali menjadi lebih besar.

Berkat desain Parasol, tim UI berhasil menjuarai kompetisi ESG Symposium 2022 Hacks to Heal Our Planet: ESG Idea Pitching Regional Competition yang diselenggarakan oleh PT Siam Cement Group (SCG).

Pada tingkat nasional, tim UI terlebih dahulu mengalahkan 230 tim dari Indonesia sebelum melaju ke tingkat regional.(Republika.co.id)