News

Mahasiswa dan Panggung Organisasinya

1485
×

Mahasiswa dan Panggung Organisasinya

Sebarkan artikel ini
Putra Kaslin Hutabarat, M.Pd. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh Putra Kaslin Hutabarat

MAHASISWA adalah generasi muda akademis yang menduduki bangku pendidikan tertinggi di Indonesia. Dengan kata lain, mahasiswa dapat dijadikan rujukan percontohan bagi semua peserta didik yang ada dalam dunia pendidikan. Dalam kehidupan sosial dan Negara, mahasiswa dapat dijadikan sebagai Agent Of Change yakni sebagai agen perubahan.

Perubahan yang dimaksud adalah menjadi haluan terdepan bagi masyarakat dan negara dalam melihat dan menata kehidupan sosial dan Negara sesuai dengan yang semestinya. Artinya, mahasiswa selalu dianggap dapat menjadi tulang punggung masyarakat dalam menentang dan meluruskan semua perilaku kehidupan sosial yang tidak sesuai dengan semestinya.

Mahasiswa sebagai agen perubahan tidak serta merta hanya terfokus kepada urusan pendidikannya saja, selaras dengan itu diharapkan mampu memberikan kontribusi yang besar bagi kemaslahatan kehidupan sosial masyarakat dan Negara. Dengan kata lain mahasiswa diharapkan mampu menempatkan dirinya sebagaimana mestinya tujuan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu bidang Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian.

Membentuk Kelompok Diskusi

Secara tidak langsung organisasi mampu menciptakan kelompok diskusi yang rutin untuk menjaga keasrian dan penanaman pengetahuan yang objektif terhadap persoalan sosial, bangsa dan Negara. Selain itu juga diisi dengan kegiatan diskusi pengetahuan yang biasanya diberikan dalam pendidikan formal.

Tidak hanya sampai di situ saja, aktivitas mahasiswa dalam organisasi juga dapat diwujudkan dalam aksi kepedulian sosial, serta penggalangan dana. Aktivitas ini tentunya menimbulkan banyak manfaat, selain melatih diri peka terhadap persoalan sosial juga melatih diri peduli sesama.

Selaras dengan ini, Ahli Sastra dan Sejarawan Indonesia Pramodya Ananta Toer pernah mengatakan “didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan”. Artinya, betapa pentingnya memang organisasi bagi setiap warga masyarakat untuk mewujudkan kepekaan sosial dan perlawanan terhadap penguasa yang dzolim.

Kebiasaan menjadikan diri lebih peka terhadap persoalan sosial menjadikan nilai plus yang tak terhingga nilainya. Namun, harus juga disadari bahwa kemantapan niat juga harus diteguhkan dan diluruskan. Dengan begitu, kegiatan mahasiswa dalam organisasi tidak serta merta difokuskan menuju posisi penting terhadap jabatan.

Dengan demikian, diharapkan jangan ada udang dibalik batu. Artinya kebaikan dan kebijaksanaan mahasiswa yang telah dilatih hanya untuk menduduki jabatan-jabatan penting di masyarakat. Akan tetapi akan lebih bijak jika itu dijadikan sebagai proses pendewasaan diri dalam memimpin.

Jika berbicara tentang pendewasaan diri dalam memimpin maka akan banyak teori yang menyebutkannya. Selain itu juga banyak teori yang menyatakan tentang great individuals (manusia-manusia yang mengubah sejarah). Thomas Charlyle misalnya, adalah seorang penulis buku Hereos and Hero Worshipers (Para pahlawan dan pemujaan pahlawan).

Menurut Carlyle, sejarah adalah biografi manusia besar “history of the world is the biography of the great man”. Pada salah satu bagian dia menulis tentang Nabi Muhammad SAW, The Hero as The Prophet, pahlawan sebagai Nabi. Sebuah pemikiran yang ditujukan kepada sebuah hakikat yang sebenarnya tentang manusia yang patut dijadikan contoh berdasarkaan kepada pengaruh dan konstribusi yang diberikan kepada orang banyak.

Salah satu tipe tokoh-tokoh besar yang diharapkan sekarang, tidaklah mengacu kepada apa yang diharapkan oleh Thomas Charlyle, Abraham Lincoln, Jhon F Kennedy, Soekarno dan Hatta. Sebab berdasarkan zamannya sangat sulit untuk melahirkannya kembali.

Salah satu tipe tersebut adalah tokoh-tokoh yang memiliki kemampuan yang cukup untuk mengubah tatanan kehidupan dan bisa berbuat demi kearifan yang sesuai dengan keadaannya. Mereka mempunyai sesuatu yang istimewa yang membedakannya dengan manusia lain.

Secara tidak langsung, penulis mengarahkan kita bahwa sikap kepemimpinan di zaman sekarang harus dipupuk melalui proses kepemimpinan. Salah satunya dilakukan di dalam organisasi. Maka tidak heran jika hampir semua organisasi kemahasiswaan mengajarkan nilai-nilai ideal terhadap kepemimpinan terkini serta mengacu kepada pemimpin berpengaruh di masa lampau.

Mewarisi Nilai Kepemimpinan

Dari teori tersebut mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mewarisi nilai-nilai kepemimpinan di masa lampau agar berlangsung secara kontinu dan berkelanjutan terhadap generasi berikutnya. Kita dapat mengukur kebesaran seseorang dari sejauh mana kebesarannya itu membayangi generasi berikutnya.

Artinya bahwa memang, pengaruh seseorang sebagai salah satu tokoh yang dapat berpengaruh besar kepada generasi penerusnya, sehingga dapat meniru gaya dan kehidupannya sebagai teladan dalam berbuat.

Beberapa orang menentukan jalannya sejarah untuk waktu yang cukup lama sampai berabad-abad. Mereka memberikan bekas yang abadi di dalam jejak-jejak sejarah, seperti Muhammad SAW, Aristoteles dan sebagainya. Ada juga orang-orang berpengaruh hanya sebentar saja. Kita sering menyebut mereka trend setter.

Terkadang, pengaruh ini pun hanya pada satu bidang saja, sehingga tidak terlalu mempengaruhi tatanan kehidupan sosial yang besar. Dengan demikian kebesaran seseorang dianggap lebih sekadar inspirasi belaka dalam memecahkan persoalan yang ada, melainkan menjadi acuan seseorang dalam membentuk tatanan sosial untuk generasi berikunya.

Banyak anggapan bahwa tingkat kecerdasan mahasiswa dapat juga diperoleh melalui proses berorganisasi. Selaras dengan itu, memang di dalam aktivitas organisasi mahasiswa ditekankan untuk mampu menciptakan ide serta gagasan murni yang datang dari inisiatif pikiran. Sehingga secara tidak langsung mampu mencetak pemuda yang tanggap akan suatu persoalan.

Maka tidak salah jika banyak anggapan yang menyebutkan demikian, namun yang perlu diingat adalah bagaimana terjadinya keselarasan juga antara mahasiswa dan pendidikan sebagai wujud tanggung jawab seorang anak kepada orang tua dan diri sendiri.

Terkadang di antara kita semakin asyiknya diri dalam berorganisasi menyebabkan studi di kampus tertinggal dan terlalaikan. Sebagai mahasiswa yang bijak akan hal itu, sudah semestinya ada keseimbangan antara organisasi dan pendidikan. Hidup Mahasiswa!!!

Putra Kaslin Hutabarat, M.Pd., Dosen Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.