Wisata

Likok Pulo dari Pulo Aceh, Tarian Jelang Musim Panen Tiba

464
Tari Likok Pulo yang penuh dengan gerakan aktraktif, dimainkan dengan posisi duduk bersimpuh, berbanjar atau bahu membahu, yang dulu sering dilaksanakan pada malam hari. (Foto: Dok. Acehbesarkab.go.id)

posaceh.com, Banda Aceh – Tari Likok Pulo adalah sebuah tarian tradisional yang berasal dari AcehIndonesia. “Likok” berarti gerak tari, sementara “Pulo” berarti pulau. Pulo di sini merujuk pada sebuah pulau kecil di ujung utara Pulau Sumatra yang juga disebut Pulau Breuh, atau Pulau Beras.

Tarian ini lahir sekitar tahun 1849, diciptakan oleh seorang ulama tua berasal dari Arab yang hanyut di laut dan terdampar di Pulo Aceh. Tari ini diadakan sesudah menanam padi atau menjelang musim panen padi, biasanya pertunjukan dilangsungkan pada malam hari bahkan jika tarian dipertandingkan dapat berjalan semalam suntuk sampai pagi.

Tarian dimainkan dengan posisi duduk bersimpuh, berbanjar, atau bahu membahu.

Seorang pemain utama yang disebut cèh berada di tengah-tengah pemain. Dua orang penabuh Rapa’i berada di belakang atau sisi kiri dan kanan pemain. Sedangkan gerak tari hanya memfungsikan anggota tubuh bagian atas, badantangan, dan kepala.

Tari Likok Pulo diciptakan oleh seorang ulama kharismatik dari Arab yang menurut informasi sejarah pernah terombang-ambing di laut yang akhirnya terdampar di Pulo Aceh. (Foto: Dok. Ist)

Gerakan tari pada prinsipnya ialah gerakan oleh tubuh, keterampilan, keseragaman atau kesetaraan dengan memfungsikan tangan sama-sama ke depan, ke samping kiri atau kanan, ke atas, dan melingkar dari depan ke belakang, dengan tempo mula lambat hingga cepat.

Gerak Tari Likok Pulo komposisinya dimulai dengan gerakan salam anggukan kepala dan tangan yang diselangi gerakan pinggul. Ritme tarian saling membentang dan seling ke kiri dan ke kanan sambil melantunkan syair-syair pujian kepada Sang Khalik yang diiringi dengan musik Rapai dan vokalis nyanyian syair Aceh.

Seorang pemain utama yang disebut ceh berada di tengah-tengah pemain. Dua orang penabuh rapa’i berada di belakang atau sisi kiri dan kanan pemain. Sedangkan gerak tari hanya memfungsikan anggota tubuh bagian atas, badan, tangan, dan kepala.

Tari Likok Pulo memiliki kemiripan dengan tarian asal Gayo, pemain utama yang berada di tengah pemain pada tari Likok Pulo sering dikenal dengan sebutan cèh. Sedangkan dua orang pemain lain yang berada di belakang bertugas menabuh rapa’i. Pada bagian penarinya lebih difokuskan pada seni gerakan yang trampil dan penuh ritme keselarasan yang memukau.

Perpaduan antara gerakan yang menyandingkan satu tangan penari dengan pasangan lainnya seolah menjadikan barisan laksamana roda yang berputar dan elok dipandang mata menjadikan tarian ini sangat populer bahkan di kancah internasional. (Adv)

Exit mobile version