Opini

Like Banyak, Gagasan Sedikit: Mahasiswa dan Krisis Pemikiran di Era Viral

719
×

Like Banyak, Gagasan Sedikit: Mahasiswa dan Krisis Pemikiran di Era Viral

Sebarkan artikel ini
Lusi Yati (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh Lusi Yati*

SEKARANG dunia kampus bukan lagi cuma soal nilai atau IPK tinggi, tapi juga soal eksistensi di dunia maya. Banyak mahasiswa yang lebih bersemangat membuat konten TikTok, vlog harian, atau unggahan estetik di kafe ketimbang fokus menulis makalah atau membaca jurnal. Fenomena ini bukan sekadar tren, tetapi tanda bahwa arah minat berpikir mahasiswa sedang bergeser.

Teknologi memang memudahkan banyak hal. Belajar bisa dari mana saja, tugas bisa dikumpulkan lewat ponsel, bahkan mencari referensi tinggal ketik di Google. Namun, di balik kemudahan itu, ada gejala baru yang mengkhawatirkan—mahasiswa makin aktif di media sosial, tapi makin jarang berpikir mendalam. Kita sering sibuk membuat citra, tapi lupa membangun gagasan.

Kalau dulu mahasiswa dikenal karena idealismenya, semangat berpikir kritisnya, dan keberanian menyuarakan pendapat, sekarang yang sering muncul di timeline adalah siapa yang paling lucu, paling ramai, atau paling update. Fenomena “like banyak, gagasan sedikit” ini bukan sekadar persoalan media sosial, tapi tanda bahwa budaya berpikir mulai kalah oleh budaya instan.

Budaya Viral, Gagasan yang Hilang

Dulu mahasiswa adalah simbol intelektual muda yang berani melawan ketidakadilan. Gagasan mereka lahir dari ruang diskusi, bukan dari kolom komentar. Tapi sekarang, banyak mahasiswa yang takut berbeda karena khawatir tidak diterima. Pikiran kritis tergeser oleh keinginan untuk viral. Kita lebih cepat berkomentar dari pada menganalisis, lebih cepat share dari pada membaca tuntas.

Contohnya mudah ditemukan. Saat dosen bertanya di kelas, banyak yang diam. Tapi begitu di story atau comment section, opini bermunculan ramai—meski kadang tanpa dasar, hanya ikut tren. Fenomena ini mencerminkan betapa cepatnya mahasiswa bereaksi, tapi lambat dalam refleksi. Padahal, berpikir kritis itu bukan tentang siapa yang paling cepat bicara, tapi siapa yang mau mencari tahu lebih dalam.

Mahasiswa zaman sekarang lebih mudah menyuarakan pendapat lewat media sosial ketimbang ruang akademik. Tidak salah, tapi kalau opini hanya berhenti di unggahan tanpa pembacaan, penelitian, atau pemahaman, maka yang kita hasilkan bukan perubahan, melainkan kebisingan digital.

Teknologi sebenarnya adalah peluang besar. Dengan satu klik, kita bisa membaca jurnal dari luar negeri, menonton kuliah dari profesor ternama, atau berdiskusi lintas negara. Tapi sayangnya, kemudahan itu sering membuat kita malas berpikir.

Sekarang hampir semua tugas bisa diselesaikan lewat AI, semua opini bisa dicari di internet, semua jawaban bisa muncul dalam hitungan detik. Akibatnya, kita tahu banyak hal, tapi hanya di permukaan. Seolah-olah pintar, padahal hanya pandai menyalin informasi.

Saya juga pernah merasakan hal itu. Kadang memang lebih mudah membuka ChatGPT atau mencari template tugas daripada menulis dari nol. Tapi dari situ saya sadar, proses berpikir itu yang sebenarnya membentuk pemahaman. Tanpa melewati kebingungan dan pencarian, kita tidak benar-benar belajar. Kita hanya menjadi “pengguna informasi”, bukan “penghasil pemikiran”.

Mahasiswa di Persimpangan Digital

Mahasiswa sekarang berada di persimpangan antara kenyamanan digital dan tantangan intelektual. Kita punya dua pilihan: tenggelam dalam arus cepat dunia viral, atau berenang melawan arus dengan berpikir kritis. Pilihan itu akan menentukan apakah kita menjadi generasi yang hanya pandai scrolling atau generasi yang mampu menulis sejarah.

Masalah krisis pemikiran ini tidak bisa hanya disalahkan pada mahasiswa. Sistem pendidikan juga punya peran. Banyak kampus yang terlalu fokus pada target administratif—tugas, laporan, presensi—tapi kurang memberi ruang bagi mahasiswa untuk berpikir bebas.

Kita sibuk dengan jadwal, sibuk mengejar nilai, sibuk mengerjakan tugas formalitas. Tapi kapan terakhir kali kita membaca karena ingin tahu, bukan karena disuruh? Kapan terakhir kali berdiskusi karena ingin paham, bukan karena ingin nilai tambahan?

Kampus seharusnya menjadi ruang yang menumbuhkan rasa ingin tahu. Tempat di mana mahasiswa bebas berpikir, berdialog, dan menulis tanpa takut salah. Tapi kenyataannya, banyak ruang itu kini sunyi. Diskusi digantikan scrolling, debat ilmiah digantikan duet konten.

Padahal semangat berpikir bisa dimulai dari hal sederhana: membaca bukan karena perintah, berdiskusi bukan karena tugas, menulis bukan karena deadline. Mahasiswa seharusnya punya ciri khas berpikir kritis, terbuka, dan berani berbeda. Dunia digital memang cepat, tapi bukan berarti kita harus ikut terburu-buru. Kadang, berpikir pelan justru membuat kita lebih paham dan lebih bijak.

Saatnya Mahasiswa Kembali Menyalakan Akal Sehat

Kita hidup di zaman ketika semua orang bisa berbicara, tapi hanya sedikit yang benar-benar berpikir. Dunia digital memberi ruang untuk semua suara, tapi tanpa nalar, ruang itu hanya menjadi tempat gaduh.
Padahal sejarah mencatat, perubahan besar selalu dimulai dari pemikiran mahasiswa — bukan dari viralitas, tapi dari visi.

Dulu, ide-ide besar lahir dari ruang sederhana: dari warung kopi, dari ruang diskusi di sekretariat organisasi, dari debat panjang antara teman satu angkatan. Sekarang, ruang-ruang itu mulai sepi karena tergantikan oleh notifikasi dan scrolling endless.

Menjadi mahasiswa di era digital bukan berarti menolak teknologi, tapi menempatkannya secara bijak. Teknologi harus menjadi alat bantu, bukan pengganti otak. Kalau semua jawaban hanya kita ambil dari internet tanpa proses berpikir, maka kita kehilangan jati diri sebagai pencari ilmu.

Mahasiswa harus kembali berani mempertanyakan, menggugat, dan menganalisis. Jangan hanya puas dengan pengetahuan instan. Tugas kita bukan hanya lulus dan bekerja, tapi juga memberi arah pada masa depan bangsa melalui ide dan gagasan.

Di tengah budaya viral yang menuntut keseragaman, berpikir berbeda sering dianggap aneh. Tapi justru dari perbedaan itulah muncul kemajuan. Kampus seharusnya jadi ruang aman untuk berpikir kritis tanpa takut dikucilkan.

Berpikir kritis bukan berarti selalu melawan, tapi berani bertanya “mengapa”. Kenapa sistemnya seperti itu, kenapa masyarakat berpikir begini, kenapa kita melakukan hal yang sama berulang-ulang tanpa perubahan.

Kita harus berani tidak populer demi gagasan yang benar. Sebab ide-ide besar sering kali lahir dari orang yang berani melawan arus. Dan ingat, tidak semua yang viral itu benar, dan tidak semua yang benar harus viral.

Menumbuhkan Budaya Intelektual

Sudah waktunya kampus menghidupkan kembali budaya intelektual. Dosen dan mahasiswa bisa duduk sejajar dalam forum diskusi. Perpustakaan bukan lagi tempat mencari referensi karena terpaksa, tapi ruang inspirasi untuk menggali gagasan.

Mahasiswa perlu menulis, bukan sekadar untuk tugas, tapi untuk menyuarakan pikiran. Tulisan adalah bukti bahwa kita berpikir. Semakin sering kita menulis, semakin tajam cara kita memandang dunia.
Kita perlu lebih banyak forum diskusi, lebih banyak klub baca, dan lebih banyak ruang berekspresi yang sehat. Karena dari sanalah lahir semangat intelektual baru yang mampu melawan budaya instan yang meninabobokan.

Menjadi mahasiswa bukan hanya soal mengejar nilai, tapi soal memberi nilai. Dunia memang sibuk mengejar viral, tapi mahasiswa sejati harus mengejar visi. Karena viral hanya bertahan sebentar, sedangkan gagasan bertahan selamanya.

Mahasiswa yang berpikir adalah mereka yang menyalakan api kecil dalam gelapnya kebiasaan instan. Mereka tidak takut sepi, karena tahu bahwa ide sejati butuh waktu untuk tumbuh.

Kita bisa punya ribuan followers, tapi tanpa gagasan, semua itu kosong.
Kampus bukan tempat untuk sekadar menuntut ilmu, tapi ruang untuk menyalakan nalar dan imajinasi.

Mari kita mulai lagi belajar untuk berpikir, bukan hanya menggugurkan kewajiban. Karena generasi mahasiswa yang benar-benar berpengaruh bukan yang paling sering muncul di layar, tapi yang mampu menyalakan gagasan dari pikirannya sendiri.

* Lusi Yati, Mahasiswi Prodi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.