posaceh.com, Kota Jantho — Kondisi Babah Kuala yang semakin dangkal membuat para nelayan kesulitan melaut, di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Kamis (1/10/2026).
Pendangkalan tersebut tidak hanya menghambat aktivitas nelayan, tetapi juga mengancam keselamatan saat perahu keluar maupun kembali ke daratan.
Para nelayan harus menyesuaikan waktu melaut dengan kondisi pasang surut air laut. Nelayan yang berangkat sejak subuh terpaksa mempercepat perjalanan pulang karena Babah Kuala sulit dilalui ketika air mulai surut.
Jika terlambat kembali, perahu tidak dapat masuk ke kuala. Nelayan terpaksa menunggu hingga air laut kembali pasang pada malam hari agar dapat mencapai dermaga.

“Kita saat melaut mulai sejak subuh, maka harus kembali ke dermaga saat siang. Jika tidak, harus menunggu air pasang saat malam,” ungkap Agus, nelayan yang telah melaut di kawasan Lhoknga selama sekitar enam tahun.
Kondisi tersebut juga menyebabkan sejumlah perahu mengalami kerusakan ketika dipaksakan melewati jalur kuala yang dangkal.
“Kalau dipaksakan untuk dilalui, perahu bisa nyangkut, bocor, bahkan patah weng,” kata Agus, pria asal Aceh Selatan yang kini menetap di Aceh Besar.
Menurut Agus, pendangkalan Babah Kuala sudah menjadi persoalan yang dirasakan nelayan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut membuat nelayan tidak lagi leluasa menentukan waktu berangkat dan pulang melaut.
“Sekarang kalau pergi pagi, terpaksa pulang sebelum air surut. Kalau tidak, kita bisa tertahan di luar sampai malam menunggu air pasang,” ujarnya.

Senada itu, Zulfan mengatakan, pendangkalan kuala bukan persoalan baru. Namun, hingga kini kondisi tersebut belum tertangani secara optimal.
“Dangkalnya sudah lama. Tapi sampai sekarang belum pernah benar-benar ditangani sehingga semakin sulit dilalui,” kata nelayan asli Lhoknga yang telah melaut sejak 2003 silam itu.
Ia berharap kondisi babah kuala mendapat perhatian karena jalur tersebut merupakan akses utama nelayan untuk keluar melaut maupun kembali ke daratan.
Menurut Zulfan, pendangkalan tidak hanya berdampak terhadap waktu melaut, tetapi juga meningkatkan risiko kerusakan perahu. Nelayan harus ekstra hati-hati saat memasuki kuala, terutama ketika air laut mulai surut.

“Dalam kondisi normal saja, kita harus memastikan jalur kecil yang dilalui benar-benar tidak dangkal dengan cara berkelok-kelok. Kalau ada ombak, bisa-bisa malah nyangkut karena jalurnya memang sangat kecil. Kalau air laut surut, memang sama sekali tidak dapat dilalui,” terang Zulfan sambil memperbaiki perahunya.
Para nelayan berharap pemerintah segera menangani pendangkalan Babah Kuala tersebut sehingga akses keluar-masuk perahu kembali normal. Penanganan dinilai penting untuk menjaga kelancaran aktivitas melaut sekaligus mengurangi risiko kecelakaan dan kerusakan perahu.(Why)











